ALEEYA - PART 2

27.3K 460 8
                                    

Author POV

Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Langit yang tadinya masih diterangi matahari perlahan larut menjadi bulan dan bintang-bintang yang bertebaran diatas angkasa. Mereka sampai di mansion besar milik keluarga Allver. Aunty Lin hanya berdua tinggal disini tetapi ada para pelayan dan pengawal yang selalu siap sedia dan mengabdi kepada mereka. Aunty lin juga memperlakukan para pegawai di mansionnya dengan ramah dan tidak semena-mena berbeda dengan anaknya Xavier sangat dingin dengan para pelayannya. Suami Aunty Lin Fernando Theo Allver sudah meninggal 3 tahun yang lalu tepat saat Xavier berumur 23 tahun dan menjadi pewaris Allver Company.

Aleya terperangah memasuki mansion yang amat sangat megah itu. Pelayan nampak berbaris menunggu kedatangan nyonyanya. Para pelayan langsung mengambil tas Aunty Lin yang bermerk itu. Sedangkan Aleya, dia tidak membawa apa-apa karna tepat dimana kematian kedua orang tuanya ia diusir karena tidak bisa membayar kontrakan didesa.

"Sayang, ayo makan dulu! Kau pasti lapar!" gadis itu hanya mengangguk canggung lalu mengikuti aunty lin yang mengenggam tangan Aleya menuju meja makan diikuti beberapa pelayan dan semua makanan sudah tersedia dimeja.

Mereka makan dengan diiringi dentingan sendok dan pisau pengiris daging. Setelah selesai aunty Lin mengantarkan Aleya ke kamar barunya di mansion ini yang terletak dilantai 2 yang aunty lina bilang sih disebelah kamar Xavier. "kamu mandi dulu ya! Setelah itu mom mau cerita-cerita sama kamu dibawah okey!" aunty Lin berbalik lagi sebelum Aleya menutup pintunya "ehh iya, mulai sekarang panggil aunty mom yaa! Tidak ada penolakan!" Aunty Lin langsung menuruni tangga dengan santai sedangkan Aleya yang melihatnya hanya tersenyum tulus dan bahagia merasa masih ada orang yang perhatian dengannya.

Setelah lama berkutat di kamar mandi Aleya keluar menggunakan bathrobenya lalu menuju pintu yang sepertinya menyimpan pakaian, sepatu dan tas disudut kamarnya. Aleya terperangah melihat lemari-lemari itu berisikan banyak baju-baju wanita. Bahkan pakaian dalam juga, astaga ukuran bra dan celana dalamnya pun sama dengan punyanya. Tak lama dari itu Aleya tampak memilih-milih dress rumahan berwarna merah hati selutut dan lengan pendek yang sangat kontras dengan kulitnya. Lalu Aleya memutuskan untuk keluar kamar menyusul Aunt--eh Mom di bawah.

"Aleya sinii!" Mom Lina memanggil setelah ia melihat Aleya menuruni tangga sedangkan dia duduk disofa dengan santainya. Aleya tampak mengangguk dan mendekati Mom Lina setelah aba-aba tangan wanita itu menyuruhnya duduk di sofa.

"Hmm Aunt--Mom,, aku ingin sedikit bertanya" Mom mengangguk sambil tersenyum geli mendengar Aleya yang hampir memanggilnya dengan embel-embel aunty lagi. "Hmm i--tu a-anu.. didalam lemariku itu kenapa bisa ya mom ukuran bra dan celana dalam nya sama dengan ukuran aleya?"

Sedetik kemudian Mom Lina tertawa santai. "Iya sayang, mom kan wanita. Mom sudah lama mengintaimu dari orang suruhan mom.. Tapi maafkan mom baru hari ini bisa menemuimu" raut wajahnya berubah menjadi sedih.

"Oh ayolah mom, mata kita bisa bengkak kalo sedih terus" Aleya sedikit terkekeh begitu juga dengan Mom.

Banyak yang mereka ceritakan bahkan jarum pendek jam sudah berada di angka 9 sedangkan jarum panjang di angka 8 hingga tak sadar pintu mansion terbuka menampakkan seorang pria dewasa yang tampan namun dingin membuat mereka menoleh bersama kearah pintu terbuka dan menghentikan tawa mereka. Mom Lina tersenyum melihat kedatangan anaknya, berbeda dengan Aleya yang nampak menundukkan wajahnya.

"Kau sudah pulang sayang!!" peluk Mom seakan sudah lama tak bertemu Xavier.

Xavier tampak mengehela nafas pelan "Aku hanya pergi beberapa jam mom, bukan beberapa bulan. Jangan berlebihan"

"Huh kau ini! Tidak sopan" Mom memukul pelan kepala anak sematawayangnya itu.
"Oh iya ayo duduk dulu"

Pria yang bernama Xavier itu tampak mengerutkan keningnya melihat seorang wanita? ah tidak, seorang gadis sepertinya yang terlihat menundukkan wajahnya.

"Sayang kau ingat Aleya?" ketika Mom sudah duduk disebelah Aleya yang berhadapan dengan Xavier.

Xavier tampak berpikir lalu mengingat masa kecilnya. "Ya, aku ingat. Ada apa mom?" menatap momnya penasaran.

Mom tersenyum sumringah "Ini dia sayang, gadis kecil yang kau sukai dulu sewaktu kecil" Mom sedikit terkekeh geli.

"Aleya?" aleya yang disebut namanya pun menegakkan matanya sehingga tatapan matanya bertemu dengan manik coklat muda pria itu. Tatapan itu seakan mengintimidasinya. Aleya hanya tersenyum ramah dan canggung. sungguh.

"Dan saat ini Aleya tinggal dimansion kita, Xav!" mom terpekik senang berbeda dengan Xavier yang terlihat tidak suka.

"Kenapa begitu?"

Ucapan yang keluar dari mulut Xavier membuat ibunya mengerutkan keningnya bingung sedangkan Aleya meneguk salivanya susah payah. "Kenapa apaan kau ini? Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi!" tegas mom tidak suka.

"Ya, kita bisa mencarikannya apartemen atau rumah bahkan mansion lagi mom" Xavier berujar dengan santainya sedangkan degup jantung yang tak terbilang normal milik gadis dihadapannya sudah dari tadi berdisco.

"Tidak! Karena sebentar lagi kau harus menikah dengan Aleya. Iyakan sayang" melihat Aleya yang tersenyum gugup beda halnya dengan Xavier yang langsung menegang dan tidak terima.

"Menikah? Apa-apaan ini mom! Aku bilang aku sendiri yang akan menemukan wanitaku! Dan ya aku sudah punya kekasih" ketus Xavier

"Kekasih katamu! Jalang mana lagi yang kau sewa!" Mom Lina tampak memegangi dadanya yang sesak sedangkan Aleya yang melihat sedari tadi sudah mengelus pundak dan dada wanita itu yang terlihat sesak lalu mengeluarkan suaranya. "Kau harus menerimanya, lebih baik mom mati jika kau tidak mau menikah" ancam mom membuat Aleya dan Xavier menganga menatap perkataan mom.

Sungguh, Xavier sangat mencintai ibunya. Ibunya adalah satu-satunya harga yang paling berharga didunia ini setelah ayahnya meninggalkan mereka. Keheningan sempat terjadi sampai suara mom kembali menyadarkan mereka dalam keheningan.
"Antar mom kekamar Aleya" Aleya mengangguki perkataan mom dan terlihat raut wajah cemas dari gadis itu.

Xavier yang melihat kedua wanita itu sudah berlalu dari ruang keluarga pun langsung pergi kekamar dengan amarahnya.

-Dikamar Xavier-

"Sial!" geram Xavier kesal sambil melempar ponselnya ke ranjang. "Aku memang dulu menyukainya. Tapi itu dulu, masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Aku tidak ingin terikat dengan pernikahan itu! Aku masih ingin bermain dengan wanita-wanita diluar sana!"

Setelah lama mengumpat dan berpikir satu ide pun terlintas diotaknya. Bahwa ia akan membuat perjanjian dengan Aleya. Ya. Perjanjian. Atau Nikah kontrak. Setelahnya bercerai.

Xavier mengeluarkan seringainya dan mengambil ponselnya diranjang terlihat mencari kontak asisten pribadinya lalu tak lama telpon pun tersambung.

"Urus perjanjian nikah kontrak yang menguntungkanku, Jack!" tanpa menunggu balasan dari seberang, Xavier mematikan ponselnya sepihak. Dan kembali tersenyum smirk.

"Terlihat menyenangkan"

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Xavier Millian Allver

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖Xavier Millian Allver

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Next chapter..

Jangan lupa vote dan commentnya ya!😻

ALEEYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang