Level 15

231 62 9
                                        

“Pura puralah mencintaiku, berpura puralah aku adalah milikmu” Sekali lagi Taemin ingin egois, ia ingin tau bagaimana rasa cintanya berbalas meskipun hanya pura pura, “Bisakah?” lelaki berkaca mata itu memohon, Jonghyun kan jadi tidak tega.

Jonghyun memeluk Taemin tanpa aba aba. Ia memutuskan untuk mengikuti permainan Taemin saja, toh teman temannya juga sedang sibuk bersama kekasih masing masing.

Kalau ada Taemin kan setidaknya ia tidak kesepian. Baiklah, ia akan menyesuaikan seperti apa yang Taemin minta sebelum pergi ke Swiss.

Taemin membalas pelukan Jonghyun dengan senang hati, menegakkan tubuhnya agar Jonghyun nyaman didada bidangnya. Kedua tangannya juga sudah melingkari posesif tubuh kurus Jonghyun.

Jadi begini rasanya berpelukan dengan seseorang yang kau cintai? Rasanya nyaman dan berdebar debar, Taemin tidak ingin melepaskan pelukan ini.

...

“Suara bel ini benar benar membosankan” gerutu Youngmin seraya mengangkat tangannya tinggi tinggi sebentar, lalu memasukkan asal buku bukunya ke dalam ransel.

“Aku lapar, ingin makan ramen instan” komentar Seongwoo tidak berkorelasi dengan gerutuan Youngmin.

“Masuk sekolah, pergantian jam, jam istirahat, jam pulang semuanya memainkan nada yang sama. Kita sudah mendengarkannya hampir selama dua tahun. Aku juga bosan mendengarnya” timpal Sanggyun.

“Mau menggantinya?” tawar Jonghyun santai, seakan mengganti bel sekolah sama dengan mengganti ringtone ponsel.

Ketiga lelaki itu menatap Jonghyun sangsi selama beberapa detik sebelum mengagguk dan menyeringai usil. Anggap saja mereka berempat sedang merindukan ruang konseling.

Dan benar saja, Jonghyun, Sanggyun, Seongwoo, Youngmin kembali berurusan dengan guru konseling. Empat sahabat itu baru saja melakukan keseruan kecil. Kecil kok, bagi mereka.

Hanya menyabotase bel pulang sekolah, mengganti nada monoton itu menggunakan lagu skrillex, dengan alasan mereka bosan mendengar suara yang sama selama dua tahun berturut turut.

Lagu skrillex lebih asyik, dan lagu lagu EDM sejenisnya, itu favorit mereka saat mengunjungi club malam. Tapi anehnya, mereka lolos dari hukuman kali ini, bahkan buku pelanggran mereka juga aman.

Keempatnya bertanya dalam hati, tidak biasa mereka tidak diberi hukuman. Rasanya agak mustahil kalau tidak disuruh membersihkan seluruh toilet sekolah, atau lari keliling lapangan outdoor 30 kali.

Mereka masih  berdiam diri di taman sekolah sampai dua pangeran Seongwoo dan Youngmin menjemput mereka. Tidak lama kemudian Sanggyun ikut bangkit setelah mendapat lambaian dari Kenta di lobby gedung utama.

Helaan nafas kasar terdengar dari mulut Jonghyun, lantas ia merebahkan tubuhnya di rerumputan hijau, meletakkan lengan kanannya menutupi mata dari silaunya matahari sore.

“Mana ucapan terima kasih untuk ksatria yang menolongmu sayang?” sergah seseorang disamping Jonghyun.

Tanpa membuka matapun ia tau siapa pemilik suara tersebut, itu Taemin.

"Apa?” gumam Jonghyun.

“Kau tidak di hukum atas tindakan sabotasemu bersama teman temanmu kan?” Terka Taemin.

Kalimat Taemin barusan mampu menarik atensi Jonghyun, ia menyingkirkan lengan dari matanya.

"Bagaimana kau tau?” detik berikutnya Jonghyun merubah posisi menjadi duduk, kepalanya mendongak lucu.

Taemin jadi gemas, begini yang katanya ingin jadi seme? Ia saja tidak menyadari kalau tingkah polahnya kadang terlihat menggemaskan.

Taemin mengulurkan tangan, seakan mengajak Jonghyun untuk bangkit, “Temani aku ke pinggir lapangan, aku haus” dan Jonghyun dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut, mereka berjalan beriringan.

“Itu aku yang minta ke guru konseling agar tidak menghukummu” Taemin menjawab setelah Jonghyun mengajukan pertanyaan yang sama, ‘bagaimana kau tau?’

Lalu ia memutar kran air dan mulai meminum air mengalir itu. Jonghyun hanya menopang kepala dengan kedua tangan, sikunya ia tumpukan pada tembok pembatas yang hanya setinggi dada, berhadapan langsung dengan Taemin –yang sekarang sedang menunduk untuk minum-

“Benarkah? Bagaimana bisa? Memangnya kau ini anak kepala sekolah?” cerca Jonghyun.

“Bukan sih, aku cuma anak direktur pemilik sekolah ini” Taemin berkata begitu seraya melepas kaca mata bulatnya, karna benda itu ikut basah saat sedang minum tadi.

Bibir Jonghyun terbuka beberapa centi, kaget karna identitas Taemin dan karna terpesona melihat wajah Taemin tanpa kaca mata bulat membosankannya, belum lagi ia menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Ingatkan Jonghyun untuk tidak terpesona lebih jauh.

“Karna aku akan segera berangkat ke Swiss, aku akan membuat pengakuan” Taemin memecah keheningan, ia mengenakan lagi kaca matanya, “Sebenarnya aku juga memvotingmu sebagai hot uke beberapa waktu lalu” senyuman jahil tersungging di bibir tipisnya, kemudian lari sekencang yang ia bisa untuk menghindari amarah Jonghyun.

Jonghyun?

Jangan ditanya lagi, ia jadi ingin merealisasikan sumpahnya saat pertama kali poster sialan itu terpasang.

TBC

Makasih banyak dukungannya yorobun~

1995 | PRODUCE 101 S2 1995 lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang