pernikahan antara seungwoo dan byungchan sejujurnya bukan pernikahan yang mereka impikan.
lagipula, mana ada orang yang memimpikan pernikahan kedua?
seungwoo adalah duda satu anak. istrinya meninggal dalam persalinan karena perdarahan. istrinya juga memiliki kelainan jenis darah yang sulit didapat donornya sehingga berakhir tidak dapat diselamatkan.
sementara byungchan mengalami trauma selama dua tahun lebih. calon suaminya yang bekerja di kilang minyak milik s-oil mengalami kecelakaan kerja dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit dua bulan menjelang pernikahan.
mereka dekat karena perasaan senasib. dan ketika keduanya memutuskan untuk menikah, mereka sepakat bahwa hubungan mereka tidak hanya melibatkan keluarga mereka saja.
(toh keluarga mereka jelas langsung setuju. ikut bahagia atas dua orang yang akhirnya berdamai dengan kenyataan masa lalu.)
tapi juga pihak keluarga kang seungsik dan lim sejun.
.
.
.
hari ini seungwoo dan byungchan sepakat untuk mengunjungi seungsik dan sejun.
rumah abu sejun berada di distrik seongdong, lebih dekat dari kediaman byungchan dibanding seungsik. maka mereka mengunjungi sejun lebih dahulu.
keduanya masih bediam, di ambang pintu ruangan di mana abu sejun disimpan.
seungwoo melirik pada byungchan yang masih sibuk menetralkan kegugupannya.
sadar dirinya ditatap, byungchan menoleh pada seungwoo di sampingnya. melempar tatapan seakan dia belum siap menemui lim sejun.
seungwoo tersenyum. mengulurkan tangan menggapai punggung byungchan lalu mendorongnya masuk perlahan.
"tidak apa. kau bisa melakukannya. sejun merindukanmu."
dan begitulah byungchan akhirnya menjejakkan kaki tepat di depan rak kaca yang menyimpan rapi abu sejun.
"kak..." byungchan menarik napas dalam dan menahan genangan air mata yang melesak ingin keluar. "...ini byungchan."
byungchan kembali diam. berusaha menetrakan detak jantungnya yang terpacu.
"sudah lama, ya, kak? sudah lebih dari dua tahun sejak kakak pergi," kata byungchan dengan suara pelan. hampir seperti berbisik.
byungchan mengulurkan tangan, menyentuh kaca yang memisahkannya dengan guci abu sejun.
"aku kangen..." cicit byungchan. suaranya tercekat di tenggorokan dan setetes air mata berhasil lolos.
memori-memori itu datang begitu saja. menghantam byungchan bagai buku yang disebar di depan mukanya.
saat pertama mereka jatuh cinta. saat sejun mengajaknya berkencan. kebersamaan hubungan mereka. malam ketika sejun melamarnya. juga hari-hari persiapan pernikahan.
air mata byungchan tidak mampu lagi dia tahan. tersedu-sedu byungchan menangis di hadapan sejun.
memori kala adik sejun menelfonnya, memberi kabar bahwa calon suaminya meninggal dalam kerja, itu terlalu menyakitkan bagi byungchan.
butuh cukup lama bagi byungchan untuk mengendalikan diri. byungchan mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"kakak selalu bilang bahwa seberat apapun masalah yang kita hadapi, hidup harus terus berjalan, bukan? karena banyak orang yang mencintai kita? itu yang selalu kakak katakan kalau aku sedang sedih."
KAMU SEDANG MEMBACA
epithalamion ; pdx101
Fanfic(n.) a song or poem in honor of a bride and bridegroom bxb mpreg or gs; you decide
