23 : The Shack

38 9 1
                                    

Semua ini begitu gila hingga Greyson merasakan akal sehatnya akan menghilang.

Ia terbangun dengan badan luar biasa sakit, kepalanya sangat pusing, pandangannya kabur dan ia merasakan badannya memar dimana-mana. Ia menyadari tangan dan kakinya tengah diikat disebuah kursi. Kepalanya masih tertutup karung, ia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk dimana ia berada sekarang.

Ia berusah memberontak, melakukan apa saja agar tangannya terlepas dari ikatan tali yang seakan-akan diberi perekat sehingga ia sama sekali tidak bisa menggerakkan jemarinya. Nafasnya memburu, ia begitu panik.

Meronta sekuat tenaga untuk keluar dari ikatan itu, namun bukannya terbebas, ia malah terjatuh kelantai. Kursi yang ikut mengikatnya juga ikut terjatuh bersama dirinya.

“Hah, jangan banyak bersuara. Dasar merepotkan.” Suara seorang laki-laki terdengar ditelinga Greyson. Ia menjadi makin panik.

“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan padaku?!” Greyson berteriak saat laki-laki itu hendak menegakkan kembali kursi dan dirinya ke posisi semula.

Greyson masih dengan kepala ditutupi karung sama sekali tidak mengetahui siapa laki-laki itu, hal itu membuatnya menjadi paranoid.

“Diamlah! Kau seharusnya tidak ikut campur dalam masalah ini.” Laki-laki itu kemudian membanting sesuatu dan mendadak situasi menjadi sepi.

Greyson pikir laki-laki itu telah pergi. Ia tidak tahu ada berapa orang lagi diruangan ini, ia juga tidak tahu sama sekali ia ada dimana, dan siapa yang membawanya kemari.  Ia benar-benar putus asa dengan situasinya sekarang. Greyson hanya berharap bahwa gadis itu, Melody baik-baik saja, tidak seperti dirinya saat ini.

---

Melody dengan panik mencari kunci disegala penjuru ruangan kecil ini. Ia membongkar setiap laci, menjatuhkan buku-buku yang disusun dirak itu berusaha mencari kunci atau benda apapun yang bisa mengeluarkannya dari ruangan ini. Ia ketakutan setengah mati setelah melihat isi dokumen yang terasa familiar baginya itu.

Dokumen itu adalah dokumen yang sama yang ia ambil dari kamar Lily. Dokumen yang sama yang berisi target Lily. Dokumen yang sama yang membuktikan kejahatan Lily. Dan dokumen itu berakhir diruangan ini, tempat dimana Cameron bilang ia akan aman.

Namun satu-satunya hal yang lebih mengerikan adalah ia melihat fotonya disana, tulisan Die dengan tinta merah tertulis difotonya. Melody tidak tahu siapa yang menulis hal itu. Tapi Melody benar-benar ketakutan dengan pikirannya saat ini.

Siapa sebenarnya Cameron? Kenapa dokumen itu ada padanya? Apa yang akan terjadi padanya jika tetap disini dan mempercayai Cameron?

Melody tahu ia tidak bisa mempercayai Cameron dan harus segera keluar dari ruangan ini. Ia tidak menemukan kunci apapun meskipun telah mengobrak-abrik seisi ruangan kecil itu. Api pada lilin itu bergoyang dengan gusar, sama seperti keadaan Melody sekarang yang tengah bolak-balik disepanjang ruangan, memutar otak.

Harapannya meninggi begitu mengingat ia menyimpan sebuah bobby pin dikantung piyamanya yang kotor itu. Ia dengan cepat merogoh saku piyamanya, kemudian mengangkat tinggi-tinggi bobby pin itu diudara.

Ia akan segera keluar dari sini.

Melody segera berlari ke pintu, membengkokkan bobby pin tersebut dan bersusah payah memasukkan ke lubang kunci disaat tangannya bergetar tak karuan. Ia begitu paranoid, ia tahu tidak bisa mempercayai siapapun. Bahkan tidak pada dirinya sendiri.

Klak

Pintu berhasil terbuka. Melody meraih gagang pintu dan memutarnya, namun sebelum sempat ia menarik pintu itu terbuka, seseorang dengan tenaga lebih besar mendorong pintu itu kedalam, membuat Melody hampir terjatuh dan terkejut setengah mati.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 11, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Behind The Butterflies [A Greyson Chance Fanfiction]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang