Chapter 5

39 12 1
                                        

“Kenapa … kenapa kau membawaku ke tempat ini … Yang Mulia?” Iri berkata pula  sambil terisak.

“Kalian meminta bantuanku. Tentu saja aku tidak akan memberikan bantuan kepada kalian tanpa sebuah pembuktian?”
Iri tak mengerti. “Apa maksudmu?”

“Yang Mulia Era menunjukmu sebagai Gadis Waktu, hanya karena takdir yang dipercayainya. Aku butuh lebih dari sekedar ramalan. Aku perlu bukti bahwa kau memang layak mendapat bantuan Sang Masa Lalu, dengan menerima masa lalumu sendiri.”

Kako menjelaskan panjang lebar. Tapi, Iri tetap tak mau paham. Tubuhnya masih terlalu shock dengan tragedi bunuh diri ibunya tadi. Mengapa … mengapa harus satu-satunya orang yang paling ia sayang? Kenapa harus di saat Iri membutuhkan sosok ibunya? Mengapa Ayahnya tetap tak mau menunjukkan batang hidungnya sampai pemakaman sang ibunda selesai? Kalimat-kalimat itulah yang kini tengah berputar-putat di kepala Iri. Berbagai pertanyaan, protes, dan ketidakterimaan yang tak bisa hilang juga walau sudah hampir delapan tahun berlalu.

Ren. Bagaimana dengan anak itu? Dia yang paling menginginkan untuk melihat kenyataan masa lalunya kan?

“Apa Ren juga kau uji sepertiku?” tanya Iri kemudian.

“Tidak. Aku hanya menuruti apa yang ia inginkan. Kembali ke masa lalu, melihat kenyataan yang disembunyikan oleh sang waktu.”

Iri mengernyit. Satu dugaan yang gadis itu yakini dari jawaban Kako adalah Ren itu Anak Waktu. Jadi, Kako pasti tidak akan meragukan salah satu makhluk yang ada di Dimensi Masa. Tapi, Kenapa Kako semudah itu mengijinkan seseorang untuk kembali lagi ke masa lalu? Bukankah itu tidak baik?

Seakan menjawab pertanyaan yang tidak terlontar dari mulut Iri, sang Ratu menjawab, “aku tidak pernah melarang seorang pun untuk kembali ke masa lalu dan menjelajahinya. Termasuk Anak Waktu maupun manusia. ” Ia menambahkan, “tapi, sekali kau memasuki wilayah kekuasaanku, satu-satunya cara untuk terbebas adalah dengan menaklukkan masa lalumu sendiri. Seperti yang seharusnya kalian lakukan sekarang.”

Iri tetap tidak mengerti. Menaklukkan? Kako berkata seolah-olah masa lalu adalah yang tidak bisa ditanggung oleh semua orang. Dia berkata seolah masa lalu adalah sosok kelam yang tertanam di diri kita, yang selalu menyakiti dan membuat terpuruk setiap orang. Seakan masa lalu yang indah itu tidak pernah ada, sehingga Iri dan Ren harus merubah masa lalu mereka.

Sang gadis berseru pada sang Ratu. Ia berkata, bahwa tidak mungkin seseorang memperbaiki apa yang telah lalu. “Tidak ada yang bisa merubah bubur kembali menjadi nasi, Yang Mulia.”

“Siapa yang menyuruhmu untuk merubah masa lalu?” Kako menyanggah dengan nada dingin dan tatapan yang sangat tajam. Membuat Iri bergidik seketika. “Apa kau sudah meraasa sangat hebat hanya dengan menjelajahi Dimensi Masa dan datang ke Memori Masa? Sampai kau merasa bahwa merubah masa lalu ada di tanganmu?”

“Jangan sombong kau, Gadis Waktu. Akulah satu-satunya yang memegang kendali masa lalu. Akulah satu dari tiga penguasa waktu yang memutuskan untuk menyimpan masa lalu kalian, menguburnya dalam-dalam di alam bawah sadar, atau membakarnya hingga kalian tidak akan pernah bisa ingat!” Sang Ratu meninggikan suaranya.

Amarah Kako membuat Iri gemetar ketakutan. Sang ratu yang awalnya terlihat begitu tenang dan minim ekspresi, berubah 180 derajat jadi menyeramkan. Sontak, gadis berambut hitam itu berdiri dan melangkah mundur perlahan. Berniat kabur dari hal-hal buruk karena telah membuat Kako mengeluarkan hawa menyesakkan.

Akhirnya, Iri memutuskan untuk melangkahkan kakinya secepat mungkin menjauhi Kako, tapi baru beberapa langkah ia menapaki jalan tak kasat mata di ruang kosong ini, Kako berseru, “Kalian hanyalah makhluk lemah! Yang hanya bisa menyalahkan waktu lampau di saat kalian menderita, tanpa mau berkaca padanya!”

Wanita itu mulai melakukan sesuatu di belakang Iri yang tidak berani menoleh padanya. Tiba-tiba, angin berhembus kencang dari arah yang berlawanan dari sang gadis. Menyulitkan Iri untu berlari kencang. Angin itu seakan mendorongnya untuk kembali ke Kako dan bertanggung jawab atas perkataannya.

Semakin keras Iri berusaha untuk mengangkat kakinya, semakin besar gaya tarikan dari arah belakang. Alhasil, gadis itu menoleh, dan mendapati sebuah lubang keperakan setinggi dua meter terbuka di samping Kako. Memperlihatkan pusaran yang siap menyedot Iri dan menelannya kapanpun ia mau.

Iri terbeliak dengan keringat dingin megucur di pelipis gadis itu. Apa yang Kako lakukan!? Kenapa dia membuka portal aneh dengan kerlipan-kerlipan cahaya yang keluar dari dalamnya!?

Bak angin yang menerpa kulitnya keras-keras, sulur-sulur panjang transparan mendadak muncul dari pusaran tersebut. Melilit tubuh Iri mulai dari tangan, kaki, pinggang, hinnga lehernya. Tubuhnya telah terbelenggu total. Ia hanya bisa berdiri kaku tanpa mampu menggerakkan anggota tubuhnya.

Kako berseru sekali lagi, “Tenggelamlah kalian dalam kenangan yang kalian ciptakan! Tangisilah mereka dan rasakan kembali penderitaannya!”

“Buktikan padaku kalau kalian memang pantas menyimpan semua memori berharga itu menjadi bagian dari hidup kalian.”
++++

ZERO : The Lost Time #ODOCTheWWGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang