PART 9

1.5K 89 14
                                        

"Tenang baru tujuh kali kok.
Belom seratus kali."

Happy Reading❤

•~•~•~•

Keadaan kelas masih sepi. Hanya ada beberapa siswa/siswi yang berkelibat. Ia bernotaben teladan.

Menjadi bagian dari mereka membuat Anneth merasa cangung. Bagaimana tidak, siswa teladan rata-rata sedikit bicara dan sekali bicara sudah pasti membicarakan pelajaran.

Andai saja hari ini tugas fisika tidak wajib di kumpulkan pasti Anneth akan lebih bisa menikmati roti panggang tiga rasa. Sial, pak Aldo mengancam akan menambah hukuman jika ia tidak mengumpulkan tugas yang sudah lewat masa aktif.

"Sekalian aja suruh gue berangkat subuh," lontar Anneth tanpa menoleh dari kegiatan menyalinnya. Lontaran itu jelas tertuju untuk gadis berkepang dua di depan bangku.

Lifia melirik, namun tangannya masih sibuk mengotak-atik ponsel. "Ih bawel banget si lo Neth. Terusin aja dah sana. Keburu pak Aldo datang tau," jawabnya terdengar menggelikan sembari mengibas-kibaskan kepangan.

Perlahan satu persatu bangku terisi. Riuh kelas mulai muncul semenjak geng Clinton Cs bergosip ria. Begitu pula dengan Joa dan Charissa yang sudah datang.

"Sini gue bantuin." Joa mengambil alih buku tulis Anneth. Tetapi tertahan.

"Gak. Gue kapok." ia kembali mengambil bukunya. Lantas meneruskan kembali menggerakan pena di atas kertas.

Disisi lain Joa dan Charissa saling bertatap, bingung.

Dahi Charissa mengernyit. "Kapok?"

"Pak Aldo udah tau gimana tulisan tangan kalian," jawab Anneth sekadarnya. Ia berdecak kesal. "Lo gak inget gimana pak Aldo hukum gue?"

Ingatan kembali pada beberapa hari lalu. Hari dimana Anneth harus menghitung berapa banyak daun yang jatuh di taman sekolah selama tiga hari berturut-turut. Dan bisa dibayangkan berapa jumlah daun jika SMA Citra Bangsa salah satu sekolah bergelar adiwiyata.

Andai saja pak Aldo tidak mengawasi. Mengarang jumlah daun itu sudah dilakukan sejak awal.

"Lo sih tugas lima bab gak pernah lo kerjain," omel Joa

"Masa udah jaman now masih ngerjain Pr," decaknya jengah

"Meskipun kids jaman now lo harus ngerjain tugas. Tugas kan kewajiban murid dan tugas juga cara biar kita belajar. Jadi dengan ngerjain tug-"

"Hust!" perintah Anneth menempelkan jari telunjuk di ujung bibir, meminta agar Joa segera diam. Ia kembali menekuni kegiatan paling membosankan.

"Masih kurang banyak lagi." Anneth berdecak sebal. Jarinya sudah terasa sangat pegal menyalin tugas berlembar-lembar.

Ia menyenderkan kepala di atas meja dengan tangan melipat menutupi kepala. Pening. Ia merasa sudah menulis berpuluh-puluh kata, namun tak kunjung selesai. Bayangan hukuman dari pak Aldo mengiyang memutari kepala. Wajah dengan sekaligus menegangkan pak Aldo menghiasi benak.

Ehem!

Deheman pelan membuat gadis itu terkesiap. Ia mendongak.

I Love YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang