● 14. Otak cerdas tanpa hati

114 20 18
                                        

Bagian 14

HAPPY READING!

HAPPY READING!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

----


Notifikasi pesan membuat Kamis gagal tidur semalaman. Katung matanya nampak seperti panda. Tak lupa, sorot mata kantuk juga merias muka. Ditambah lagi keriuhan ruang kelas karena bucinan receh Meri yang dilawan tegas oleh para siswi. Ingin rasanya ia tidur di kasur empuk ditemani suasana hening.

Untuk melampiaskan itu semua sengaja ia membuka ponselnya. Kumpulan pesan dari grup padahal tak begitu menggumpal, laman chat sang prioritas pun tak bercorak tanda hijau sama sekali. Ya ... ada hanya satu laman chat tak dikenal menggumpalkan ribuan pesan di sana. Kamis pun melihat profil, nampak foto Maya terpajang lucu di sana. Tawa hambar keluar tanpa permisi di bibir.

Dia masih sama.

"Senyum-senyum tanda gila." Meri yang memperhatikan sewot seketika. "Maya kalau berjuang bisa korbanin apa aja," lanjutnya.

Kamis menatap Meri malas. "Kalau hati enggak bisa cepat pindah, mau gimana?"

"Usaha dong biar keren dikit. Masa cewek kayak Maya kagak lo perjuangin." Meri menggeleng. "Cowok kok lemah," ujarnya berwujud komentar pedas.

Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ya, Kamis masa bodoh dengan omongan Meri yang selalu memihak pada Maya. Entah apa yang merasuki temannya yang satu ini.

Jika pahatan kata yang Meri ucapkan Kamis telaah, memang benar harusnya cowok itu berjuang. Namun, ini masalah rasa bukan masalah menerima hujan tanpa kau minta. Sulitnya beribu lara.

Merasa kawan sebangku tak lagi berucap, Kamis berlalu pergi. Menanganggalkan sejuta misteri di otak kanan maupun otak kiri Meri.

"Gue harap lo sadar, Kam. Hujan itu lebih mengerti dari pada bintang di langit. Maunya dikejar, eh malah jadi halusinasi tak terjabar." Meri menggeleng. Kisah rumit yang Kamis hadapi begitu unik sampai-sampai ia ingin tertawa karenanya.

---

Obat yang bisa mematikan rasa berbunga di dada Maya apa, ya? Senyumnya merekah di penjuru lorong kelas---tanda bahagia. Lola yang berada di sampingnya merasa sosok yang satu ini mendadak gila. Tak ada angin maupun hujan, kewarasan Maya sekarang dipertaruhkan. Tak hanya Lola, seisi lorong kelas menatap aneh ke arah cewek yang berjalan sambil loncat-loncat itu.

"May," panggil Lola mengalihkan titik fokus netra Maya.

"Apa?"

"Bisa waras dikit? Di lorong kelas kelakuan kayak gini enggak baik." Lola memijat pelipisnya pelan. "Gue enggak tau kenapa, setelah kejadian itu lo nangis-nangis satu minggu kemudian senyum-senyum kayak orang kurang waras. Sehat, 'kan, May?"

KamisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang