Karena takut menimbulkan masalah yang semakin besar, Bram, Toni dan Aldi akhirnya memilih membawa Arga ke halaman belakang sekolah.
Sedangkan Adara, ia dibawa ke UKS ketika Marisa tidak sengaja menyentuh kening sahabatnya itu yang terasa panas.
Di halaman belakang sekolah, Arga terlihat menduduki sebuah batang pohon yang sudah ditebang.
Tubuhnya terguncang dengan isakannya yang terdengar jelas, lelaki itu masih menangis.
Bram, Toni dan Aldi yang melihatnya pun hanya bisa diam. Ketiganya tidak tahu harus berbuat apa, mereka hanya bisa membiarkan pikiran Arga tenang terlebih dahulu.
"Bodoh," dan itu adalah kata pertama yang terdengar sejak mereka membawa Arga.
Selanjutnya yang tak kalah mengejutkannya adalah ketika Arga bangkit dan melayangkan pukulan pada dinding dengan sangat keras.
Bugh!
Seketika Bram, Toni dan Aldi pun bangkit. Mereka berusaha menahan Arga namun lelaki itu terus melayangkan pukulannya dan meninggalkan jejak berwarna merah yang diyakini adalah darah yang berasal dari tangan Arga.
"Ar, udah, Ar." Ucap Aldi menenangkan Arga, dilihatnya darah terus mengalir dari tangan sahabatnya itu.
Bram dan Toni meringis melihatnya, "lu gapapa?" Tanya Bram membuat Toni memukul kepalanya, "apaan sih?!" Tanya Bram kesal.
"Elu tuh bego yak! Tangan dia berdarah begitu masih perlu lu tanya gapapa?" Jawab Toni tak kalah kesal.
"Gua bodoh banget, harusnya gua nggak bilang kayak tadi. Gua yang salah, tapi kenapa gua malah salahin dia?" Tanya Arga lirih membuat ketiganya terdiam mendengarkan.
"Harusnya kemarin gua nggak pulang duluan dan nemenin dia, dia pasti kecewa karna nggak nemuin gua disampingnya." Arga terus menyesali perbuatannya.
Melihat darah yang terus saja mengalir membuat ketiga sahabatnya menatap Arga khawatir, "udah, Ar, udah." Ucap Aldi.
Arga menggeleng, "semuanya salah gua, Di." Aldi mengangguk, "iya tapi kita obatin dulu tangan lu, oke?" Tanpa menunggu jawaban Arga, ketiganya membawanya ke UKS.
Tepat di depan pintu UKS, Arga menghentikan langkahnya membuat ketiganya pun ikut berhenti.
"Kenapa, Ar?" Tanya Toni heran, "Dara lagi nangis didalem." Jawabnya yang membuat ketiga paham, ketiganya pun mendengar suara isak tangis Adara meskipun pelan.
"Gua nggak bisa masuk, dia lagi nggak mau ketemu gua." Lanjutnya lirih.
Bram memandang kedua sahabatnya yang lain tetapi mereka malah mengedikkan bahu tak tahu, "oke tunggu bentar."
"Gini aja, kita masuk cuma buat obatin tangan lu oke. Abis itu kita pergi, biar Dara sama cewe-cewe, oke?" Arga tampak terdiam atas usul Bram, kemudian ia mengangguk.
Toni membuka knop pintu UKS, dan seketika tangis Adara pun tidak terdengar lagi.
Ia mengedahkan pandangannya ke dalam mencari petugas UKS yang dikenalnya, "mbak Sarah." Panggilnya setengah berbisik.
Merasa terpanggil, Sarah pun menghampiri Toni. "Ada apa ya?"
Toni memberi aba-aba agar Arga dibawa masuk, "tangan Arga luka, bisa minta tolong obatin kan?"
Melihat darah yang terus mengalir dari tangan kanan Arga, Sarah terkejut, ia langsung menyuruh Arga duduk di brangkar UKS.
"Aduh, kok bisa gini. Duduk-duduk," Toni menatap Sarah dengan tatapan memohon. "Pelan-pelan, mbak." Seketika Sarah pun mengangguk paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARDARA
Teen Fiction[tahap revisi] Putra Argayasa dan Aisyah Adara, orang memanggil mereka Arga dan Dara. Dimana ada Arga, disitu ada Dara dan begitupun sebaliknya. Keduanya saling melengkapi dibalik kekurangan mereka masing-masing. Bagi Arga, Dara adalah hidupnya. Se...
