Di sinilah Jiyeon. Dalam sebuah kamar hotel yang sang kakak pesan beberapa menit lalu. Tak ada yang Jiyeon lakukan selain memandang pemandangan seoul di luar sana. Ini kamar hotel dengan nomor 401 dan berada dilantai 6. Ya cukup tinggi dan Jiyeon sedikit takut saat melihat ke bawah.
Netranya berbinar menatap pemandangan indah kota seoul. Namun alih-alih pikirannya tertuju pada satu sebuah pertanyaan yang masih bersarang di otak.
Kenapa Jungkook membawanya kesini? Apa tujuannya?
Berakhir dengan mendengus kesal gadis itu benar-benar tidak tau apa maksud keinginan Jungkook membawanya ke hotel. Itu cukup membingungkan bagi Jiyeon. Tentu saja. Ini hotel bukan sebuah restoran atau kedai ice cream dan kopi. Jika sang kakak membawanya ke dalam dua kategori di atas tentu jelas Jiyeon tau bahwa sang kakak ingin mengajaknya makan malam bersama atau makan ice cream bersama. Namun faktanya sekarang tidak. Ia di hotel dan sekarang Jungkook sedang pergi keluar sebentar karena ada urusan penting yang harus di tuntaskan katanya.
Sebentar apanya? Dari mereka pertama kali tiba ke dalam kamar hingga sekarang Jungkook belum menampakkan batang hidungnya. Menggeram tertahan karena sangat kesal di tinggal seenaknya saja oleh sang kakak Jiyeon lalu memutuskan untuk keluar. Memilih untuk berjalan-jalan sebentar untuk mengusir rasa bosan yang sempat datang. Berdiam diri di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa sangatlah membosankan. Jadi, Jiyeon lalu berniat melangkah menuju pintu keluar.
"Aku tidak akan bodoh terdiam diri saja di kamar!" Gerutunya sembari membuka pintu. Namun gadis itu sontak terlonjak ketika mendapati sang kakak yang tau-tau sudah berada tepat didepannya disaat ia telah berhasil membukakan pintu.
"O-oh kakak?" Jiyeon berusaha menetralkan degup jantungnya ketika masih merasa terkejut dengan kehadiran Jungkook.
Jiyeon dapat melihat Jungkook tersenyum, namun perhatiannya lalu teralihkan pada sekantong plastik besar yang tengah Jungkook jinjing. Netra Jiyeon berbinar menatap sekantong plastik besar itu dengan mulut yang terbuka lebar. Jiyeon lalu mendongak menatap Jungkook dengan senyuman yang menghiasi wajahnya,"Woah kakak kau belanja banyak?" Jiyeon menjerit tertahan karena perasaan senang yang membuncah.
Jungkook tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya,"Tentu saja."
Pria itu lalu melangkah masuk melewati Jiyeon. Berjalan menuju sofa dan meletakkan plastik besar itu di atas meja. Dan Jiyeon segera menghampiri Jungkook setelah menutup kembali pintu kamar.
"Jadi ini yang kakak katakan bersenang-bersenang itu?" Jiyeon bertanya seolah tak percaya.
Mendaratkan bokong di sofa tangan mungil itu segera membongkar isi dari plastik besar yang baru Jungkook letakkan di meja. Netranya kembali berbinar menatap sekumpulan berbagai snack didalamnya namun kesenangan di wajah itu seketika hilang tergantikan dengan raut keheranan.
"Apa ini?" Jiyeon segera mengambil sobotol minuman dan menatapnya penuh selidik.
Jungkook mendudukkan diri sembari melepaskan jasnya,"Itu soju, Ji." Pria itu lalu meletakkan jasnya di sofa sebelum kemudian menatap Jiyeon yang masih kebingungan dengan benda di tangannya.
Jiyeon menoleh,"Ha? Soju?"
"Hm, itu sangat enak, Ji. Kau pasti akan ketagihan setelah meminumnya."
Tak ada jawaban gadis lalu kembali menatap lamat sebotol soju ditangannya. Dan sebuah rasa penasaraan mengenai soju itu muncul di benak. Otak gadis itu berputar-putar memikirkan bagaimana rasanya soju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jeon Sibling
FanfictionKetika sebuah fakta bahwa ikatan darah membuat Jungkook dan Jiyeon sangat merasa terbebankan dalam menjalin hubungan mereka. Fakta yang mengatakan jika sebenarnya mereka berdua adalah saudara kandung membuat perasaan cinta mereka tertahan dan memili...
