SUDAH TERBIT. TERSEDIA DI INSTAGRAM @SA_PUBLISHER UNTUK PEMESANAN
🏆1#fiksi remaja 2020 september
2 #fiksi remaja 2021 Januari
1 #acak 2021 Januari
5 #non-fiksi 2021 februari
3 #laga 2021 februari
16 #fiksi ilmiah 2021 april
26 #puisi 2021 april
99...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Hey, ibu , Kau tau? Aku rindu Namun aku malu mengatakan nya didepan mu, Karena aku dan kamu Tidak sedekat dulu'
❄
"Macho, apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Cika seraya mendengarkan earphone di telinganya. Menatap jalanan di Los Angeles dengan waspada.
"Kamu hanya perlu pergi ke alamat yang sudah kuberikan. Kamu bisa berjalan kaki karena cukup dekat dengan lokasi kamu sekarang," ucap Macho.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," sahut Cika dan langsung berjalan menuju alamat yang sudah diberikan oleh Macho.
"Aku harap papi bukan penjahat seperti yang mereka bayangkan," ucap cika pada dirinya sendiri.
Tangan Cika mulai menekan nomor Rafi dan mulai menelponnya.
"Halo, Papi! Ini Cika." Langsung saja Cika bersemangat saat telepon tersambung.
"Cika? Kamu berhasil kabur? Di mana kamu sekarang?" sahut Rafi.
"Aku di Los Angeles. Tolong aku, Papi."
"Di mana, Ciika? Berikan Papi lokasi kamu sekarang."
"Di cafe Zuhaya, cepatlah kemari."
Cika langsung mematikan sambungan teleponnya saat mendapat respon dari Rafi. Ia tersenyum senang.
Tidak lama kemudian, seorang pria berbadan kekar datang menghampirinya. Pria itu mengatakan bahwa mereka adalah anak buah dari Rafi. Awalnya ia tidak yakin, tetapi pria itu memaksa dan mau tidak mau Cika mengikuti mereka.
Setelah sampai di markas, Rafi menyambut Cika dengan baik, namun pria itu terlihat kejam. Hal itu membuat Cika berpikir dengan apa yang Ianna katakan. Rafi terlihat memaksa saat Cika hendak beristirahat.
Tidak ingin membuat kesalahan yang sama, Rafi mengalah dan pergi meninggalkan Cika sendirian dikamar menangis karena menyesal, yang Ianna katakan benar.
❄️
Ianna berjalan menuruni tangga dengan santai. Gadis itu menahan keberdaan Caca yang sibuk dengan ponselnya, sementara TV terus menyala.
"Sendiri aja, Ca? Yang lain pada ke mana?" tanya Ianna.
Caca masih terfokus pada ponselnya dan sesekali menatap TV. "Di kolam."
"Luna?" tanya Ianna.
"Jalan-jalan sama Fazri."
Ianna menganggukkan kepalanya, gadis itu berjalan ke arah kolam untuk memanggil keempat lelaki itu.