SUDAH TERBIT. TERSEDIA DI INSTAGRAM @SA_PUBLISHER UNTUK PEMESANAN
🏆1#fiksi remaja 2020 september
2 #fiksi remaja 2021 Januari
1 #acak 2021 Januari
5 #non-fiksi 2021 februari
3 #laga 2021 februari
16 #fiksi ilmiah 2021 april
26 #puisi 2021 april
99...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Andai lo tau, gue itu sayang banget sama lo. Sejak SMP hingga sekarang, gue rela jadi stalker, jadi cuek, jadi dingin jadi singa, bahkan gue rela mati kalau buat lo
❄
Raka sudah berada di belakang Ianna. Lelaki itu menggeleng pelan. Ia tak ingin Ianna menderita jika melihat keadaan Galuh yang seperti itu.
"Kenapa lo diam saja? INI PERINTAH!" pekik Ianna.
Raka tidak punya pilihan dan akhirnya ia segera mengantarkan Ianna ke rumah sakit tempat Galuh dirawat.
Sesampainya di rumah sakit, Ianna segera menuju ruang ICU.
"Kenapa bisa dia kayak gini?" tanya Ianna saat menatap ruangan ICU. Ia melihat jelas bahwa banyaknya selang pada tubuh Galuh sebagai alat bantu penopang kehidupannya.
"Malam itu, Galuh mengendarai dalam keadaan mabuk," jelas Caca berusaha menenangkan sahabatnya.
"Sejak kapan dia mabuk-mabukan seperti ini?" tanya Ianna. "Apa ini semua karena gue?" Ianna menyesal, ia merasa bersalah. Andaikan saja Ianna tidak pergi dari rumah, pasti Galuh tidak akan berada di sini.
"Ini bukan salah lo, kok. Jangan menyalahkan diri sendiri, ianna," ujar Luna yang ikut mencoba menenangkan Ianna.
Tidak lama kemudian, seorang suster keluar dari ruangan ICU. Dengan cepat, Ianna langsung menanyakan keadaan Galuh kepadanya.
"Suster, gimana keadaan Galuh?" tanya Ianna.
"Pasien membutuhkan pendonor paru-paru secepatnya. Jika tidak, ia tidak akan bertahan hidup."
Air mata Ianna langsung mengalir, ini pasti karena dirinya. Ianna benar-benar menyesal.
Melihat Ianna seperti itu, Raka langsung bertekuk lutut dibawah kaki Ianna, ia merasa sangat menyesal. "Maaf, gue gak bisa menjaga Galuh saat lo pergi, Ana."
Ianna menghela napasnya, saat ini ia ingin menyendiri. Akhirnya Ianna meminta mereka untuk meninggalkannya sendirian di taman rumah sakit sambil menenangkan diri.
Mungkin ini yang terbaik untuk lo, Ana, batin Andrew yang melihat Ianna melangkah pergi meninggalkan teman-temannya yang masih khawatir.
Beberapa jam sudah berlalu, namun gadis itu masih saja terdiam di sana selama beberapa jam.
"Ianna?"
Ianna mengangkat kepalanya dan mendapati seorang dokter. Itu adalah ayahnya Rafly.