5

56 5 12
                                        

Aleana datang ke kampus pagi-pagi sekali, ia sengaja datang sepagi itu karena ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan dari para sahabatnya.
Gadis itu duduk di sebuah kursi taman belakang kampusnya, ia beniat membaca materi yang akan dibahas hari ini agar ia tidak kesulitan jika ditanya nanti.

Aleana menghembuskan nafas kasar. Kenapa ia malah memikirkan pacar SMAnya itu. Padahal laki-laki itu pun sepertinya tidak serius pada hubungannya. Buktinya saja Meda tidak pernah meminta nomor handphonenya.

"Baru aja seneng ngerasain punya pacar, eh udah dijatohin lagi." Gerutunya sambil memainkan pulpen ditangannya.

"Gue gak bakalan jatohin lo." Aleana terlonjak kaget saat sebuah suara dibelakangnya mengejutkannya. Gadis itu berbalik dan menatap Meda heran.

"Lo ngapain disini? Emangnya lo gak sekolah ya?" Tanya Aleana heran.

"Gue sekolah siang, lo lagi apa??"

"Lagi.."

"Mikirin gue ya?" Tanyanya kelewat pede.

Blussshhh
Pipinya langsung merona karena godaan Meda tadi.

"Geer. Mau ngapain kesini?" Tanya Aleana sambil membuka bukunya kembali. Meda sendiri bukannya menjawab malah diam sambil asik memandanginya.

"Mau ketemu pacar cantik gue lah."

"Dih, gombal." Ledeknya yang dihadiahi cubitan dari Meda. Gadis itu kini merengut dengan mata memincing.
"Sakit tau, pipi gue ntar melar gimana?" Rengeknya dengan bibir mengerucut.

"Gak apa-apalah, ntar lo malah makin cantik."

Aleana tertawa, entah kenapa hanya mendengar gomabalan receh Meda saja ia sudah begitu senang. Mungkin ini efek karena ia terlalu lama menjomblo.
Gadis itu kini gantian menatap wajah laki-laki didepannya, dengan mata tajam plus rahangnya yang tegas, Aleana yakin jika nanti Meda akan menjadi incaran para wanita diluar sana. Mengingat hal itu tiba-tiba membuat dirinya langsung dilanda murung.

"Lo beneran sayang sama gue gak sih? Gue takut aja pas gue udah baper, lo ninggalin gue gitu aja." Ucapnya tiba-tiba membuat Meda merasa tertohok, raut wajahnya yang kaget segera ia normalkan kembali.

"Gue gak pernah main-main sama perasaan gue sendiri."

"Gue cuma takut aja lo ninggalin gue nanti." Ucap Aleana sedih.

"Apa alasannya gue harus ninggalin lo. Mungkin nanti lo yang bakalan ninggalin gue karena gue cuma anak kecil yang bikin lo sial karena gak bisa dapetin laki-laki idaman lo."

Aleana tertegun melihat raut wajah Meda yang kini terlihat malah terlihat lebih sedih. Apa ia sudah berbicara salah hingga membuat laki-laki itu tersinggung dan sedih?
Aleana menggeleng, tidak mungkin jika itu akibat perkataannya.

"Gue salah ngomong ya?? Kok lo malah diem sih ?" Tanya Aleana sedikit khawatir.

Meda tersenyum lembut, laki-laki itu membelai wajah Aleana yang entah sejak kapan membuatnya begitu selalu ingin melihatnya.
"Gue sayang sama lo Lea." Ucapnya sungguh-sungguh dan membuat Aleana membeku. Gadis itu mencari kebohongan lewat tatapan Meda sekarang. Dan laki-laki itu terlihat sungguh-sungguh mengatakannya.

Aleana langsung menubruk Meda dan memeluknya dengan erat. Ia menangis di dada Meda karena begitu bahagia dengan apa yang terjadi sekarang. Pertemuannya dengan Meda memang begitu singkat, namun ia pun kini merasakan hal sama dengan apa yang diucapkan Meda tadi.
Gadis itu mendongak untuk menatap Meda. Laki-laki itu tersenyum lembut kearahnya dan mencium kening Aleana lembut.

"Jangan ragu lagi kalo gue gak bener-bener sayang sama lo Lea. Karena gue tulus sayang sama lo."

Aleana mengangguk. "Gue percaya. Dan gue juga sayang sama lo Andromeda."

MEDALEANATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang