SUDAH TERBIT. TERSEDIA DI INSTAGRAM @SA_PUBLISHER UNTUK PEMESANAN
🏆1#fiksi remaja 2020 september
2 #fiksi remaja 2021 Januari
1 #acak 2021 Januari
5 #non-fiksi 2021 februari
3 #laga 2021 februari
16 #fiksi ilmiah 2021 april
26 #puisi 2021 april
99...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Semoga yang rumit segera pamit ,Yang patah segera tumbuh, Yang hilang segera berganti' Please be happy for me
❄
Ianna membuka matanya, ia menatap sekelilingnya yang terasa asing. Hampir saja lupa kalau ia tengah berada di desa.
Dengan cepat, Ianna langsung keluar kamar dan menuju dapur. Ia mendapati Galuh tengah memasak. Lelaki itu sungguh langka.
"Gal, kamu bisa masak?‖ tanya Ianna dengan maksud menyapa.
Galuh langsung menoleh. "Udah bangun?"
"Udah," sahut Ianna. "Ibu sama Artha di mana, Gal?"
"Ibu ada di sawah dan Artha sedang bersekolah." Galuh menyahut tanpa menatap lawan bicara.
Ianna menganggukkan kepalanya, kemudian mendekat ke arah Galuh. "Maaf, ya, gue merepotkan lo. Gimana kalau gue bantu?"
"Enggak, kok. Rumah ini jadi gak sepi karna adanya kamu." Ucapnya dengan sopan.
Jantung Ianna berdetak kencang akibat ucapan Galuh. Pipinya sudah memerah membuat Galuh yang menatapnya bingung.
"Kenapa pipi kamu merah?"
"Eh?" Ianna memegangi pipinya dengan kedua tangannya.
"Enggak, kok. Ini karena panas aja, jadi merah."
"Oh, maaf, ya. Di sini gak seperti di rumah kamu yang ada pendingin ruangan. Jadi, kamu merasa gak nyaman, ya?" tanya Galuh.
Aduh, Ianna rasa salah menjawab. Alasan yang Ianna keluarkan memang berdampak besar untuk Galuh.
"Gak pa-pa," sahut Ianna terkekeh.
Galuh menaruh beberapa makanan yang sudah ia masak tadi di atas meja makan. Ianna mengikuti ke mana arah Galuh karena dirinya bingung harus melakukan apa.