Suara isakan masih terus terdengar. Upacara pemakaman telah selesai dilakukan sejak satu jam yang lalu, abu mendiang Tiffany pun sudah dibawa ke rumah persemayaman. Meninggalkan luka dalam pada hati Joohyun yang masih belum merelakan kepergian sang Ibu.
"Sayang..."
Joohyun semakin mengeratkan sandarannya pada dada Hyesoo ketika mendengar suara husky Taehyung. Kematian Ibunya sudah cukup menyiksa untuk Joohyun, sekarang Taehyung semakin menyiksanya dengan panggilan 'sayang' itu. Selama kurang lebih lima bulan tinggal dengan laki-laki itu, Joohyun tak pernah sekalipun mendengar Taehyung memanggilnya dengan romantis seperti itu. Bahkan ketika mereka sedang bercinta senikmat apapun, Taehyung tak pernah sekalipun mengucapkannya.
"Joohyun, Taehyung memanggilmu" ucap Hyesoo sembari mengurangi usapan lembutnya pada kepala Joohyun. Joohyun hanya menggeleng sebagai jawaban. Untuk saat ini ia ingin bersama Hyesoo, bukan Taehyung atau siapapun.
"Kau istirahat dengan Taehyung ya, sayang. Kau bahkan hanya tidur kurang dari dua jam tiga hari ini, kasihan bayimu" ucap Hyesoo sembari melepaskan pelukan Joohyun dari tubuhnya.
Joohyun hanya diam saat Taehyung menariknya menuju kamar mereka. Melihat langkah Joohyun yang terlihat lemas dan lemah, Taehyung berinisiatif mengendong perempuan itu. Beruntung Joohyun tidak merengek atau protes dengan tindakannya, perempuan itu cukup tenang dengan tangan melingkari lehernya.
Taehyung mendudukkan Joohyun di ranjang, tangannya terulur membuka laci untuk mengambil suplemen Joohyun. "Minum vitaminnya lalu istirahat" ucap Taehyung lalu menyodorkan satu kapsul dengan air putih pada istrinya.
Joohyun meminum suplemennya tanpa banyak bicara. Tubuh dan hatinya sangat lelah, apalagi matanya terasa pedas dan panas karena terlalu banyak menangis. Joohyun memejamkan matanya perlahan, air mata di pelupuk kembali mendesak untuk keluar.
"Jangan menangis" ucap Taehyung lalu mengenggam sebelah tangan Joohyun.
"Aku sendiri sekarang" balas Joohyun lirih, mata sembab nya semakin memerah lantaran air mata yang terus melebur.
"Tidak, Joo. Kau tidak sendiri. Ada aku, bayi kita, ayah, ibu dan masih banyak lagi. Jangan pernah merasa sendiri" ucap Taehyung ikut merasa pilu karena ucapan Joohyun. Joohyun tampak sangat menyedihkan kali ini, wajahnya memerah, matanya sembab, bibirnya pucat dan suhu tubuhnya panas.
"Bayi, ya aku punya bayi" Joohyun meraba perutnya yang mulai berisi. Diikuti tangan hangat Taehyung diatasnya. Ia tertawa bahagia, namun terdengar sangat menyedihkan ditelinga Taehyung. Selanjutnya Joohyun menjatuhkan tubuhnya pada tubuh Taehyung yang terduduk dibelakangnya, matanya kembali terpejam, sangat menikmati usapan tangan Taehyung pada perutnya.
Cup
Taehyung mengecup puncak kepala Joohyun yang bersandar pada dadanya. Setidaknya Joohyun sudah tenang dan tak menangis sekarang. Sangat sulit menenangkan Joohyun tiga hari ini, apalagi saat pertama kali mendengar tentang kematian Ibunya. Hari itu,semalam suntuk Joohyun tidak tidur dan hanya menangis didepan peti mati Tiffany. Berlanjut dua hari kedepannya hingga upacara pemakaman Tiffany selesai.
Selama itu pula Joohyun kurang mendapat asupan bergizi karena selalu menolak untuk makan. Hal itu menimbulkan kecemasan tersendiri dalam diri Taehyung mengenai keadaan calon bayinya yang masih rentan.
"Jangan seperti ini lagi" Taehyung memberi satu kecupan lagi.
Taehyung menghentikan usapan tangannya saat tersadar jika Joohyun sudah tertidur. Dengan hati-hati ia memindahkan tubuh Joohyun hingga pada posisi yang nyaman. Taehyung menarik selimut hingga batas dada kemudian mengecup keningnya sebelum meninggalkan Joohyun untuk turun kebawah. Keluarganya pasti sudah menunggunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Overdose
Fanfiction#VRene Bae Joohyun. Perempuan 30 tahun yang rela menjual tubuhnya untuk membayar biaya pengobatan sang Ibu. Ayahnya sudah meninggal satu tahun lalu, tepat beberapa jam setelah mendengar kabar bahwa perusahaan besar yang dirintisnya sejak muda dibeku...
