Saat hidup bersamanya

101 2 2
                                    

Tak terasa sudah hampir sebelas tahun berlalu sejak saat itu. Sejak saat pertama kali kudengar dia mengucapkan, "saya terima nikahnya Maharani binti... Sejak saat itu pula dihatiku hanya ada satu cinta dan satu nama, Rais, suamiku yang memberikan tangannya untuk menggenggam tanganku menuntun ku bersama meraih cintaNya.

Kini aku bahagia dengan hidupku, dengan kegiatan baruku menjadi ibu rumah tangga sekaligus guru bagi anak-anakku, terkadang aku menjadi kasir, manajer, akuntan, bahkan direktur utama di toko buku yang dari dulu suamiku rintis. Aku memiliki banyak profesi hanya dengan menjadi seorang entrepreneur atau pengusaha toko buku. Aku seperti dalam mimpi-mimpiku dulu yang selalu berhayal aku memiliki banyak buku yang bermacam-macam bisa ku baca. Allah mengabulkannya menjadikan Rais suamiku yang memiliki usaha toko buku. Membuatku selalu bisa menyalurkan hobi membaca ku.

Namun tak semua harapan dan mimpiku menjadi kenyataan tapi aku tahu Allah menentukan semua itu untuk kebaikan ku.
Seperti karirku tak berlanjut setelah menikah, karena kuputuskan total menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku, tak mudah melakukan nya, kadang selalu muncul rasa sayang melepas karirku karena banyak usaha dan air mata mengiringi aku mewujudkan cita-citaku, namun itu tak sebanding jika melihat dan menyadari besarnya tanggung jawab yang harus kupegang terhadap buah hati titipan Allah.

Lalu kisah pertamaku dalam menjalani suatu hubungan yang tak berujung pernikahan, namun dapat memberikan pengalaman berharga yang bisa kuajarkan pada anak-anakku nanti. Agar mereka menghindari apa yang kulakukan di masa mudaku. Menjaga hati agar tak mencintai orang yang belum tentu menjadi jodoh kita untuk menghindari kecemburuan yang mungkin timbul pada pasangan kita jika sudah menikah nanti, hadiah terbaik bagi pasangan kita setelah menikah, adalah tak memiliki mantan pacar. Insyallah akan sangat indah, seperti kisah cinta dalam diam nya putri Rasulullah SAW, Fatimah Az Zahra terhadap Ali bin Abu Tolib. Selain itu juga menghindari kebencian yang mungkin timbul jika hubungan pacaran kita putus, pasti akan ada luka disana, yang hanya kebesaran hati yang bisa mengobatinya. Bukankah cinta tak selamanya harus memiliki, disaat kita bisa ikhlas melihat orang yang kita sayangi bahagia dengan hidupnya, disitulah letak arti cinta yang sejati. Karena kita hanya manusia yang hanya bisa berharap dan berusaha, namun tetap Allah yang menentukan.

Seonggok kisahku dalam menemukan hakikat cinta dan cita-citaku yang hakiki sebagai seorang wanita. Penantian panjang cintaku untuk sebuah pernikahan, yang ternyata bersama lelaki yang bukan berasal dari mimpi-mimpiku sebelumnya, namun semua yang kudamba dari seorang lelaki ada semua dalam diri suamiku kini. Juga pengabdian dari sebuah konsekuensi yang harus kulakukan dari sebuah pernikahan, yang disana ada suami dan anak-anakku,yang harus lebih ku utamakan, yang mau tak mau aku harus melepaskan egoku mempertahankan cita-citaku dulu.

Cita-cita ku kini bukan lagi untuk meraih gengsi bekerja di perusahaan besar seperti dulu, kutukar dengan kebanggaan memiliki anak-anak sehat, pintar dan Sholihah yang semoga pada akhirnya nanti akan menuntunku menuju surga dan kebahagiaanku yang sesungguhnya.

Seperti yang Rais bilang dulu, seiring berjalannya waktu, keinginan dan cara pandang kita akan berubah terhadap sesuatu hal. Begitu pula cara pandang ku terhadap cita-cita dan cinta telah berubah. Karena suami, anak dan hartaku tak akan selamanya menemaniku. Maka mulai dari sekarang, kuharus mempersiapkan diri dengan terus berusaha mendekat kepadaNya dan berlatih ikhlas jika saat nya tiba ku harus meninggalkan selamanya, semua yang ku cita-citakan dan ku cintai didunia ini. Demi mewujudkan cita-cita dan cintaku yang hakiki di akhirat nanti, yaitu menggapai ridho dan cintaNya.

Itulah sebuah fase dalam hidup kita yang sejatinya semua orang akan menghadapinya, kematian. Sebuah fase menuju cinta yang hakiki, cintaMu ya Allah. Walaupun mungkin keikhlasan dan pengorbanan itu tak kan sebanding dengan seindah kasih untukku...dariMu ya Allah

Bogor, Oktober 2019

Seindah kasih untuk RaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang