Titan curiga dengan perawat ibunya, siapakah dia sebenarnya?
Anna sabar melayani kecerewetan ibunya, cekatan mengganti pampers, menaik-turunkan ranjang pasien, rajin mengurus rumah, pintar memasak.
Apa sih pendidikan seorang perawat? Kalau dia lulu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ANNA
Aku berlari ke kamar bu Sari sebelum Krisna merebut handphone kembali.
Aku membaringkan tubuhku di kasur dan menenangkan diri. Waduh gurun pasir sudah mendapatkan sedikit guyuran air hujan. Aku memasukkan nomor handphone Krisna ke daftar kontak. Lalu menyetel silent mode, menyimpannya di backpackku. Aku memang tidak membawa banyak pakaian untuk sebulan ini, hanya empat rok seragam dan beberapa pakaian dalam. Toh aku tidak akan kemana-mana, tidak bertemu siapa-siapa.
Aku melirik jam dinding, masih ada waktu satu setengah jam sebelum bangun dan menyiapkan air mandi bu Sari. Tapi aku tidak bisa segera terlelap, masih kurasakan ciuman Krisna tadi, aku percaya ia belum pernah berciuman. Aku tertawa di dalam hati, apa boleh aku merasa beruntung mencium brondong belum berpengalaman?
Belum lama aku memejamkan mata, Krisna membangunkan aku dengan mengelus pahaku. Sialan, semakin kurang ajar dia! Aku mencatat dalam hati, lain kali harus menyediakan seragam setelan celana panjang, bukan rok. Ah, tapi tidak ada lain kali. Setelah ini aku akan menggantikan mbak Nella tiga bulan, setelah itu aku yakin bisa mendapatkan pekerjaan yg sesuai dengan ilmu yg kuperoleh selama kuliah.
Aku melirik ke atas, bu Sari masih belum bangun. Krisna bersimpuh di dekatku, tangan kanannya memegang handphone di telinga.
"Mana handphonemu?"
"Apa?" Aku mengusap mataku, pura-pura belum sadar sepenuhnya dari tidur lelapku. "Jam berapa ini?" Aku duduk, menengok jam dinding, dan bermaksud berbaring lagi, "Aku masih punya waktu 30 menit lagi."
Tapi Krisna menarikku duduk. "Oom Titan demam."
Mataku langsung melek.
Aku berlari ke kamarnya disusul Krisna. Aku melihat pakaiannya basah oleh keringat. Aku memegang dahinya lalu keluar mengambil handuk kecil, ember kuiisi air dan es batu.
Krisna melihatku dengan heran. "Badannya dingin, kok dikompres dingin?"
"Dikompres dingin supaya badannya berusaha menaikkan suhu tubuhnya," jawabku, lalu membuka ikat pinggangnya. "Bantu aku melepaskan bajunya."
"Kalau mau melihat cowok telanjang, aku saja." Kata Krisna memberikan gerakan akan membuka celananya.
Aku menatap matanya dengan pandangan kesal, "Mau nolong oom Titan, nggak?"
Pak Titan tetap tidur waktu kami membuka pakaiannya. Aku menyuruh Krisna mengambilkan pakaian ganti, tapi karena membuka pakaiannya tadi agak susah, Krisna memutuskan tidak memakaikan pakaian. Pak Titan hanya mengenakan celana dalam, aku menggelar dua underpad sebagai alas tubuhnya, aku menyelimutinya, mengompres dahi dan ketiaknya dengan air es.
Aku keluar kamar membawa pakaian kotor ke belakang, memandikan bu Sari, menyiapkan makan malam, sambil tiap seperempat jam aku ke kamar pak Titan mengganti kompresnya.
Sekitar pukul tujuh demamnya berkurang, aku mengambil kompres di ketiaknya, dan mengambil underpad yg basah, mengganti kompres di dahinya.
Pukul delapan aku sudah memindahkan bu Sari ke ranjang, membereskan meja makan dan mencuci piring. Lalu aku membawa semangkok sup ke kamar pak Titan.
Pak Titan duduk di ranjang waktu aku masuk. Aku meletakkan sop di meja, lalu mengambil kaos di lemari, membantunya memakainya. Aku tidak nyaman berada di dekat lelaki hampir telanjang. Melihatnya tidak berusaha makan, aku menyuapinya, ia menurut tanpa membantah. Setelah itu aku membaringkannya di ranjang lagi, menyelimutinya, mengganti kompresnya setiap seperempat jam sampai tengah malam, dibantu Krisna mengganti kaosnya, lalu kami tidur.
Paginya aku periksa, demamnya sudah turun, aku tidak mengompresnya lagi, aku meninggalkan makanan di meja di samping ranjangnya, dan mengurus pekerjaan harianku.
Aku masuk membawa makan siang, pak Titan masih tidur, aku meninggalkan makanan di meja di samping ranjang dan membawa piring kotor. Begitu juga dengan makan malam.
Aku punya kebiasaan jelek, berjalan dalam tidur, karena itu aku selalu meletakkan keset basah di dekat pintu kamar bu Sari, supaya aku terbangun sebelum keluar kamar.
Hari ini Krisna ada tugas kelompok, sepulang kuliah ia akan ke rumah temannya sampai malam. Aku mengecek semua pintu dan berangkat tidur jam sembilan malam.
Aku bermimpi aku berjalan di taman berdua bersama seorang lelaki, bergandengan tangan, menikmati keindahan alam, berlari ke sana kemari seperti adegan di film-film India, tapi di mimpiku tidak ada lagu, karena aku tidak suka menyanyi. Tapi aku bergerak seperti menari, dan lelaki itu bergerak bersamaku, memeluk, melepaskan, penuh godaan.
Ia memelukku, menciumku dengan sayang, aku menatap wajahnya, Krisna? Krisna, bukan Glen? Di dalam mimpiku aku heran, karena yg bersamaku Krisna, brondong ingusan itu, bukan Glen. Tapi aku menikmati cumbuannya, menikmati ia menggendongku seperti pengantin wanita digendong suaminya di film-film, mengayunku membentuk putaran.
Krisna membaringkan aku di hamparan rumput hijau, ia berbaring di sampingku, menatap mataku dengan tatapan seperti siang tadi sebelum menciumku, aku menutup mata, menunggu ........
Sampai lama aku menunggu, tapi ciuman yg kuharapkan tak juga datang. Aku membuka mata, aku sendirian.
Aku bangkit dan menoleh ke taman di sekelilingku, hari mulai sore, aku tersesat, aku tidak tahu harus berjalan kemana, lalu aku melihat Krisna, ia membelakangiku, aku berlari ke arahnya. Aku menyusupkan kedua lenganku di bawah ketiaknya, memeluknya erat dari belakang.
Lalu ia memutar badannya, cahaya matahari sore menyinari wajahnya, menyilaukan, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi aku yakin dia Krisna.
Aku meraih kepalanya, dan aku menciumnya, "Krisna," aku membisikkan namanya di tengah-tengah ciuman. Kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi, terbuai oleh ciumannya. Krisna sudah lebih pintar, ciumannya memabukkan.
Aku terbangun, melihat jam dinding, pukul 4 pagi, waktunya bangun, dan ke dapur, pak Titan sarapan pukul setengah tujuh, bahkan Krisna pukul enam kalau kuliah pagi.
Eh tapi itu bukan jam dinding di kamar bu Sari, dan aku kok pakai selimut? Kusibakkan selimut, dan aku melihat pak Titan tidur nyenyak di sampingku.