10. Isyarat Rasa Tanpa Makna

432 51 12
                                        

"Antara aku dan kamu bukanlah suatu asa, melainkan hanya sebatas isyarat rasa tanpa makna."
-A-

*****

"Lo ngapain di situ? Entar beku nggak anget lagi dong kalo dipeluk," celetuk seorang lelaki yang berjalan menghampiri gadis yang berdiri di balkon kamar. Lelaki itu memandang sekilas gadis yang menatapnya intens itu. Tatapannya terlalu ambigu. "Kenapa?" tanyanya sembari menatap langit gelap tanpa bintang, mencoba menghindari tatapan yang membuatnya tambah merasa bersalah.

Tidak ada jawaban, jelas. Gadis yang akan menjadi kandidat pendamping hidupnya setelah ia wisuda itu tidak akan bisa menjawabnya dengan suara. Selain tak bisa bersuara, gadis itu juga sedang tidak memakai alat bantu dengarnya membuatnya cukup kesusahan untuk berkomunikasi dengan sang gadis.

Sadar kesalahan kecilnya, lelaki itu menatap si gadis yang masih saja menatapnya dengan tatapan yang sama. Ia menghela napas kasar. "Kenapa?" Lelaki itu menggunakan bahasa isyarat yang selama bertahun-tahun pun tidak bisa dikuasainya, padahal calon wanitanya pengguna sejati bahasa itu. Mungkin karena hatinya memang tidak berniat untuk menerima gadis itu menjadi wanitanya.

Mata hitamnya memperhatikan tangan gadis itu yang bergerak-gerak lincah sambil menggerakkan bibirnya meski tanpa suara. Karena ia cukup buta dengan bahasa yang dipakai gadis itu, ia berdecak sebal melihat gerakan-gerakan itu berlangsung cukup lama menandakan ada banyak hal yang ingin disampaikan gadis di depannya. "Bacot!" Setalah mengatakan itu dengan gerakan bibir yang sengaja diperjelas, lelaki itu berjalan memasuki kamar berlanjut keluar kamar. Sepertinya ia memang sudah lelah dengan sandiwara yang dijalaninya ini. Sebentar lagi sandiwara ini akan berakhir.

Sementara itu, tangan sang gadis masih menggantung di udara. Ia melihat jelas gerakan bibir lelaki itu. Satu kata dengan dua suku kata itu mungkin tidak terlalu kasar atau bahkan dianggap biasa saja bagi sebagian orang, tetapi baginya satu kata itu sudah sangat cukup untuk mendeskripsikan betapa lelahnya lelaki itu menghadapi kekurangannya selama ini.

Aku cuma ingin kamu tau gimana perasaan aku lewat isyarat ini. Tapi, memang bagi kamu isyarat ini sama sekali tak bermakna.

Gadis itu menghela napas lelah.

Dan lagi, aku cuma ingin kamu segera mengakhiri sandiwara ini. Aku lelah, sungguh.

*****

Manik kelam itu menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memperhatikan wajahnya yang polos tanpa sentuhan make up selain bedak bayi yang sudah luntur sedari tadi. Rasanya memang dia tidak cocok bersanding dengan seorang Dika. Ia sadar betul.

"Thanks banget ya, Lis! Kalo nggak ada lo, kayaknya gue bakal langsung kabur dari sekolah. Nggak peduli deh gue masih anak baru." Sasa terkekeh berjalan menghampiri Alisa yang tersenyum tipis menatapnya lewat pantulan cermin. Ia kemudian membuka keran dan mencuci tangnnya.

Alisa memperhatikan wajah Sasa dari samping. Cantik. Wajah Sasa benar-benar cantik. Ia saja yang seorang perempuan terpesona, apalagi kaum adam di luaran sana. Padahal Sasa hanya memakai bedak tipis dan liptint pink pucat yang juga hanya sedikit menyapu bibir tipisnya. Wajah putih bersih yang terawat itu mendukung penampilan Sasa sekalipun gadis itu berpenampilan layaknya ART yang mengabdi pada tuannya yang kejam. Ah, Alisa benar-benar iri. Wajah kusam layaknya air kobokan ini jelas kalah telak jika dibandingkan dengan wajah Sasa.

Merasa diperhatikan, Sasa menoleh ke samping kirinya. "Kenapa?" Alisa menggeleng lalu memalingkan wajah pada cermin, membandingkan wajahnya dengan wajah Sasa sekali lagi. Diam-diam hatinya tersenyum miris, tapi kemudian ia menggeleng pelan. Ia lalu menunduk dan membasuh wajahnya, menghapus iri di hatinya. Alisa tidak mau menanam benih iri yang akan tumbuh menjadi dengki dan membatukan hatinya. Ia tidak mau itu. Sasa teman pertamanya, jangan sampai gadis itu menjadi musuhnya hanya karena perasaan iri yang menjadi racun di hatinya.

*****

"Monokrom?" Alisa terlonjak begitu suara orang yang dipikirkannya terdengar begitu dekat di telinganya. Ia menoleh dan wajahnya langsung memerah sebab wajahnya begitu dekat dengan wajah lelaki itu. Meski hanya dari samping, tetap saja ini terlalu intim baginya. Apalagi begitu lelaki itu menoleh ke arahnya sampai ujung hidung mereka bergesekan sedikit. Refleks keduanya memundurkan wajah. Alisa pun langsung memalingkan wajah ke depan. "Eh, sorry," ujar lelaki itu, lalu duduk di samping Alisa.

Gadis itu memang sedari tadi duduk menyendiri di taman belakang karena Sasa tiba-tiba hilang entah ke mana setelah mereka keluar dari toilet tadi. Daripada linglung mencari Sasa seperti anak ayam kehilangan induknya, lebih baik ia menyendiri di tempat ini. Tak ada yang menganggunya karena semua sibuk dengan bazar.

"Lo ngapain sendirian di sini? Nggak takut diculik kolong wewe lo?"

Alisa menoleh lalu terkekeh. Memangnya makhluk seperti itu benaran ada? Kalau pun ada, apa untungnya menculik Alisa? Aneh lelaki ini.

"Kok malah ketawa sih?" tanya lelaki itu sebal.

"Maaf, Dik. Tapi, pertanyaan kamu lucu." Alisa tersenyum manis. Kemudian atensinya kembali pada buku komunikasinya yang tertulis kata 'monokrom' di halaman terakhir. Ukurannya cukup besar, apalagi gadis itu menuliskannya dengan huruf kapital.

"Gue bukan Sule padahal," celetuk Dika. Dahinya mengerut begitu mendapati Alisa kembali menebalkan tulisannya seperti yang ia lihat sebelum mengagetkan gadis itu tadi. "Kenapa monokrom?" Alisa menoleh. "Lo merasa hidup lo suram kayak monokrom yang cuma hitam-putih doang?" tanyanya menatap Alisa serius.

Alisa sendiri hanya bergeming, tidak tahu harus mengangguk atau menggeleng sebab pertanyaan itu tidak sepenuhnya benar. Monokrom. Satu kata itu memang melukiskan hidupnya yang tak berwarna. Namun, maksudnya menuliskan kata itu adalah untuk menggambarkan keadaannya dan Dika saat ini. Mereka terlalu berkebalikan seperti warna monokrom, hitam dan putih. Tanpa diberi tahu pun orang-orang pasti tahu siapa hitam dan siapa putihnya.

Hidupnya terlalu kelam, sedangkan Dika terlihat terang meski tak mencolok. Ia dianggap sampah, sementara Dika dianggap bintang meski tak seterang matahari. Lalu, pantaskah ia berharap? Atau, sudikah Dika mengerti isyarat rasa ini?

"Hidup lo sebenernya pelangi, tapi lo sendiri yang menolak matahari hadir dan malah membiarkan hujan terus turun. Lo bisa nolak hujan dengan payung, tapi lo malah nekat nerobos hujan buat pergi ke tempat yang bahkan nggak lo tau di mana tempatnya. Lo selalu menatap kelemahan lo tanpa mau memperbaiki nasib lo."

Ucapan Dika membuat Alisa terpaku. Benarkah ia sendiri yang menolak kebahagiaan itu? Tapi, kapan? Bahkan ia merasa bahwa kebahagiaan tidak sudi meliriknya barang sejenak.

"Lo bisa melawan pem-bully-an yang lo alami, tapi lo milih buat pasrah sama keadaan. Tanpa lo sadari, lo menolak kebahagiaan yang sebenernya udah tepat di depan mata lo," ujar Dika lagi. Kata-katanya langsung menusuk ke ulu hati.

Benar sekali, ia terlalu bodoh karena hanya bisa pasrah tanpa melawan, padahal ia bisa.

*****

Minggu, 4 Agustus 2019
18.13 WIB

Jadi, ada yang bisa nebak maksud judul cerita ini? Aku yakin pasti pada tau😅

With love❤
Miftalutfi

MonokromTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang