"Aku tidak akan mencurangi ketiga masa, karena bukan itu tujuanku datang ke Dimensi Masa ini!"
Mirai melebarkan bola mata. Ada sesuatu yang terbangun dari dalam gadis itu. Ia bisa merasakan auranya. Keberanian, kepercayadirian, semangat, dan tekad yang awalnya bagai setitik cahaya, kini telah menghadirkan sinar yang lebih mencerahkan jiwanya.
Sang Ratu sempat lengah dengan perubahan kondisi gadis waktu di haadapannya, sampai-sampai ia tak sadar sebilah anak panah telah melesat menggores pipinya sedikit. Ia menyentuh sedikit kulit terbukanya yang mengeluarkan kerlipan cahaya itu sebelum memindahkan pandangan lagi kepada Iri.
"Cih!" decih si pemanah. Sialan! Kenapa juga bidikannya harus meleset di saat kesempatannya terbuka. Iri sempat melirik Ren untuk melihat reaksi dia saat Iri menyerang. Dan, tepat seperti dugaannya, kedua pupil biru langit itu sukses mengecil dengan kelopak mata yang terbuka lebar. Kalau saja kedua tangan dan kaki itu tidak terikat, dan mulut Ren tidak terbungkam, ia pasti sudah diomeli habis-habisan.
Iri kembali fokus pada ratu yang kini nampak sedikit lebih ... berbeda dari sebelumnya. Atmosfernya terasa menyesakkan, dan tatapan mata itu ... menyalang pada sang gadis seakan benar-benar marah.
Iri memposisikan lagi senjatanya, tapi langsung tercegah dengan cengkeraman kuat di pergelangannya. Seuntai tali mengikat tangan yang memegang busur itu, dan langsung menariknya kencang. Membuat Iri terjerumbub di bawah kaki Mirai.
Ia merintih. Badannya seketika terasa nyeri dan linu di beberapa titik. Perlahan-lahan Iri bangun dan megadahkan kepala. Menelusuri kaki mulus Mirai, kemudian sampai di kedua tangan yang memegang sebuah cambuk putih yang mengeluarkan kerlipan yang berbentuk seperti kupu-kupu, hingga akhirnya mata berwarna hazelnya bersitatap dengan mata kelabu Mirai.
"Memancing amarah sang Masa Depan ..." Mirai mendengus dengan seringai. "Heh, berani juga kau, ya, Gadis waktu."
Gadis yang masih bergeming itu bergidik. Kata-kata yang meluncur dari wanita ini entah kenapa lembut tapi terdengar sangat mengancam. Memancarkan aura yang terbaca oleh tubuhnya sebagai tanda bahaya. Namun, Iri tidak bisa lari. Tubuhnya tidak mau bergerak dan terusa berada dalam posisi berlutut. Posisi yang terlihat seperti tengah menghormat pada Yang Mulia.
Mirai tiba-tiba tertawa. Iri keheranan. "Tapi, boleh juga, Iri. Kemampuanmu benar-benar menakjubkan untuk seorang manusia biasa. Aku juga kagum dengan cahaya jiwamu yang tak luntur sedikitpun dengan semua ilusi ini." Sang ratu memutar badan dan memecutkan cambuknya kea rah Ren. Iri sempat terkejut, si bocah juga menutupkan matanya karena takut. Namun, ternyata yang terjadi adalah ikatan pada tubuh Ren terbuka. Ia bisa berbicara dengan leluasa lagi setelah cambuk tersebut mengenai sihir yang membelenggu dirinya.
Iri berdiri kala Mirai memunculkan sesuatu dari telapak tangannya yang terbebas. Iri menduga, sihir itu akan membentuk permata masa. Dan, ternyata benar. Mula-mula sebuah bunga mawar kecil mekar di atas telapak tangan berjari lentik itu. Setelah sepenuhnya mekar, benang-benang sarinya memanjang dan meliak-liuk saling melingkar, hingga membentuk benda ungu muda yang berkilau.
"Aku mengakuimu, Gadis Waktu. Kau memang layak mendapat tanggung jawab besar ini," ujarnya. "Ku titipkan Permata Masa Depan padamu. Bersama ketiga Permata Masa milik Penjaga Waktu lainnya, pergunakanlah mereka untuk menemukan apa yang kau cari, dan menampakkan apa yang selama ini tersembunyi."
Iri menyadari sesuatu pada kalimat Mirai. "Yang selama ini tersembunyi? Apa maksudnya, Yang Mulia?"
Mirai terdiam beberapa saat. Ori semakin penasaran, karena Ratu itu terlihat menyembunyikan sesuatu. "Aku tidak mau menjelaskannya--lebih tepatnya--aku tidak bisa. Aku hanya meminta kau untuk berhati-hati--"
KAMU SEDANG MEMBACA
ZERO : The Lost Time #ODOCTheWWG
Fantasy[ END ] Iri Frost, gadis asal Inggris terpilih oleh takdir untuk menyelamatkan inti waktu dunianya yang telah dicuri. Atas perintah Era, sang Ratu Waktu, juga sang Anak Waktu, Ren, Iri memulai petualangannya di Dimensi Masa mencari petunjuk demi me...
