SUDAH TERBIT. TERSEDIA DI INSTAGRAM @SA_PUBLISHER UNTUK PEMESANAN
🏆1#fiksi remaja 2020 september
2 #fiksi remaja 2021 Januari
1 #acak 2021 Januari
5 #non-fiksi 2021 februari
3 #laga 2021 februari
16 #fiksi ilmiah 2021 april
26 #puisi 2021 april
99...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Bukan harta atau hiburan yang gue cari di dunia ini. Tapi kenangan dan perasaan bahagia ketika kita menghabiskan waktu kita untuk orang orang berharga bagi kita'
❄
"Gue gak butuh maaf lo, Kak." Ianna membalikkan tubuhnya saat tiba di tempat parkir.
"Gue sadar gue salah .... Maafin gue, Ianna." Rizki berusaha menarik lengan adiknya, namun seketika pandangannya menggelap dan membuat dirinya ambruk. Ianna yang melihatnya langsung segera menahan tubuh Rizki dan dibantu oleh kedua sepupunya.
"Kak Rizki!" pekik Luna khawatir, ia segera membuka pintu mobil dan membawa Rizki ke jok penumpang.
"Ca, bawa mobilnya ke rumah sakit." Ianna memberikan kunci mobilnya dan langsung duduk di belakang bersama Rizki, sementara Luna di depan. Gadis itu juga tidak kalah khawatir dengan keadaan Rizki.
Sesampainya di rumah sakit, Ianna segera meminta agar dokter dengan cepat memeriksa keadaan Rizki. Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruangan Rizki.
"Gimana, Dok?" tanya Ianna cukup panik.
"Pasien tidak ada masalah berat, ia hanya kurang istirahat dan tolong atur pola hidupnya," ucap dokter itu membuat Ianna menghela napas lega.
"Boleh saya masuk?" tanya Ianna.
Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, saya permisi."
"Terima kasih, Dok."
Ianna, Luna, dan Caca langsung memasuki ruangan. Mereka melihat Rizki yang terbaring lemah di atas brankar dengan keadaan lemah.
"Kak," panggil Ianna, ia langsung menarik kursi yang berada di dekat brankar itu dan mendudukinya. "Ianna maafin Kakak, kok."
"Makasih, Ianna." Rizki tersenyum lebar dan mengelus puncak kepala Ianna.
"Ada masalah apa, Kak?" tanya Ianna, ia sedikit khawatir karena dokter mengatakan bahwa Rizki kurang beristirahat.
"Benar kata lo," ucap Rizki yang berusaha berdiri. "Mansion kita disita, itu semua karena Andrew."
"It's oke," ucap Ianna. "Belajar dari pengalaman, ya, Kak. Biar ke depannya gak terulang lagi."
"Maafin gue, ya."
Ianna menganggukkan kepala dan memeluk Rizki erat. "Mami? Di mana?"
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya datang memasuki ruangan itu.