[Proses Revisi]
《Update setiap hari kamis》
Jangan melangkah mendekat jika berat. Berhenti dan buat kisahmu sendiri. Gunakan waktumu untuk yang lain, Karena kau tak pantas bersisi denganku yang buruk untukmu.
Dari Darsa Sakamis Essafar untukmu
--
Aw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--- Kamu sulit di terka, menerka saja sulit bagaimana bisa bertegur sapa? ---
Cowok berjas hitam itu tampak berjalan santai memasuki ruang kelas. Meski semua mata yang memandangnya kagum ataupun benci ia tak peduli, yang terpenting kegiatan belajarnya tidak terganggu.
Melihat keadaan kelas yang cukup ramai, cowok itu memutuskan untuk menaruh ransel hitamnya di bangku tempat biasa ia duduk. Setelah menaruh tas, pergi meninggalkan kelas.
"Kamis! Kas dulu. Baru elo boleh pergi," kata salah seorang siswi berkucir kuda dengan sorot garang.
Belum sempat melangkah sebuah panggilan membuat cowok itu menoleh. Wajah tanpa ekspresi membuat yang memanggil malas menatapnya. Meski paras tampan kalau pelit ekspresi siapa juga yang mau berlama-lama bertatap muka dengannya?
Kamis mengeluarkan dua lembar uang dua ribu, lalu memberikan uang itu pada orang yang memanggilnya tadi. "Ini, untuk 2 minggu," ucap Kamis sesingkat mungkin.
Rade selaku bendahara hanya mengangguk, menuruti apa yang cowok itu ucapkan. Toh, ia tak mau berurusan dengan siswa yang dianggap bisu oleh khalayak SDHS.
Kamis pun keluar kelas. Kurang 20 menit lagi jam pelajaran dimulai. Sia-sia jika digunakan untuk berbincang. Apalagi perbincangan itu berujung gibah. Sudah lama ia tak menyentuh buku-buku di perpustakaan. Akan ada gunanya jika waktu luang diisi dengan membaca buku. Buku apapun itu yang terpenting manfaatnya bukan kesenangan yang ia dapat.
Tangan Kamis memilah-milah novel fantasi yang tersedia di perpustakaan. Ia rindu suasana ini. Setelah terpilih untuk mengikuti olimpiade Matematika, cowok itu membatasi diri membaca novel. Saat ia mengambil salah satu novel. Tindakannya itu menimbulkan celah antar rak.
"Hai masa depan!" kejut seorang siswi di balik rak buku. Terkejut? Pasti. Kesal? Sekali.
"Enggak biasanya kamu ke sini? Balikin mood, ya? Saya ketularan jadinya." Cewek itu terkekeh bak orang sedang kasmaran. Dia Maya. Lengkapnya Kamaya Audria Respati.
Kamis hanya menatapnya dingin, lalu menutup cela antara keduanya dengan mengembalikan novel yang tadi ia ambil. Kakinya langsung melangkah lebar, memperjauh jarak dari Maya.
"Masa depan! Kok gitu sih." Percuma saja jika Kamis memperjauh jarak jika Maya terus mengikisnya.
"Saya udah buat doodle singkatan nama kita, loh ... nanti aku kasih ke kamu, deh," ujar cewek itu lagi.
Meski tak direspon, senyum masih merias wajahnya. Sampai-sampai Kamis berpikir bahwa dia gila. Tuhan begitu menyiksanya dengan mempertemukan cowok itu dengan mahluk aneh. Belum kenal saja sudah naksir, untung adik kelas.