SUDAH TERBIT. TERSEDIA DI INSTAGRAM @SA_PUBLISHER UNTUK PEMESANAN
🏆1#fiksi remaja 2020 september
2 #fiksi remaja 2021 Januari
1 #acak 2021 Januari
5 #non-fiksi 2021 februari
3 #laga 2021 februari
16 #fiksi ilmiah 2021 april
26 #puisi 2021 april
99...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Katanya, hubungan darah itu saling terikat. Jika begitu, aku mohon. Bilang sama dia bahwa aku rindu kenangan masa kecil kita yang indah"
❄
Bel yang sudah ditunggu pada akhirnya berbunyi juga. Seluruh siswa-siswi di dalam kelas 11-1 langsung keluar menuju kantin.
Berbeda dengan yang lain, Ianna bangun dari tidurnya dengan santai. Ia hanya menatap seisi kelas yang mulai kosong.
"Heh, lo!"
Gadis itu segera menoleh ke arah suara yang berdiri di depan pintu. Seorang lelaki yang menatapnya dan mulai berjalan menghampirinya.
"Woi!" seru lelaki itu menyadarkan Ianna. Sementara Ianna langsung mengalihkan tatapannya dan beranjak keluar dari kelasnya, sama sekali tidak berminat berinteraksi dengan murid di SMA Kaisar ini.
"Sombong banget." Lelaki itu mencibir kesal. "Dasar cewek gila."
Ianna berjalan santai ke arah kantin dengan wajah datarnya. Sempat beberapa siswi mengajaknya ke kantin bersama, namun Ianna menolak mereka. Lebih baik tidak memiliki teman daripada memiliki teman yang mempunyai niat tertentu. Terkadang, Ianna kesal karena sikap mereka seperti penjilat.
Baru saja ia memasuki kantin, beberapa pasang mata sudah memperhatikannya. Secara tiba-tiba, kantin langsung ramai dengan bisikan yang Ianna yakin itu untuk dirinya.
"Eh, katanya ada anak baru, ya?"
"Anaknya dingin banget loh!"
"Katanya dia mirip sama anaknya pemilik sekolah, loh. Iya, mirip banget. Tapi, anaknya, kan, udah meninggal," celetuk salah satu siswi.
"Liat, deh, matanya biru. Mirip sama Rizki, ya. Jangan-jangan ...."
"Emang cuman gue yang matanya biru? Banyak kali, ah," cibir Ianna pelan disertai decakan sebal.
Banyak bisikan tentang Ianna, bahkan mereka berani berbicara terang-terangan tentang gadis itu. Ada yang sebal, ada juga yang sedikit kagum. Khususnya siswi di sana, mereka menilai Ianna sebagai gadis jual mahal, dan sombong.
Oh, jadi tua bangka itu bilang kalau gue sudah meninggal? batin Ianna saat mereka mengatakan tentang anak pemilik sekolah yang sudah lama meninggal.
Tidak ingin ambil pusing, Ianna segera menduduki kursi kosong setelah memesan makannya. Baru saja ia akan menikmati makannya, para siswi sudah mulai heboh lagi. Tapi bukan tentang Ianna, melainkan kepada ketiga lelaki yang baru saja memasuki kantin.
"Andrew! Kenapa makin ganteng?"
"Putra ... we love you," ucap salah satu gadis dengan makeup sedikit tebal. Ianna yang melihatnya merasa aneh. Benar-benar sekolah aneh.