Happy reading
Keesokan harinya jisoo mengantar jennie lalu sambil menunggu kekasihnya menyelesaikan kelas, ia mengunjungi salah satu cafe bertemu dengan teman lamanya. Seperti biasa jisoo memesan ice americano. Ia memilih meja di sudut cafe karena disana lebih sepi dari pada sudut lainnya.
Drtt drrt
"Halo" sapa jisoo disertai senyuman
"Halo,kau dimana?"
"Di cafe dekat dari tempatmu,kelas mu sudah selesai?"
"Masih 15 menit lagi,ku tutup dulu gurunya datang"
"Oke fighting my jendeuki"
Tut
Jisoo tersenyum memandangi ponselnya. Mengapa ia jadi tak sabar bertemu dengan gadisnya.
Tok tok
"Maaf tuan bolehkah aku duduk disini?"
Jisoo menoleh. Senyumnya kembali mengembang melihat si pemilik suara.
"Silahkan duduk nona jung,ah sebentar" jisoo bangkit dari tempatnya. Membersihkan bangku yang akan soojung duduki dengan tissue.
"Kau selalu saja berlebihan" Bugh pukul soojung pada pundak kekar jisoo "thank you"
"My pleasure" ucap jisoo dengan gaya bak pelayan seorang putri "jadi bagaimana liburan mu disini?"
Soojung mulai menceritakan perjalanan liburannya di paris selama 2 minggu ini pada jisoo. Gadis itu tampak sangat antusias menceritakan setiap momen liburannya pada jisoo. Beberapa tahun tak bertemu jelas membuat mereka merindukan momen berbincang seperti ini. Itulah sebabnya baik jisoo atau soojung tampak asik berbincang hingga tak sadar akan waktu.
Jennie sudah menyelesaikan kelasnya berinisiatif menyusul jisoo di cafe. Dari pada meminta jemput entah mengapa ia ingin menyusul kekasihnya. Lagipula dia juga penasaran siapa yang jisoo temui. Karena cafe memiliki jendela kaca yang besar alhasil jennie bisa melihat keberadaan jisoo dari seberang jalan. Ia bisa melihat kekasihnya sedang tertawa terbahak bahak tapi sayangnya jennie tak bisa melihat lawan bicara jisoo.
Lampu untuk pejalan kaki berganti warna menjadi hijau. Jennie bersama pejalan kaki yang lainnya pun berjalan ke seberang. Setelah memesan di kasir,jennie berjalan membawa minumannya menuju meja jisoo yang letaknnya cukup jauh dari kasir.
Brakk
Bunyi yang cukup keras itu berhasil mengalihkan seluruh pengunjung cafe termasuk jisoo dan soojung. Jennie berdiri mematung dan tanpa sadar menjatuhkan minumannya usai menyaksikan kekasihnya berciuman dengan gadis lain.
"Jennie" jisoo berusaha meraih lengan jennie namun terlambat kekasihnya sudah lebih dulu berlari dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Tanpa babibu jisoo berlari menyusulnya. Sambil berlari jisoo terus memanggil nama jennie namun tak satupun panggilannya di perdulikan oleh jennie.
"Jen kau salah paham"
Mata jisoo membulat melihat jennie menyebrang tanpa tahu ada sebuah mobil box melaju kencang ke arahnya.
"Jennie!"
Jisoo berlari sekencang mungkin menyusul langkah jennie. Melihat mobil box semakin dekat sekuat tenaga jisoo mendorong jennie ke seberang jalan. Tapi naas tubuh jisoo tersambar mobil box itu. Tubuhnya tergeletak lemah dilumuri darah segar. Jennie terbangun memegangi kepalanya yang sedikit berdarah. Tanpa memperdulikan kondisinya ia berlari mendekati tempat tubuh kekasihnya tergeletak.
"Jisoo!"
Nafas jennie terengah engah dengan peluh membasahi dahinya. Tubuh nya bergetar hebat. Tak lama kemudian sebuah pelukan hangat menenangkannya.
"Aku disini kau tidak perlu takut"
Tangan jennie balik memeluknya erat
"Aku mencintaimu jisoo,jangan tinggalkan aku"
"Aku tidak akan pergi" ucap jisoo sambil mengelus rambut jennie "apapun mimpimu lebih baik kau lupakan karena hal itu tidak akan pernah terjadi"
"Tapi-
"Lupakan jen,mimpi itu hanya akan membuat mu takut. Selama aku bersama mu tidak akan ada hal buruk yang terjadi" jisoo menghapus air mata jennie dengan ibu jarinya "lebih baik kita sarapan ya" jennie menggeleng kembali memeluk jisoo "aku gendong bagaimana?" Jennie mengangguk pelan
Baru beberapa jam jisoo sampai di paris harusnya ia beristirahat tapi kini ia memiliki kewajiban lain. Yaitu mengurus bayi besarnya. Di dapur jennie bisa melihat sepupunya tengah kesusahan membuat bubur. Jennie jadi tersadar bagaimana bisa jisoo dan bobby berada di paris.
"Aku menyerah ini kuserahkan padamu" bobby melepas celemek lalu melemparkannya pada jisoo
"Payah membuat bubur saja tidak bisa" ucap jennie meledek sepupunya
"Berisik,harusnya sekarang aku tidur bukannya malah pusing memikirkan cara membuat bubur" bobby berjalan ke ruang tamu menidurkan dirinya di atas sofa
"Bagaimana bisa kau berada disini?" Tanya jennie memandangi jisoo yang sedang sibuk memasak bubur
"Bobby mendapat kabar dari teman mu kalau kau demam tinggi,awalnya hanya bobby yang berangkat tapi setelah aku meminta izin kepada prof.choi dia memperbolehkan ku ikut pergi" jennie mengangguk anggukan kepalanya
"Tau begitu aku sakit dari dulu agar bisa bertemu dengan mu" jennie tersenyum kecut
"Jangan coba coba membuat ku khawatir,kau tahu kan aku akan melakukan segalanya bahkan hal gila sekalipun untuk mu"
"Okay my doctor" jennie memberikan hormat. Jisoo terkekeh melihat tingkah kekasihnya.
"Ini bubur spesial untuk kekasihku yang sakit karena terlalu lama menahan rindu"
"Mau protes tapi benar kenyataannya seperti itu" jisoo mencubit gemas pipi jennie "aw! Aku sedang sakit teganya kau mencubit ku sekeras itu" jennie mempoutnya bibirnya
"Arraseo mianhae"
"Pokoknya kau harus menyuapi ku baru nanti aku maafkan" sebenarnya cubitan jisoo sama sekali tidak sakit ini hanya akal akalan jennie saja agar dimanja oleh kekasihnya
"Oke oke aku suapi"
Dengan telaten jisoo menyuapi jennie. Meski fisiknya sangat lelah karena baru beberapa menit sampai. Seharusnya ia beristirahat tapi malah harus mengurus jennie. Tapi jisoo sama sekali tidak keberatan. Dirinya malah bahagia bisa menghabiskan waktunya bersama gadis kesayangannya itu. Semua lelah nya terbayar dengan senyuman jennie.
Segitu dulu ye
Big luvv for my readers 🖤

KAMU SEDANG MEMBACA
I Can't Feel My Face
Fanfic"Aku mencintaimu" - Kim Jisoo "Aku tidak yakin bisa mempertahankan hubungan kita" - Kim Jennie Jensoo