Level 12

244 72 8
                                        

"Kenta" balas Dongho menyebut nama si orang asing.

Dongho mengenalnya, dia Takada Kenta, satu satunya siswa berkebangsaan Jepang disekolah sekaligus teman sekelasnya.

Lelaki bernama Kenta itu lantas menatap Dongho dan seorang lelaki yang terkapar di tanah.

"Ya Tuhan, Sanggyun!" tidak mungkin Kenta tidak mengenali orang yang selama ini terbayang bayang di pikirannya, meskipun keadaannya sudah babak belur tidak karuan.

"Kebetulan kau ada disini. Bawa bajingan ini ke klinik" perintah Dongho.

Dongho berdiri, menyeka darahnya sendiri dan membersihkan debu debu yang menempel di seragamnya, "Aku harap kau tidak mengadukannya pada siapapun" tangan kananya sudah menyambar ransel, meninggalkan Kenta dan Sanggyun berdua.

Kenta panik. Tentu saja ia panik melihat seseorang yang diam diam ia sukai terkulai lemas penuh darah dipangkuannya.

Sanggyun masih sadar, hanya saja rasa nyeri disekujur tubuh yang membuatnya kehilangan tenaga.

Rasa sakit tentu lebih mendominasi, ia tidak berkata apapun, meskipun kedua matanya menatap Kenta lekat, seolah berkata selamatkan aku.

Lelaki Jepang itu sadar, harusnya ia tidak boleh panik di saat seperti ini. Lantas ia membantu Sanggyun berdiri, yang jelas mereka berdua harus segera pergi dari sini sebelum ada orang lain yang melihat.

Lengan Sanggyun ia lingkarkan ke bahu, kemudian memapahnya pelan pelan. Kebetulan rumah kost yang Kenta sewa dekat dari sini, ia berinisiatif membawa Sanggyun kesana untuk memberinya pertolongan pertama. Setidaknya darah Sanggyun harus dibersihkan, itu pikir Kenta.

Rumah kostnya sepi saat Kenta membuka pintu utama, mungkin teman temannya masih belum pulang.

Untung saja kamar yang ia sewa berada di lantai satu, jadi ia tidak perlu kesusahan menyeret Sanggyun untuk naik tangga.

Setelah sampai di kamar, langsung saja ia membaringkan tubuh besar Sanggyun di kasur type single bed miliknya, kemudian meletakkan ranselnya dan ransel Sanggyun sembarangan.

Kedua tangan Kenta sibuk mengobrak abrik lemari, mencari kotak P3K. Sebelum mulai mengobati, ia sudah mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh Sanggyun.

Tidak sia sia ikut ekskul pecinta alam, ilmu tentang pertolongan pertama yang ia dapat jadi berguna sekarang.

"Kenta, pelan pelan" itu kalimat pertama Sanggyun sejak pertemuannya dengan Kenta beberapa menit lalu.

Bukannya tidak mau bicara, tapi ujung bibirnya sobek, rasanya sedikit perih saat berbicara.

"Maaf" gumam Kenta, tangannya tetap telaten mengoleskan obat merah di luka luka Sanggyun.

Sanggyun tidak tau saja, jika sebenanrnya Kenta mati matian menahan letupan rasa bahagia karna bisa sedekat ini dengannya.

Tidak banyak percakapan yang terjadi diantara keduanya, Sanggyun kesakitan, dan Kenta bingung harus bicara apa. Mereka terus begitu sampai beberapa band aid sudah menempel di beberapa bagain tubuh Sanggyun.

"Lepaskan bajumu" titah Kenta seraya membereskan peralatan P3Knya.

"Apa?" Sanggyun menatap Kenta horor, ia tau kok gosip yang beredar bahwa lelaki Jepang tersebut sebenarnya menyukainya. Tapi ia tidak menyangka saja bahwa Kenta akan seagresif ini.

"Bajumu kotor, besok masih dipakai kan? Aku mau mencucinya" jelas Kenta saat menyadari arti tatapan Sanggyun, "Pakai ini" Kenta melempar t-shirt dan celana pendek oversize mlikinya didepan Sanggyun, "Tidurlah, aku akan bangunkan saat makan malam sudah siap"

"Kenta" celetuk Sanggyun, Kenta menghentikan langkah sebelum beranjak mencuci seragam mereka berdua, "Terima kasih" Kenta hanya tersenyum tipis.

Setelah makan malam, Sanggyun melanjutkan tidurnya. Ia sudah izin pada Kenta untuk menginap disini, tidak mau mengambil resiko dimarahi ayahnya karna pulang dalam keadaan babak belur.

Dan kenta dengan senang hati mengizinkannya, malam ini ia tidur berdua bersama Sanggyun di kasur single bednya.

...

Kenta terbangun saat suara ketukan pintu super berisik diiringi teriakan "20 menit lagi bel sekolahmu berbunyi".

Ia terperanjat dan melirik jam dinding sekilas, suara teriakan seseorang itu ternyata tidak bohong.

Kedua tangannya mengguncang tubuh Sanggyun tidak sabar, kemudian menyuruh Sanggyun mandi di kamar mandi dalam, dan ia mandi di kamar mandi luar.

Cukup lima menit untuk mandi secepat kilat, yang penting tubuh sudah basah. Keduanya sudah berada dikamar dan hanya berbalut handuk dipinggang.

Mengenakan seragam yang sudah Kenta gantung di tembok secara asal asalan dan berlari menuju sekolah.

"Sejak kapan namamu berubah jadi Takada Kenta?" suara Jonghyun terdengar dalam dan menyelidik.

"Apa? Siapa?" Sanggyun cukup pintar untuk menyadari pertanyaan Jonghyun itu ditujukan untuknya.

"Apa yang sudah kau lakukan bersama Kenta?" giliran Seongwoo yang menatapnya, lengkap dengan seringaian setan karna merasa menemukan 'teman' baru.

"Kenapa baju kalian bisa tertukar?" Youngmin menatapanya tajam.

Sekarang siapa yang tidak curiga jika baju yang biasa kau kenakan berubah jadi milik orang lain. Apa lagi name tag yang terpampang jelas bukan nama Kim Sanggyun, tapi Takada Kenta.

Sanggyun melirik dada bagian kirinya dan benar benar mendapati nama Takada Kenta disana, pantas saja ia merasa bajunya sedikit sempit, "I—itu, dengarkan dulu penjelasanku"

TBC

makasih banyak vote sama commentnya :)

1995 | PRODUCE 101 S2 1995 lineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang