SUDAH TERBIT. TERSEDIA DI INSTAGRAM @SA_PUBLISHER UNTUK PEMESANAN
🏆1#fiksi remaja 2020 september
2 #fiksi remaja 2021 Januari
1 #acak 2021 Januari
5 #non-fiksi 2021 februari
3 #laga 2021 februari
16 #fiksi ilmiah 2021 april
26 #puisi 2021 april
99...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Seorang kakak yang berani menyakiti hati adiknya, adalah kakak yang suatu saat nanti pasti akan menyakiti hati ibu dan istri nya kelak"
❄
Malam ini, kelima lelaki itu melewati sebuah pemukiman, tepatnya mereka sedang menuju gedung lama untuk memenuhi tantangan dari Rangga.
Setibanya mereka di depan, kelimanya menghela napas dan bersiap untuk memasuki gedung ini.
Awalnya, gedung ini adalah sebuah perkantoran. Namun, gedung ini sudah tidak terpakai lagi karena banyaknya geng berandalan yang mengacaukannya.
Seketika seorang lelaki datang menghampiri mereka dengan senyuman sinis yang tercetak jelas di bibirnya.
"Akhirnya kalian datang juga."
"Maaf, kami bukan pengecut." Randy menatap lelaki itu kesal.
"Ada apa nantangin kita ke sini?" tanya Al sudah tidak sabar, ia sudah terlanjur kesal.
Perkataan itu membuat Rangga tertawa, sudah sangat jelas bahwa dirinya menginginkan kematian mereka saat ini juga. Dengan berhati-hati, Rangga mengeluarkan pisau dari sakunya. Ia melemparkan pisau itu secara tiba-tiba dan membuat mereka berlima terkejut. Ruangan ini sangat gelap membuat mereka sedikit sulit melihat.
Tiba-tiba saja Raka mengerang kesakitan karena bahunya tergores pisau dan mengakibatkan banyaknya darah yang keluar.
"Raka!"
Lelaki itu tetap bertahan sekuat mungkin, Randy meminta agar mereka tetap waspada. Mereka bisa memanfaatkan segala benda yang ada di sini.
Melihat kelima lelaki itu sibuk, Rangga jadi gemas sendiri. Ia langsung menembakkan peluru dan membuat mereka lagi-lagi bingung saat mereka mendengar suara tembakan.
Namun pada saat itu juga, lagi-lagi Raka yang menjadi korban. Lelaki itu terkena peluru pada kaki kirinya.
"Akhh!! Sial!" Raka langsung terjatuh dan mengerang kesakitan, beberapa detik kemudian, Rangga mulai melemparkan pisau ke arah Raka. Untung saja, lelaki itu menyadarinya dan langsung menghindar.
"Bangsat!" Rangga kesal sendiri, padahal ia berharap bahwa Raka mati detik itu juga. Disela-sela ketidakwaspadaan Rangga, Randy langsung merebut pistol dari tangan Rangga dan mengarahkannya kepada lelaki itu.
"Bawa Raka keluar!" perintah Randy membuat Fazri langsung membantu Raka berdiri untuk segera meninggalkan tempat itu.
Sayangnya, Rangga memiliki pistol cadangan dan langsung menembak kaki kanan Fazri, saat itu juga Fazri terjatuh dan langsung memerintahkan Raka keluar untuk segera mencari bantuan. Setidaknya jika mereka mati, ada seorang dari mereka yang akan hidup dan menjaga Ianna.