"Apa dia sudah punya kekasih? Bagaimana kalau kita bertaruh untuk mendapatkannya?" usul Youngmin yang terdengar sangat tidak manusiawi di telinga Seongwoo. Tanpa mereka ketahui, ia memutar bola mata kesal.
"Boleh" pekik Sanggyun dan Jonghyun antusias.
"Jangan jadikan manusia sebagai bahan taruhan, tuan tuan" Seongwoo menyela dan mengutarakan ketidaksukaannya. Setelah itu ia menyedot kembali susu pisangnya hingga kotak kardus itu mengkerut.
"Hey kalian, guru kimia meminta kalian ke ruangannya sekarang, dan bawa juga buku point" tegur salah seorang teman sekelas mereka tanpa mau repot repot berbasa basi.
"Baiklah setelah ini kami kesana, terima kasih" balas Sanggyun ramah. Youngmin, Seongwoo dan Jonghyun mendengus kesal. Buku catatan kriminalnya akan bertambah isi setelah ini.
"Oh tidak! sepertinya hukuman sedang menanti kita" gerutu Seongwoo lemas.
...
Seongwoo, Youngmin, Sanggyun dan Jonghyun tersenyum remeh bersamaan setelah keluar dari ruang guru. Alasan dibalik semua itu adalah karena buku catatan kriminal mereka tidak jadi ternoda.
Guru kimia itu baru saja membuat penawaran menarik untuk empat sahabat ini. Jika mereka bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang guru, maka beliau akan memaafkan mereka dan tidak akan menulis pelanggaran mereka di buku catatan kriminal.
Tanpa berpikir dua kali, tentu mereka menyetujuinya. Keempatnya menjawab dengan lancar rumus rumus senyawa kimia yang diajukan. Anak seorang pejabat seperti mereka tentu tidak mungkin punya otak kosong kan? guru ini terlalu meremehkan.
Setelah keluar dari ruang guru, mereka memutuskan untuk duduk di taman depan kelas. Pembatas taman dengan lantai yang memang difungsikan sebagai tempat duduk menjadi pilihan mereka.
Jam istirahat masih tersisa dua puluh menit, waktu yang mereka rasa lumayan untuk memberi hukuman pada Jonghyun. Lelaki pemilik senyum menenangkan itu kalah sebanyak tiga kali ketika bermain kartu di kelas, ingat?
Jonghyun sempat menolak melakukan hukumannya, ia terus mengelak bahwa ia sedang tidak bersemangat untuk menyatakan cinta -meskipun hanya main main-.
Sanggyun tetap memaksa, Jonghyun terus terusan menolak lagi, malah ia mengajak bertanding ulang. Lantas Seongwoo menjitak kepala Jonghyun, memangnya mereka mau ditegur lagi karena bermain kartu di sekolah?
"Ayolah dude, kau hanya perlu menyatakan cinta. Kalau dia menerima cintamu kau bisa memutuskannya besok pagi. Simple kan?" bujuk Sanggyun.
"Simple pantatmu! Aku sama sekali tidak punya pengalaman tentang cinta, dan selama 17 tahun aku hidup aku tidak pernah menyatakan cinta pada seseorang" Jonghyun berdecak sebal menjawab pernyataan Sanggyun.
"APA?" tanya Youngmin dan Sanggyun histeris. Seongwoo biasa saja, karena ia juga tidak pernah merasakan cinta atau tertarik dengan lawan jenis.
"Baiklah tuan, aku akan memberikan contoh untukmu. Begini, kau hanya perlu memanggil namanya, setelah dia berhenti kau tinggal bilang, 'aku menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?', seperti itu" jelas Youngmin, lengkap dengan gesture yang meyakinkan agar Jonghyun mau menyelesaikan misi hukumannya.
"Ya sudah aku akan menuruti kemauan kalian, dasar pemaksa" Jonghyun menerang frustasi seraya mengusap muka kasar.
"Ini bukan kemauan kami, tapi ini kesepakatan kita diawal permainan. Ku harap kau tidak melupakannya Tuan Kim" balas Sanggyun dengan wajah sok sok merasa bersalah.
Keempat anak manusia tersebut mulai menghitung dan mengamati setiap orang yang lewat. Karena kesepakatan di awal, si kalah harus menyatakan cinta pada orang ke sepuluh yang lewat didepan mereka.
Seongwoo memainkan kakinya bosan, letak tempat duduk mereka yang kurang strategis dan jauh dari keramaian membuat jalanan itu jarang dilalui oleh siswa. Tidak dekat dengan taman, kantin, toilet, ataupun gerbang sekolah. Jonghyun sendiri berharap tidak akan ada orang ke sepuluh yang lewat didepannya hingga jam masuk berdering.
Segerombol siswi berjumlah empat orang baru saja melintas didepan mereka. Itu artinya mereka masih butuh enam orang lagi untuk mendapatkan orang ke sepuluh.
Namun tak lama kemudian seorang siswa kelas dua berlari, diikuti dengan seorang siswa yang lain dibelakangnya, dua siswa itu seperti sedang bermain kejar kejaran. "Enam" gumam Seongwoo.
"Hey, kenapa kau menghitung siswa laki laki?" protes Jonghyun.
"Memangnya kenapa? bukankah kesepakatan kita menghitung hingga orang kesepuluh lewat? mereka berdua juga termasuk manusia, tidak ada batasan dalam kesepakatan kita" Seongwoo berkata seenaknya, membuat Jonghyun membelalakkan mata tanpa bisa berkata kata.
"Itu benar" Youngmin menjentikkan jarinya, setuju dengan Seongwoo.
"Ya Tuhan, ku harap orang kesepuluh bukan seorang lelaki. Aku masih normal" Jonghyun bermonolog frustasi.
Seorang lelaki paruh baya membawa ember dan kain pel berhenti didepan mereka, bermaksud membersihkan lantai yang mulai kusam. Lelaki berprofesi cleaning service tersebut adalah orang ketujuh.
Mereka membutuhkan tiga orang lagi secepatnya, karena lima menit lagi bel masuk akan berdering. Namun dewi keberuntungan sepertinya sedang tidak memihak pada Jonghyun, wakil kepala sekolah dan guru konseling telah berlalu dari hadapan mereka beberapa detik lalu. Satu orang lagi dan Jonghyun akan menjalankan misinya.
"Mau bertaruh? menurut kalian orang kesepuluh akan berjenis kelamin apa?" tawar Seongwoo memecah keheningan.
"Boleh, aku pilih perempuan" Sanggyun langsung menjawab tanpa berpikir, hanya mengikuti feelingnya saja.
"Aku juga" begitu juga Youngmin.
"Baiklah, aku pilih laki laki. Yang kalah akan mendapatkan hukuman, deal?" putus Seongwoo, kedua tangannya menengadah ke sisi kiri dan kanan.
"Deal" Sanggyun dan Youngmin menepuk telapak tangan Seongwoo, tanda kesepakatan.
Saking asyiknya menerka nerka tentang jenis kelamin si orang ke sepuluh, mereka tidak menyadari seseorang telah mendekat ke arah mereka. Jonghyun tersenyum, diikuti Youngmin dan Sanggyun. Seongwoo berharap harap cemas agar orang itu berbelok melewati tangga, namun harapannya tidak terkabul.
Seseorang berjenis kelamin perempuan itu berjalan dengan membawa beberapa buku diktat di tangan kirinya. Perempuan itu cantik, tapi lebih tua beberapa tahun dari remaja remaja tersebut. Miss Yumi, guru modis yang kebetulan mengajar bahasa Inggris di kelas mereka.
"Miss Yumi" Jonghyun memberanikan diri untuk menginterupsi langkah Miss Yumi.
Ekspresi gugup tak bisa lagi ia sembunyikan, tangan dan kakinya bergerak gelisah. Sementara itu, tiga teman kurang ajarnya sedang merekam aksi Jonghyun dengan kamera ponsel Youngmin.
"Ada apa Mr. Kim?" Guru bertubuh mungil itu berhenti, kemudian menatap heran wajah gugup Jonghyun.
"Miss, aku-- sebenarnya-- sebenarnya aku menyukaimu" mulut Jonghyun terbata bata mengucapkannya. Lelaki itu sempat merasa tidak bisa bernafas beberapa detik.
TBC
Selamat lebaran semuanya~
KAMU SEDANG MEMBACA
1995 | PRODUCE 101 S2 1995 line
Random[COMPLETED] 60% FRIENDSHIP • 30% BOYS LOVE • 10% COMEDY empat siswa pembuat onar di sekolah yang hobi bertaruh kapanpun dan dimanapun. fanfiksi ini mengandung unsur friendship dan slice of life -atau mungkin sedikit boys love- antar trainee produce...
