Chapter 27

15 5 0
                                        

Ren yang mendengar suara familier itu sontak mendongak. Kedua iris birunya sukses mengecil dengan kelopak mata yang terbuka lebar. "R-Rin ...?" ucapnya tak percaya. Anak perempuan bersurai pirang pendek di depannya itu memasang senyum.

"Ri—Rin? Ini benar kau, Rin?" Ren berdiri dan berjalan perlahan mendekati sosok yang sedikit kabur itu. "Ba—bagaimana bisa? Di—dia bilang ... Era bilang kau ... kau ...."

"Ssshh...!" Rin mengacungkan telunjuknya di dekat mulut sang lelaki. Sambil tetap tersenyum, ia berucap, "Jangan khawatir, Ren. Ini benar aku, saudari kembarmu, Rin."

"Ta-Tapi ... bagaimana bisa?" Ren mengederkan pandangan. "Dan ... di mana ini? Bukankah aku sedang bersama Iri dan teman-teman waktuku?"

"Kita ada di alam bawah sadarmu, Ren. Dan, aku adalah salah satu bagian dari pikiranmu," jawab Rin.

Ren sedikit tak paham, terutama pada bagian Rin adalah salah satu bagian dari pikirannya. Apa maksudnya Rin di hadapannya ini hanyalah sebuah ilusi?

Seakan mengerti apa yang dipikirkan saudaranya, Rin menjawab, "Sedih rasanya harus mengatakan ini. Tapi, Ren, apa yang kau pikirkan memang benar adanya. Aku hanya ilusi yang dibuat oleh alam bawah sadarmu. Mendengar kabar bahwa aku telah tiada, membuatmu tanpa sadar membentuk sosok yang kau rindukan di tempat ini."

Ren merasakan denyut perih lagi di dadanya. Dan, sepertinya ujung matanya sudah terlihat bulir air yang siap meluncur membasahi pipi. "Rin ... kenapa ... kenapa ini harus terjadi padamu...?" Ren semakin terlihat kesakitan saat kepalanya memutar ingatan di mana ia melihat pembunuhan kepada saudarinya di Ruang Masa Lalu.

"Maafkan aku, Ren. Tapi, memang beginilah takdirku," ucap Rin lembut. "Jangan bersedih. Walau Era membunuhku, dan kita tidak akan bisa bertemu satu sama lain lagi di Dimensi Masa, tapi kau tetap bisa menemuiku di ruang ini." Ia menunjuk dada Ren. "Aku akan tetap bersamamu. Di dalam ingatanmu, juga dalam hatimu. Kau hanya perlu memejamkan mata, dan aku aka nada di hadapanmu.

"Jadi, tolong .... Kembalilah pada Iri dan teman-teman kita yang lain, dan bantulah mereka, Ren. Selamatkanlah Dimensi Masa dan dunia di mana manusia-manusia berharga kita menghabiskan waktunya."

Ren benar-benar menitikkan air mata. Sungguh, ia tidak ingin berpisah dengan satu-satunya keluarga miliknya. Anak waktu memang semuanya adalah keluarga, tapi Rin lebih dari itu. Dia sudah terlalu berharga, seseorang yang tak dapat tergantikan.

Melihat kesedihan kembali menyelimuti wajah Ren, Rin memeluknya hangat. Membuat si lelaki tersentak dari lamunan. "Tidak apa. Aku akan menunggumu walau sendirian di ruang hampa ini. Yang penting kau harus menyelesaikan tanggung jawabmu terlebih dahulu. Buatlah semua orang bahagia, dan jadikan kematianku sebagai sesuatu yang berharga dan tak sia-sia."

Ren tertegun untuk sesaat, lalu ia balas dekapan dari saudari tersayang. "Maafkan aku, Rin. Aku berjanji akan menuruti permintaanmu." Mereka kemudian melepas pelukan, dengan jemari tangan yang masih saling bertaut erat. "Tunggulah aku. Suatu hari nanti, aku pasti akan menemui lagi. Pasti!"

Rin tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. Sebuah cahaya terang berpendar dari tubuh anak perempuan itu, bersamaan dengan kesadaran Ren yang mulai membuyar.

Samar-samar sebelum semuanya menghilang, Ren bisa mendengar Rin kembali berucap dengan suara lembutnya.

"Terima kasih."

+++++

Beberapa cuplikan kenangan berputar sesaat dengan sahutan-sahutan yang memenuhi telinga. Ren melihat memori-memori bersama Rin terbuka lagi dengan senedirinya. Memperlihatkan berbagai kesenangan serta kegembiraan, juga kesedihan dan kepedihan yang mereka lalui bersama.

ZERO : The Lost Time #ODOCTheWWGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang