Cinta itu dapat menyembuhkan luka...
Pagi ini, kata-kata itu masih terngiang di telingaku, menemani sarapan pagi ku di hari Minggu, itu kata-kata Sina ketika kami bertemu di Bandung, sesaat setelah mengetahui aku putus dengan Endra, dia menyayangkan keputusan ku, aku tahu banyak yang akan berpikir itu, mengingat lama nya hubunganku selama ini. Tapi akhirnya Sina juga bisa mengerti dan mulai memahami pandanganku sekarang tentang suatu hubungan cinta, dia mendoakan agar aku segera bertemu cinta sejatiku.Semalam aku dan ibu diantar Vino naik mobil, kami sampai dirumah jam 3 pagi, lalu tadi subuh Vino pamit pulang lagi ke Bandung. Aku tak ada rencana kemanapun hari Minggu ini. Selain cukup lelah dari Minggu lalu acaraku cukup padat setiap akhir pekan, mulai dari kekampung, dan kemarin ke Bandung, aku juga kini mulai merasa demam flu mulai melanda.
Ibu sudah ribut menyuruhku meminum obat, tapi aku merasa cukup dengan hanya minum air hangat dan tidur atau beristirahat santai, insyallah aku sembuh bisa bekerja besok pagi.Sudah jam setengah dua siang, saat ku tiba-tiba terbangun dari tidur karena seperti mendengar bunyi telepon, segera kuterima tanpa kulihat namanya terlebih dulu.
" Assalamualaikum," ucap seseorang jauh diujung telepon
"Waalaikumusalam." Jawabku sambil menahan pusing yang kini semakin kurasa akibat flu ini.
" Kamu dimana, Ran?" Tanya seseorang yang suaranya mulai kukenali
"Dirumah" jawabku datar
" Aku mau main ke rumahmu boleh? Tanya seseorang, yang kini benar-benar aku yakin adalah Rais
" Boleh,
" Kirimkan alamatmu ya
"Ia, jawabku sambil menutup telponnya, lalu mengirimkan SMS yang berisi alamat ku padanya.Lalu pikiran ku mulai mencerna apa yang tadi dia bilang. Seketika juga aku kaget saat baru menyadari dia mau main ke rumah. Tadi aku belum sadar sepenuhnya karena bangun tidur saat menerima telepon nya. Lalu aku bersiap menunggu kedatangannya.
Bunyi telepon dari Rais menggangu kegiatanku, yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Dia minta dijemput olehku diterminal.Lalu aku bergegas menjemputnya. Saat aku turun dari angkot ada dia sedang berdiri ditrotoar jalan. Aku membalas senyumnya, lalu menyusuri jalan bersamanya mencari angkot jurusan rumahku. Di dalam angkot aku duduk berhadapan dengannya. Kami banyak diam sepanjang jalan, hanya obrolan ringan saja tak ada hal penting yang kami bicarakan. Saat itu pula kata-kata mang Darko terngiang kembali,benarkah hal itu? Pemilik beberapa toko buku, walaupun tidak terlalu besar tapi cukup bisa dibanggakan. Tapi kemana-mana naik angkot? Tidak punya kendaraan? Seandainya benar sangkaanku padanya, orang didepanku ini cukup menarik kepribadiannya. Karena tak seperti kebanyakan pria yang ingin terlihat wah didepan semua orang, apalagi didepan wanita, kadang sampai harus berbohong dengan segala cara.
Semoga kekagumanku karena tawadhu dan kesederhanaan yang ada pada dirinya tidak berubah menjadi rasa lain yang kini aku mulai hindari keberadaannya.Kami sampai dirumah, ibu menyambutnya biasa seperti jika ada temanku datang ke rumahku. Aku bergegas mengambil minuman dan cemilan seadanya, lalu segera menawarkannya untuk segera dicicipi. Dia tersenyum lalu minum air teh buatan ku.
Aku mengawali pembicaraan, sambil duduk tepat dihadapannya
" Jauh ya rumahku? Kata-kata klise yang bisa keluar dari mulutku untuk mengawali pembicaraan kami."Lumayan, tapi nggak jauh-jauh banget, yang hebat kamu pulang pergi kerja tiap hari dengan kondisi dijalan seperti itu.
" Kalau mencintai pekerjaan kita, insyallah bahagia terus jalaninnya apapun kondisinya
"Betul banget, dia tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah buku dan menyodorkannya untukku. Saat kuterima judulnya adalah La Tahzan, buku yang cukup terkenal dan aku memang sedang mengincarnya.
" Bagus bukunya, baca deh" ucapnya
" Ia aku tahu, aku memang lagi cari buku ini
" Ia cocok buat kamu" ucapnya
"Buat aku? Kenapa" tanya ku bingung
" Aku tahu Ran, dari semua postinganmu di FS tentang pernikahan. Juga tentang kamu dan dia. " Ucapnya sedikit sok tahu
Aku terdiam, seakan ada lebah yang menyengat ku jika harus mengingatkanku dengan Endra. Aku tak ingin membahasnya lagi karena akan membuatku separuh marah, sedih dan rasa-rasa lain yang nggak ingin aku perlihatkan padanya.
Aku cuma mengangguk, dan mengalihkan arah pembicaraan kami dengan berterima kasih padanya sudah mencarikan buku ini untukku. Kuteliti harganya tak nampak didepan dan belakang cover bukunya, aku terus membolak balik cover bukunya.
" Cari apa kamu?" Tanyanya bingung
Aku tersenyum malu-malu lalu bicara "berapa harga buku ini?"
" itu nggak bisa kamu bayar, harganya sangat mahal" sambil sedikit tertawa
" Berapa memangnya? Sampai aku nggak bisa bayar." Tanyaku sangat bingung sambil mengerutkan dahi ku
" Kamu lucu dari dulu nggak berubah, ucapnya sambil terus tertawa
Aneh deh aku tanya harga malah ketawa dan bilang aku lucu, memangnya aku ini badut apa ya. Aku bergumam dalam hatiku.
Sebelum aku bicara lagi, dia segera menyelaku
" Itu gratis neng buat kamu" sambil menatapku
Sejak kapan dia genit begitu,berani menatapku lama, kualihkan pandangan ku darinya, yang membuat dia juga mulai mengalihkan pandangannya dariku. Lalu dia segera mengalihkan pembicaraan kami ke hal lain, lebih banyak bercerita ke masa lalu didesa dan juga mengingat masa sekolah kami di SMP.
Yang ternyata dia cukup memperhatikanku juga, katanya aku lucu, cukup pintar, dan cukup lugu nggak mirip gadis kota yang seharusnya.
" Juga cukup jelek kan" aku menambahkan penilaian nya tentangku sambil tertawa
" Kamu nggak jelek ko, bela nya
"Ia cuma nggak cantik aja kan, sambungku menimpalinya
"Seiring berjalannya waktu, kriteria cantik akan berubah bagi setiap orang, sama hal nya dengan kriteria menentukan pendamping, Ran." Ucapnya sangat bijak dan cukup serius
Dia mulai menakutkan kini, kalau sudah mulai serius, walaupun cukup keren juga pemikirannya menyambungkan kriteria kecantikan dengan mencari pendamping.
Tapi siapa pacarnya ya kini? Yang kutahu dengan temanku telah lama putus? Ada apa denganku yang jadi penasaran dan memikirkan hal itu. Yang tanpa kusadari aku terbawa suasana hatiku, ingin menanyakan hal yang memalukan padanya. Sungguh terlihat aku ingin tahu tentang pacarnya. Tapi biarlah agar menjadi penghalang kekagumanku padanya, harus kutanyakan." Memangnya kriteria pacar kamu sekarang berubah ya?
Rais hanya tersenyum, lalu menjawabnya
" Ia lah, seperti tubuh dan jiwa kita juga terus berkembang, tapi kini aku nggak mau pacaran, just like you, don't. Jawabnya tegas
Tapi yang dia ucapkan benar, semakin dewasa usia seseorang akan berubah pula kriteria yang diinginkan dalam mencari pendamping, cukup bijak, tidak hanya bersandar pada fisik seseorang. Dan point yang paling menggetarkan aku adalah kata-kata nya " aku nggak mau pacaran lagi, Rani, sama sepertimu, nggak" Ya Allah berikanlah aku kekuatan agar aku tak semakin kagum padanya.
Tahan Rani, jangan kamu biarkan menaruh rasa pada orang yang belum tentu menjadi jodohmu. Aku mengingatkan diriku berkali-kali untuk menghadapi Rais dengan pesonanya dihadapan ku kini. Yang memiliki pandangan cukup sama denganku tentang hubungan cinta. Aku harus alihkan pembicaraan tentang pendamping ke hal yang lain, sebelum aku benar-benar menjadi pengagum rahasianya.
Tiba-tiba ibu datang menyuruh Rais makan gado-gado yang menjadi menu kami hari ini. Dia tak menolak, lalu aku dan dia makan bersama. Setelah shalat ashar dia pamit pulang, dan aku hanya mengantarnya sampai pagar seperti yang dia minta. Dia berlalu, dan aku masuk kembali dan dimeja tergeletak sebuah buku, yang akan menemani detik-detik liburan hari Minggu ku yang akan berakhir sebentar lagi. Kudengar ibu menyuruhku untuk minum obat flu, aku lupa aku sedang sakit hari ini, namun ada kekuatan entah darimana yang belum kusadari, membuatku bisa menjemput dan menemani Rais tadi. Seperti buku yang dia berikan untuk mengobati jiwaku, kedatangan nya hari ini juga mampu memberikan kekuatan pada ragaku yang sedang sakit....terima kasih Rais, semoga Allah membalasnya, ucapku dalam hati.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seindah kasih untuk Rani
RomanceKisah seorang gadis yatim yang berusaha meraih cita dan cintanya. Hidup akan menghadapkannya pada beberapa pilihan. Mampukah ia menentukan arah yang terbaik baginya. Atau hanya mengikuti keegoisan diri.