1

69 8 4
                                        

Kata siapa punya sahabat bergender laki-laki itu menakutkan. Buktinya sampai sekarang Aleana masih betah bersahabat dengan mereka. Meskipun lebih banyak ruginya dari pada untungnya. Aleana tetap senang karena ada yang jadi abang gojek saat ia sedang tidak punya ongkos untuk pulang. Ada juga yang bertugas sebagai  pengantar makanan setiap ia kelaparan tengah malam di rumah kontrakannya.
Ya, Aleana memang tinggal sendiri dirumah kecil yang ia beli satu tahun yang lalu. Maklum, sebagai anak dari orang biasa, ia hanya bisa membeli disebuah rumah kecil saat mahasiswa lain menyewa sebuah apartemen untuk tempat tinggal mereka.
Aleana sudah siap untuk pergi ke kampusnya. Gadis itu mengeluarkan sepeda dari dalam rumahnya, itu adalah alat transportasi satu-satunya yang ia miliki untuk  pergi ke kampus.

Tiiin.. Tiiiinn..
Suara klakson dari motor besar membuatnya berdecak malas.

"Pagi Princess.." Sapa Elang dengan cengiran lebarnya.

"Pagi juga.. Ngapain pagi-pagi udah nongkrong dirumah gue?" Tanya Aleana basa-basi. Ia sangat tau jika cowok didepannya ini kerumahnya karena ingin menumpang untuk sarapan.

"Hehe.. mo minta makan. Boleh gak?"

"Ck. Orang kaya minta makan sama orang miskin, gak salah?" Elang kembali menyengir. Meskipun Aleana terkenal bermulut pedas, tapi ia adalah gadis baik dan tidak tegaan. Terbukti meskipun sambil mengomel, gadis itu tetap memberinya sepiring penuh berisi nasi goreng kesukaannya.

"Gue heran deh, Mak lo gak ngasih sarapan ya? Kok tiap pagi minta makannya sama gue mulu."

"Hue hak hau hakan henhirian.."

Plakk!
Aleana menggeplak kepala Elang dengan gemas.

"Kalo makan makan aja. Gak usah pake ngomong dulu." Ucapnya kesal.

"Kan lo yang ngajak ngomong ish.."
Kini gantian Aleana yang menyengir. Belum selesai Elang memakan makanannya, dua buah mobil kembali berhenti didepan rumah Aleana.

"Hai.." Ucap keempatnya kompak.

Aleana memutar bola matanya malas." Rumah gue bukan panti asuhan. Kenapa malah pada minta makan disini coba."

"Jadi emak tuh harus baik. Berbudi pekerti luhur, lemah lembut dan tidak sombong." Ucap Ares sambil menyeleonong masuk kedapur kecil Aleana. Diikuti oleh ketiganya membuat Aleana mengusap dadanya akibat kelakuan para sahabatnya.

"Na.. Gue gak kebagian.." Rajuk Razka sambil memegang piring ditangannya.

"Lah, masa gak kebagian? Kan gue masaknya banyak."

Aleana langsung berjalan kedapur. Matanya membulat sempurna saat melihat Ares tengah makan dengan dua piring sekaligus.

"AREEEEESSSS!!! Pantesan aja Razka gak kebagian. Lo makan atau kesurupan sih!" Jeritnya sambil berkacak pinggang.

Lihat kan? Sekarang ia persis seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anak-anaknya. Ketiganya hanya bisa menyengir lucu.

"Ya. Mak. Maaf deh.. Jangan marah gitu dong." Ucap Arez dengan puppy eyes andalanya.

"Tau ah bodo. Gue mau berangkat. Jangan lupa pintu kuncinya kalo udah beres."

"Siap Komandan." Ucap ketiganya kompak.

Aleana tersenyum. Meskipun mereka kadang bersifat menyebalkan. Tapi ia tidak bisa untuk berlama-lama marah pada mereka.

Gadis itu mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang. Diikuti oleh Elang dibelakangnya yang terus saja membuntutinya seperti anak ayam.

15 menit kemudian Aleana sampai dikampusnya. Setelah menyimpan sepedanya ditempat parkir pojok khusus sepeda, gadis itu berjalan dengan tenang ke arah rooftop kampusnya. Ia lupa belum mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan siang ini. Maka dari itu ia pergi ke rooftop agar kelima sahabatnya tidak mengetahui keberadaannya.

Hawa dingin dari angin yang berhembus kencang langsung masuk kepori-porinya.
Aleana menyerengit saat melihat seorang laki-laki tengah terduduk dengan wajah babak belur tak sadarkan diri. Gadis itu mendekat ragu.Jantungnya sudah berdetak cepat karena takut jika lelaki didepannya ini adalah orang jahat.
Ia menelusuri wajah lelaki didepannya. Walaupun terdapat banyaknya luka dan lebam Aleana berdecak kagum karena laki-laki itu masih terlihat tampan.

"Sumpah ya, udah bonyok gini tetep aja enak diliat. Coba aja kalo gue punya cowok ganteng kayak dia." Gumamnya sambil tetap memandang laki-laki didepannya.

Rasa penasaran membuat Aleana berinisiatif untuk melihatnya dari jarak dekat.
Saat Aleana hendak melihat wajah laki-laki itu lebih dekat, tanpa diduga laki-laki itu membuka kedua matanya.

Aleana langsung terjungkal karena begitu terkejut melihat laki-laki itu yang tiba-tiba membuka matanya.
Aleana yang tadinya hendak marah dan mengumpati laki-laki didepannya langsung terdiam saat melihat mata biru yang seakan menghipnotisnya. Aleana membeku. Untuk berbicara pun lidahnya terasa kaku.

Laki-laki itu berjalan mendekatinya membuat Aleana refleks mundur karena takut.

"Kenapa? Bukannya tadi lo bilang pengen punya pacar kayak gue?"

Aleana mengangguk. Namun detik berikutnya menggeleng membuat laki-laki didepannya terkekeh karena merasa lucu.

"Gue bakal kabulin apa yang lo mau. Jadi sekarang gue adalah pacar lo dan lo pacar gue. So.. see you next time pacar."

Laki-laki itu berbalik pergi meninggalkan Aleana yang tengah mematung tak percaya. Namun baru beberapa langkah, laki-laki itu kembali berbalik.

"Oh ya gue lupa. Nama gue Andromeda. Nama lo?"

"A.Aleana" Jawabnya tergagap.

"Oke Aleana. Sampai jumpa lagi"

Cup.

Aleana terbengong saat Laki-laki yang bernama Andromeda itu mencium bibirnya sekilas. Beberapa menit kemudian gadis itu baru tersadar jika ciuman pertamanya sudah diambil oleh pacar pertama yang bahkan tak ia kenal.

Aleana memegang bibirnya yang baru saja dicium oleh Andromeda.namun tak lama kemudian, gadis itu menjerit dan menutup wajahnya karena malu.

"CIUMAN PERTAMA GUE!!!" Jeritnya frustasi.
Namun dibalik pintu rooftop, Andromeda malah terkekeh karena mendengar teriakan dari Aleana yang menjadi pacar barunya.

"Selamat datang mainan baru."

MEDALEANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang