Chapter 1

223 24 18
                                        

Pernahkah kalian merasa terkekang dengan peraturan-peraturan yang mengatur hidup kalian? Bermacam-macam jadwal dengan waktu yang begitu padat, selalu membuat sebagian orang merasa ingin melenyapkan itu semua. Memberhentikan waktu kalau bisa. Sehingga mereka bisa dapat melakukan apapun yang mereka suka, tanpa terikat oleh detik jam yang terus berputar dan menghitung kapan akhirnya akan tiba.
Namun, jika kalian tahu apa yang akan terjadi saat kalian mengharapkan hal seperti itu … kalian pasti akan menarik lagi do’a kalian dan berharap hidup yang terkekang waktu itu kembali seperti sedia kala.

Sama halnya seperti Iri Frost. Gadis asal London itu kini harus berputar-putar dalam sebuah pusaran yang entah akan membawanya kemana. Kerlap-kerlip ungu bercampur warna hitam pekat bagaikan arus yang memusingkan matanya. Serbuk emas dan pixel warna-warni seakan menjadi efek hidup yang memenuhi pandangannya.

Ia tidak kuat lagi. Rasanya semua isi perutnya sebentar lagi akan keluar.
“Tahanlah sebentar lagi! Jalan keluarnya ada di ujung sana!” seru seseorang yang menggandeng tangannya di depan.
Iri hanya mengangguk pelan sembari menutup mulut untuk menahan mualnya.

Jeritan bertambah kencang semakin terasanya pusaran yang mengguncang tubuh tak karuan. Memacu adrenalin yang membuat jantung berdegup kencang, serta perut yang terasa bergemuruh seakan ingin naik ke atas dan keluar dari tubuhnya.

Cahaya putih muncul sesaat kemudian, diikuti suara bedebum yang terdengar cukup keras.

“Kita sampai.”

“A-Aaaw, sakiit!” Iri mengusap bokongnya. Sedetik kemudian, ia tidak bisa menahnnya lagi. Gadis itu berlari menuju tembok bangunan terdekat, lalu mengeluarkan cairan perut  campur aduk berisi makan siang dan beberapa jajanan yang tadi ia makan. Dengan terengah ia lalu berkata, “Sudah cukup, Ren! Berapa kali lagi aku harus berputar-putar di lubang teleportasi yang seperti alat mesin cuci itu!? Kau benar-benar membuatku muntah!”

Bocah lelaki yang dipangil Ren itu berbalik menghadap Iri. Poni sampingnya melambai saat ia melakukan pergerakan. Surai kuning pendek yang ia ikat kebelakang menjadi ikatan kecil ikut bergerak saat angin malam berhembus pelan. “Maafkan aku, Iri. Tapi tidak ada cara lain untuk datang ke dimensi ini tanpa portal waktu,” ujarnya. “Sekarang kita sudah sampai di tempat tujuan kita.”

Iri mengedarkan pandangan. Dan benar saja, sekarang ia tengah berada di tempat dengan beberapa bangunan-bangunan sederhana berdinding abu atau coklat. Sekilas, ini seperti gaya bangunan ala kotanya—London.

“Kita ada di Greenwich. Kota dengan sebutan Zero Time City,” kata Ren.

“Greenwich? Maksudmu Greenwich yang ada di tenggara kota London itu? Maksudmu, kita tidak berpindah dari London?”

Ren menggeleng. “Tidak. Sudah kubilang sebelumnya, kita akan berpindah dimensi dari dunia di mana waktumu terhenti—atau bisa dibilang tercuri ke dimensi lain. Ini adalah Greenwich di dimensi Masa. Kami biasa menyebutnya dengan Kota Nol. Di sini terdapat kekuatan yang disebut Zero Line yang akan membukakan kita portal menuju tiga penguasa waktu.”

Gadis yang diberi penjelasan itu mengeritkan dahi sembari menelengkan kepala. Semua perkataan bocah lelaki berkemeja krem kecoklatan, berompi biru yang berhias pita hitam, serta bercelana dan sepatu hitam setinggi lutut  itu seakan hanya melintas di atas kepalanya. Tak ada satupun kata yang sekedar masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Semuanya tertolak sejak semua kejadian super aneh ini berlangsung.

Namun, ada satu hal yang tertangkap oleh otak Iri. “Tunggu, kau bilang portal? Apa kita akan lewat portal itu lagi!?” Gadis iu berseru, “Pokoknya kalau aku harus lewat mesin cuci warna-warni itu aku tidak mau!”

Ren mengerjapkan matanya dua kali. Tidak menyangka ternyata dari seluruh perkataannya hanya kata ‘portal’ yang terdengar oleh gadis itu. Kekehan kecil keluar dari mulutnya. “Kau tidak perlu khawatir, Iri. Setelah ada di dimensi ini, kau tidak akan merasakan portal yang sama seperti tadi. Kali ini rasanya hanya akan seperti melewati sebuah pintu kemana saja. Dan, kita akan melakukannya di Alun-Alun Kota.”

ZERO : The Lost Time #ODOCTheWWGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang