Saat menyesal

49 2 0
                                    

Hari- hari berlalu tanpa ada perubahan signifikan yang kulihat dari sikap Fahmi juga Endra kepadaku. Fahmi dengan kebaikan dan kesabaran hatinya selalu ada membantu menggapai mimpiku. Selayaknya sahabat sejati dia tidak pernah meninggalkanku walaupun akhirnya dia akan menikah dengan Vira teman mengajarku dimadrasah dulu. Terbukti benar setiap ucapannya dulu saat kutolak, dia tetap bersahabat denganku dan mau mengajakku bekerja ditempat dia bekerja kini. Sehingga aku selulus kuliah bisa bekerja di salah satu perusahaan cukup besar yang ada diJakarta. Endra pun masih seperti dulu, masih rajin menghubungiku tapi tetap tak ada kemajuan dalam hubunganku dengannya hanya bergulat dengan untaian kata tanpa ada pertemuan.
Ketika semua laki- laki yang mendekat dalam hidupku hampir tak ada yang berubah sikapnya padaku, Endra dan Fahmi.
Disaat perubahan tak nampak pada diri mereka, aku yang menyadari bahwa aku telah perlahan berubah dan meninggalkan diriku yang dulu semenjak bekerja ditempat yang baru, berkenalan dengan orang-orang yang baru yang beraneka ragam karakternya tapi istimewanya mereka sangat taat beribadah. Aku semakin merasa bersyukur atas karunia-Nya, karena banyak dikelilingi teman- teman yang selalu mendekatkan dirinya pada Allah dan senantiasa memotivasi aku menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentu saja, maka pemahamanku tentang hubungan cinta juga bukan lagi berdasar novel- novel cinta yang dulu harus kubaca dan kupahami dalam pelajaran literatur dikampus. Lebih dari itu semua, ku menyadari kini, sejatinya cinta adalah saat kita bisa mencintai cinta yang hakiki dan tidak fana, yaitu cinta kepada Allah, sang penguasa cinta.

Aku harus bisa mencintai Allah terlebih dulu baru aku bisa memahami sepenuhnya arti mencintai makhluknya. Pemahaman ini yang membuatku yakin hubunganku selama 10 tahun ini dengan Endra adalah hal yang salah. Memang tak ada yang salah yang kami lakukan dari dulu,sejak zaman surat, SMS dan telepon kami hanya berkutat dengan untaian kata-kata, daripada kebersamaan nyata, yang malah perannya sebagai pacar tidak pernah benar-benar dalam arti sebenarnya, dia seperti ada dalam hayalanku saja. Mungkin itu yang membuat aku belum mau benar-banar melepasnya karena dia tidak benar-benar nyata berinteraksi denganku disini. Kadang aku juga berpikir, apakah seandainya jarak tak pernah ada diantara kami apakah kami tetap bisa bertahan sampai kini? Dia layaknya sebuah mimpi, yang setelah selesai membaca smsnya atau berbincang dengannya melalui telepon, aku kembali harus terbangun untuk menyadari sebenarnya hidupku sendiri tanpanya. Aku harus melalui hari-hariku yang indah sendiri, begitupula untuk mengatasi semua permasalahan, aku tetap sendiri, walaupun ada ibu dan teman- teman yang membantu, tetap tak ada dia sebagai pacarku. Selebihnya hanya Fahmi laki-laki yang selalu ada membantuku disini.
Meskipun begitu, pacaran tetap saja dilarang oleh agama. Apapun bentuknya. Itu yang kupahami dari membaca buku-buku agama yang membahas hubungan cinta, atau novel cinta bernafaskan Islam yang selalu Fahmi dan Vira rekomendasikan untukku. Mereka ingin aku bisa seperti mereka memiliki hubungan dalam keridhoan Allah. Tanpa pacaran, hanya melalui proses khitbah, ta'aruf lalu menikah.
Saat aku menyadari hakikat cinta sesungguhnya, dari membaca atau ikut pengajian dikantor, semua terasa sudah terlambat. Karena sesungguhnya Allah telah mengirimkan cinta sejati untuk mengetuk pintu hatiku sejak lama, namun entah mengapa aku baru menyadarinya pada saat aku sudah rapi berpakaian untuk datang ke acara pernikahannya. Dia yang selalu ada untukku disini tanpa pamrih, dia yang menawarkan indahnya hubungan tanpa pacaran untuk memuliakan diriku, sahabatku selama ini, Fahmi.
Namun perasaan sesal itu bisa cepat aku atasi saat melihat senyum Vira saat selesai didandani perias dan mengingat ucapannya padaku semalam." Kau akan menemukan cinta yang kau tunggu asalkan tak ada lagi hubungan cinta yang salah lagi dihidupmu. Berjanjilah kau akan segera meninggalkannya." Kata- kata itu yang kini menjadi obat penawar sesalku.
Rasa sesal yang tak pantas ada, malu rasanya jika ada yang mengetahui perasaanku saat ini. Benar kata orang kita tidak akan pernah benar- benar merasa kehilangan seseorang jika kita tidak benar- benar kehilangan orang tersebut. Setelah pernikahan ini, aku harus menjaga jarak dengannya. Walaupun dari dulu juga tetap ada batasan diantara kami. Tetap saja kini akan berbeda, karena ada ikatan suci yang membuat kami benar-benar harus memahami kini ada hati yang harus dijaga. Agar tak kan pernah ada rasa-rasa yang tak boleh tumbuh bahkan ada sedikitpun dihati kami.
Aku menatap diriku dicermin, terlihat bayangan seorang gadis yang matanya penuh penyesalan, namun beberapa detik kemudian aku baca doa dalam hati, agar menguatkan hatiku untuk ikhlas menerima semua takdirNya. Senyuman pun terlihat diwajahku, juga diwajah perias yang dari tadi meriasku.
"Cantik mbak Rani juga, nggak kalah sama pengantinnya. puji perias itu padaku.
" Alhamdulillah, makasih" sambil menahan tawa karena ada juga yang berhasil meriasku dengan sabar.
Aku tidak suka berdandan, lipstik pun jika aku bekerja saja baru kupakai, itu juga karena ibuku yang ribut karena aku terlihat pucat jika tidak memakai lipstik. Kalau saja bukan Vira yang ingin aku dirias, aku malas berjam-jam duduk dengan sabar saat perias itu mendandani wajahku dengan segala macam rangkaian perawatan wajah ini.
Vira ingin aku juga dirias, karena menurutnya ada andilku juga dalam pernikahan nya dengan Fahmi, laki-laki yang telah lama ia idamkan bisa menjadi suaminya, Alhamdulillah Allah mengabulkan nya. Menurutnya karena dulu aku menolak, maka Fahmi bisa menjadi miliknya. Tentu saja aku tidak sependapat dengannya, karena semua karena Allah,yang saat itu tidak menggerakkan hatiku untuk menerima Fahmi. Kebahagiaan terpancar diwajah mungilnya mendengar penjelasanku. Aku ingat saat Fahmi menyatakan bahwa telah mengkhitbah Vira. Aku tersenyum dan memberikan selamat padanya. Aku lihat kebahagiaan mereka dalam menjalani ta'aruf dan proses persiapan pernikahan. Tak ada rasa cemburu atau apapun saat itu melihat kebahagiaan mereka, mungkin besarnya rasa bersalahku pada Fahmi karena menolaknya dan dia balas dengan kebaikan yang tak terhingga padaku. Mereka orang- orang baik dan pasangan yang cocok. Pantas lah Allah menjodohkan mereka berdua.
Kesunyian merebak saat Vira dan semua orang pamit meninggalkan aku sendiri di ruangan rias yang beberapa jam tadi penuh dengan ibunya dan saudara-saudaranya yang sedang dirias. Aku tatap wajahku sekali lagi dicermin, mencoba memantapkan hati untuk mengusir godaan buruk rasa sesal yang tak ada gunanya lagi kini. Aku langkahkan kakiku dengan senyum manis dibibirku, semoga semanis momen-momen yang menantiku selanjutnya, bergegas keluar ruangan rias, mengikuti panggilan Vira agar segera naik ke mobil menuju gedung pernikahan.

Seindah kasih untuk RaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang