Tiga tahun lalu....
Hari ini adalah hari kedua festival SMA Cendekia Bangsa diadakan. Sesuai tradisi, hari kedua adalah waktunya festival seni dan sastra. Jika di hari biasanya orang-orang luar tidak diizinkan memasuki area sekolah, selama festival justru orang-orang di luar sekolah pun diundang untuk berkunjung ke festival.
Aksel, Dika, dan Risa adalah beberapa pengunjung dari luar sekolah. Para pelajar SMP itu terlihat antusias bahkan sampai membolos sekolah hanya untuk melihat festival yang diadakan setahun sekali itu. Pakaian mereka bahkan masih seragam biru-putih khas SMP. Selain tujuan menikmati festival, ketiga sahabat itu ingin melihat hasil karya kakak-kakak mereka yang sengaja dirahasiakan untuk membuat adik-adik mereka penasaran.
"Permisi, Kak. Ruang pameran karya lukis di mana ya?" tanya Dika pada seorang lelaki yang memakai kemeja biru gelap dengan tulisan OSIS di dada kanannya.
Sembari menunjuk ke lantai dua yang terlihat lebih ramai dari ruangan lainnya lelaki itu menjawab, "Di sana. Tapi, kalian ke sana dulu biar bisa masuk." Kemudian ia menunjuk sebuah meja panjang di dekat tangga yang antreannya lumayan panjang. Sepertinya di sana tangan para pengunjung akan dicap supaya bisa masuk.
"Kalo puisi?" tanya Aksel.
"Baca puisi atau pameran puisi?"
"Pameran, Kak," balas Risa.
Lelaki itu mengangguk, kemudian menunjuk ruangan tepat di samping kiri ruang pameran lukis. Ruangan itu terlihat sepi, bahkan mungkin tidak ada pengunjung satu pun. "Itu di sana." Mereka bertiga mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih sebelum lelaki itu berlalu.
Mereka melangkah menuju meja panjang di dekat tangga. Kemudian setelah mendapatkan cap berwarna biru, mereka menaiki tangga dan menuju ruang pameran karya lukis yang sumpeknya subhanallah.
"Gila. Kalo seramai ini, yakin nggak kegencet nih?" tanya Dika menatap takjub kerumunan di depannya.
"Tau nih. Kok bisa seramai ini ya? Apa lukisannya uwow banget ya sampek begini?" tanya Risa tak kalah takjub.
Berbeda dengan Aksel yang malah menatap pada ruangan sebelah, tepatnya ruangan tempat pameran puisi. Di sana hanya terlihat sekitar lima orang yang sepertinya para penulis puisi-puisi itu. Benar adanya bahwa tak ada seorang pun pengunjung ruangan itu, berbeda jauh dengan ruang pameran di depannya saat ini. Mungkin karena minat baca warga negara ber-flower ini kurang makanya ruangan penuh tulisan seperti itu sepi. Ditambah ruangan itu hanya dihias seadanya, tampak membosankan bahkan hanya ditatap dari luar seperti ini.
"Aksel, ayo masuk!" Aksel terkejut saat tangannya ditarik Risa.
"Wow!" gumam ketiganya begitu mata mereka dimanjakan oleh Berbagai macam lukisan yang terpajang. Mulai dari abstraksionisme sampai naturalisme. Semua lukisan itu mampu membuat siapa saja terpana. Pantas saja ruangan ini ramai.
Tak sengaja mata Risa menangkap sekumpulan orang yang mengerubungi sesuatu. Karena rasa penasaran, gadis kecil itu menarik tangan kedua sahabatnya. Yang ditarik pasrah-pasrah saja karen gadis itu terlihat sangat bersemangat. Sesampainya di sana, Risa tampak bingung sebab kerumunan itu sangat rapat. Dika yang melihat sedikit celah menarik tangan Risa, lalu Risa menarik tangan Aksel. Mereka masuk dalam kerumunan begitu saja tanpa memperdulikan gerutuan dan umpatan orang-orang dalam kerumunan itu.
Saat sudah berhasil melewati kerumunan, mata mereka menatap lima kanvas berbagai ukuran yang sudah dihiasi warna-warni cat. Di atasnya terdapat tulisan dengan huruf kapital, LIMA KARYA LUKIS TERBAIK.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monokrom
Roman pour AdolescentsAksel punya hobi yang aneh dan kejam: menindas orang yang lebih lemah darinya, apalagi orang yang terlahir dengan kekurangan fisik. King bullying itu menjadikan Alisa korbannya. Gadis tunawicara yang entah bagaimana dan entah sejak kapan mengambil a...
