Saat putus cinta

69 2 0
                                    

Sudah beberapa hari ini, hidupku bebas tanpa drama putus cinta lagi darinya. Aku sudah mengganti no hp ku. Untung saja, aku jarang memberi no hp ku pada orang lain yang tidak benar-benar berinteraksi setiap hari denganku, atau mungkin apa aku memang tak terlalu punya banyak teman,aku tak mau ambil pusing, yang penting jika aku ganti nomor seperti sekarang, aku tak harus repot banyak mengirim pesan memberitahu no hp baruku kepada semua orang, karena hanya sedikit yang tersimpan dikontak hp ku.
Jauh dalam hatiku, sebenarnya aku juga merasa kehilangannya, yang kusadari itu alami terjadi jika putus cinta karena dia orang yang cukup lama memberi kisah dihidupku dan mungkin juga aku baru merasa benar-benar sendiri kini, tanpa ada hubungan cinta dengan siapapun. Namun bukan juga berarti aku menyesali keputusanku. Aku sudah melewati ribuan rasa yang akhirnya mengantarkan aku pada satu titik keinginan, lebih baik sendiri tanpa pacaran, sesuai dengan pemahamanku kini.
Aku baru saja selesai shalat dan makan siang, sebelum akhirnya aku iseng membuka emailku yang sudah 2 hari sejak aku putus dengan nya tidak sempat kulihat lagi. Nama itu muncul lagi, diantara pesan-pesan dari teman dunia mayaku. Seketika yang muncul dibenakku, adalah "Ada apa dengan Endra? apakah dia menyuruh Rais lagi mengirimkan makalah untuk kuliahnya? Yang belum lama kuketahui Rais bekerja di Toko buku. Lalu kubaca pesannya cepat- cepat sebelum jam istirahatku berakhir 5 menit lagi.

Jakarta, 1 Februari 2008

Assalamualaikum,
Pakabar Ran?
Bagaimana makalah nya yang kemarin aku kirim untuk Endra? Dia nggak balas SMS juga telpon ku dari kemarin. Oia, Apa dia masih di Jakarta?

Itu isi email darinya. Aku menggeleng kan kepalaku sambil menahan tawa, tanda tak mengerti, mengapa ada orang seperti itu, yang tidak mengucapkan terima kasih kepada temannya setelah dibantu, paling tidak memberi kabar sudah diterima makalahnya. Lalu aku balas email dari Rais dan berterima kasih atas bantuannya.
Mungkin juga Endra belum sempat, atau apa dia masih bersedih? tentu saja tidak mungkin dia masih bersedih, dia yang kukenal tidak seperti itu. Terlihat dari gaya santainya jika menyikapi setiap masalah dulu saat aku masih bersamanya, jauh berbeda denganku yang terlalu larut memikirkan saat ada masalah.

Aku merasa aku bukan sesuatu yang benar-benar dia inginkan dihidupnya, andai aku begitu berarti, mungkin dia akan berusaha memahami keinginanku yang beberapa tahun terakhir selalu menjadi pokok pembicaraanku dengannya. Aku ingin dia segera menghalalkan hubungan ini. Bekerja apa saja yang penting halal sambil dia melanjutkan kuliah, bukan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Seandainya tidak melanjutkan kuliah juga tidak menjadi masalah karena rezeki kita tidak bergantung dari pendidikan kita saja. Banyak teman kuliah ku dulu sudah menikah saat masih kuliah bukan karena telah melakukan hal yang dilarang agama, tapi mereka takut untuk melanggar ajaran agama. Mereka bisa bertahan sampai lulus kuliah, dan akhirnya sama-sama bekerja. Dengan begitu cinta mereka lebih kuat karena berjuang dari awal bersama. Jika saja dia memahami indahnya cinta dalam ikatan pernikahan ,seperti aku dan yang lainnya yang memahami pernikahan itu tidak melulu soal mapan atau tidaknya seseorang secara finansial. Bagiku kemapanan seseorang lelaki bukan dilihat dari harta juga pekerjaannya atau pendidikannya, tapi kemauan dan usaha nyata yang membuat orang disekelilingnya bangga padanya. Karena besar kecil penghasilan setiap orang relatif berbeda dalam mensyukurinya.
Lelah rasanya jika mengingat perbedaan kami di masa lalu dalam memahami tentang hubungan cinta dan pernikahan. Namun keyakinan ku tentang cinta dan pernikahan dalam Islam semakin kuat, semoga selalu terjaga dan tidak goyah. Seperti kata-kata para ulama, yang pernah kubaca buku nya adalah "tidak ada obat mujarab bagi para pecinta, selain pernikahan" . Kalau tidak ingin menikah ya sebaiknya fokus belajar, atau bekerja. Sedangkan yang terlanjur jatuh cinta, simpan cinta itu dalam diam, lalu diam-diam mendoakannya menitipkannya pada sang pemilik cinta, atau cukup tidak mengumbar rasa dalam bentuk pacaran. Seperti yang kini aku sedang jalani, sendiri sambil menghapus harapan-harapanku bersamanya.
Ada bunyi SMS, saat jam istirahat ku berakhir. Kubaca dari Vira, yang mengajakku bertemu hari sabtu untuk mengantarnya beli buku. Lalu kubalas menyanggupi nya. Teman-teman kantor mulai datang ke ruangan, saatnya aku bekerja kembali. Menyenangkan sebenarnya bekerja ditempat yang cukup bergengsi ini, tapi sebenarnya aku lebih menyukai irama kerja di madrasah yang menyatu dengan anak-anak, menjadi guru sejatinya kita akan menjadi long life learner. Diibaratkan untuk bisa menjadi guru terbaik yaitu dengan memacu diri kita untuk belajar terus sepanjang hidup kita. Yang kusadari suatu saat aku ingin menjadi seorang guru lagi, setidaknya bagi anak-anakku nanti. Saat ini biarlah kunikmati saja pekerjaan ini, karena aku masih membutuhkan nya.

Seindah kasih untuk RaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang