Ch 43

4.9K 439 12
                                        

Jimin:
Jam berapa keretamu akan berangkat besok?

Jungkook:
Sekitar jam 11.

Jungkook:
Apa kau mau menghabiskan malam ini di apartemenku?

Jimin:
Aku inginnya sih begitu.

Jimin:
Tapi sekarang ini ayahku sedang sangat amat menyebalkan.

Jungkook:
Bagaimana kalau aku saja yang ke rumahmu?

Jimin:
Apa kau tidak membaca pesanku baik-baik? Aku kan tadi bilang kalau ayahku sedang menyebalkan.

Jungkook:
Ayahmu tidak perlu tahu kalau aku ada di rumahmu.

Jimin:
Kurasa itu ide yang bagus. Cepatlah, aku ingin segera bertemu denganmu.

Jungkook:
Aku sudah disini dari tadi.

Jimin:
Apa?

Jungkook:
Apa kau akan menyuruhku masuk atau aku harus diam saja di luar rumahmu, Jimin?

Jimin:
Lewat jalan belakang, Jungkook!

Jungkook:
Oke.

-----


Jimin menaruh ponselnya dan pergi menuruni tangga. Ayahnya sedang duduk di depan televisi, kepalanya bersender di sofa, sepertinya dia tertidur. Pelan-pelan Jimin berjalan ke pintu belakang, berusaha membuka pintu tanpa menimbulkan suara yang keras.

Jungkook tersenyum ketika melihat wajah Jimin. Dia melangkah masuk dan menunggu Jimin mengunci pintu. Setelahnya, Jungkook baru bertindak. Dia membalik tubuh Jimin dan menyudutkannya dipintu itu, lalu dia menciuminya dengan kasar.

Jungkook menangkup wajah Jimin dengan kedua tangannya, mereka saling memagut. Tapi Jungkook selalu keluar jadi pemenangnya, dia mendominasi ciuman ini, sementara Jimin hanya bisa mendesah.

Setelah ciuman panas itu berakhir, Jimin melenguh dan menggigit bibir bawahnya.

"Ayo ke kamarku."

Kata Jimin, terengah.

"Ide bagus. Lebih cepat, lebih baik."

Ujar Jungkook sambil memandangi Jimin.

Jungkook menyapukan ibu jarinya dibibir Jimin yang basah dengan saliva, sebelum kemudian mengikutinya menaiki tangga menuju kamar.

[End] TelanjangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang