" Ran"
"Kita ke kantin yuk", ajak Yuni teman sebangkuku
"Nanti lagi matematikanya, aku juga belum selesai,"
"Rajin banget sih kamu, itu kan PR"
"Iya, cuma nanggung banget ini tinggal 2 nomor lagi" jawabku sambil mengalihkan pandanganku dari buku matematika yang dari tadi memaksaku menahan lapar.
Dari bel istirahat tadi aku cuma ke masjid untuk shalat duhur dan langsung kembali ke kelas. Aku tidak mau menumpuk pr karena sehari bisa ada 2 sampai 3 pr dengan materi pelajaran berbeda. Aku sudah kelas 3 kini, wajar sekali banyak tugas dan latihan yang harus kukerjakan.Oleh karena itu aku ingin menggunakan semua waktuku sebaik mungkin untuk belajar Agar aku bisa dapat beasiswa untuk kuliah selepas lulus SMA, jadi ibu tidak akan kebingungan untuk membayar uang kuliahku.
Aku dan Yuni berjalan berdampingan ke kantin. Sepanjang jalan menuju kantin, Aku hanya mendengarkan Yuni bercerita tentang kebahagiaan yang kini dia rasakan karena kakak kelas nya, Paundra, yang selama ini dia taksir saat SMP ternyata sekolah ditempat yang sama dengan Dewa, kakak kandungnya dan mereka kini menjadi sahabat dekat. Lalu, betapa histerisnya dia saat melihat lelaki yang dia suka ada dirumahnya dan perasaan malunya saat dia melakukan kekonyolan-kekonyolan yang dia lakukan didepan Paundra. Seperti memakai kerudung terbalik karena terlalu bersemangat saat disuruh kakanya mengantar minuman dan tanpa sengaja terlalu banyak menuang air ke dalam gelas Paundra sampai membasahi meja, karena dia terlalu lama menatap wajah tampan Paundra. Atau hal nekad yang dia lakukan tanpa sepengetahuan Paundra, yaitu membuntutinya dengan mengayuh sepeda berkilo-kilo hanya untuk mengetahui rumah Paundra. Aku hanya menimpali dengan tersenyum dan tertawa mendengar kisahnya. Cinta kadang membuat orang melakukan hal-hal diluar jangkauan. Cinta juga biasanya hinggap pada keindahan paras dan tingkah laku seseorang atau dari rasa nyaman yang tercipta dari sebuah kebersamaan, jalinan waktu yang akan membuka misteri kesetiaan rasa itu , pantaskah bersemi atau berguguran.
Yuni dan aku memiliki sedikit persamaan dalam hal percintaan. Walaupun menurutku aku lebih beruntung dibanding Yuni yang memiliki cinta dalam diam yang entah kapan akan berujung kepastian, setidaknya aku memiliki hubungan dengan orang yang jelas memiliki perasaan yang sama denganku. Sebenarnya banyak persamaan-persamaan kami berdua yang membuat kami dekat sejak pertama kali bertemu disekolah, tapi dalam masalah percintaan kami memiliki rutinitas yang hampir sama tiap akhir pekan yaitu hanya dirumah dan dihabiskan bersama keluarga, tidak seperti mayoritas teman perempuan sekelas kami yang tiap akhir pekan pacarnya apel ke rumah, entah hanya ngobrol dirumah atau pergi jalan-jalan keluar rumah.
Jika sedang berbicara dengan Yuni, kadang aku selalu ingat kebersamaanku dengan Sina. Senyumnya juga sangat mirip, itu karena lesung pipit yang selalu terlihat diwajah manis mereka. Karakter mereka pun tidak terlalu berbeda, tentu saja karena mereka sama-sama tertarik dan betah bersahabat dengan orang yang jarang bicara sepertiku. Yang membedakannya hanya Yuni lebih cerewet dan manja, mungkin karena dia anak bungsu di keluarganya. Kerinduanku pada Sina langsung menggelayutiku, menghadirkan banyak tanya dikepalaku. Sedang apa Sina kini? Jadikah ia menikah dengan orang pilihan orang tuanya? Jika itu benar terjadi, sungguh malang nasibnya, tidak melanjutkan SMA dan harus menikah dengan lelaki yang usianya terpaut sangat jauh dengannya tanpa cinta. Sebelumnya aku dan Sina masih berkomunikasi lewat surat selepas aku pindah ke Jakarta. Kami masih saling menitipkan surat kepada mang Darko yang merupakan pamannya Sina. Tapi itu hanya bertahan setahun, karena mang Darko kena phk dan pulang kedesa menjadi petani. Sejak saat itu komunikasi kami terputus.
"Ran, udah selesai belum makan baksonya? Yuni ternyata telah selesai dari tadi menghabiskan semangkok mie ayamnya dan kini sedang menyedot es teh sambil melirik ke jam tangannya
Aku hanya mengelengkan kepala sambil cepat-cepat menghabiskan makanan dan minumanku. Tidak lama kemudian bel berbunyi tanda jam istirahat telah berakhir. Aku dan Yuni segera meninggalkan kantin dan bersama teman- teman lainnya berlari kekelas, tak ingin kena omelan ketua kelas kami, Evi, yang super judes. Dia sangat terobsesi mempertahankan juara kelas teladan yang sudah turun temurun dari dulu melekat menjadi kebanggaan kelas 3 IPA 1, kelas kami kini. Kami merasa dia sangat mendisiplinkan kami semua. Dia tidak mau jika ada diantara kami yang tidak disiplin atau telat masuk kelas karena itu akan mengurangi poin untuk mempertahankan juara kelas terbaik.Untuk mewujudkan obsesinya dia membuat banyak peraturan di kelas yang jika kami langgar itu sama artinya kita dengan sukarela harus melihat wajah judesnya dan mendengarkan ocehannya yang panjang melebihi skripsi di Bab isi. Tapi hebatnya walau terkesan diktator, Evi berhasil membuat kelas kami selalu mendapat pujian dari para guru dan membuat kami menjadi disiplin setidaknya saat disekolah meskipun sejujurnya kami lumayan tertekan juga. Untungnya saja kelas kami mayoritas berisi makhluk-makhluk introvert yang rajin belajar. Jadi Evi tidak kesulitan menjalankan misinya mewujudkan obsesinya sebagai ketua kelas teladan di kelas terbaik.
Dirumah sepi saat aku pulang sekolah, tak ada irama mesin jahit ibu. Akupun tak melihat ibu duduk dimeja kerjanya. Hanya terlihat beberapa tas dan kardus disamping kursi dan meja diruang tamu.
"bu, Rani udah pulang" sambil melangkah masuk ke kamar ibu
"ia Ran, ibu mau ke kampung, ada surat nenekmu sakit
"Rani belum libur kan, apa izin sekolah ya?duduk dipinggir tempat tidur ibu dan mataku memperhatikan ibu berdandan.
"nggak usah ikut, kamu sudah besar pasti sudah berani kan dirumah sendiri?
"aku ingin menjenguk nenek juga , lagipula ujian masih lama kan bu"
Ibu selesai berdandan dan berbalik menatapku
"jadi kamu mau ikut?
Senyuman dan tatapan penuh harapku terpancar dari wajahku, saat ibu mengganggukkan kepalanya menyetujui keinginanku
" Jangan lupa titip surat izinmu ke Winda
Aku menggangguk, lalu bergegas membuat surat dan mengantarkan surat ke rumah Winda, adik kelasku Di SMA, yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Sebenarnya aku bukan orang yang suka membolos tapi aku sangat menghawatirkan nenek, bagiku dia seperti ibu kedua. Tiga tahun bersamanya ,terekam dalam benakku betapa kasih sayangnya yang tulus menggantikan posisi ibu dan bapak bagiku.Sedikitpun tak pernah aku dimarahinya atau disuruh membantu nya melakukan pekerjaan rumah. Sebenarnya memang aku anak yang patuh jadi tak ada alasan juga nenek marah padaku, lagipula tanpa disuruh nenekpun, jika ada waktu luang aku akan membantu nenek, seperti membereskan rumah, menyapu, mencuci bajuku, dan menyetrika.
Terbayang wajah nenek yang sudah semakin tua dengan penyakit glaucomanya, yang membuat dia kehilangan penglihatan di salah satu matanya. Ditambah lagi dengan penyakit umum para ibu rumah tangga, lambung atau magh yang sudah cukup parah, yang di idapnya setahun terakhir. Sungguh kasihan nenekku, di masa tuanya harus tinggal sendirian didesa, kesepian, dan mungkin keindahan warna warni dunia akan menghilang dari kedua matanya beberapa tahun lagi, itulah vonis dokter spesialis mata padanya 4 bulan yang lalu saat berobat ke Jakarta.
Aku dan ibu sebenarnya sudah berulang kali mengajak nenek tinggal bersama kami. Tapi nenek sepertinya masih ingin tinggal didesa. Karena nenek bukan menolak ajakan ibuku saja, tapi juga menolak ajakan dari anak nya yang lain. Bahkan paman dan bibiku pernah kesal karena nenek tetap bersikukuh ingin tinggal sendirian didesa dan mengabaikan ajakan mereka untuk tinggal dengan mereka. Nenek pernah bilang padaku jika dia bukan tak mau tinggal bersama anaknya dikota, tapi karena kehidupan didesa telah menyatu dalam dirinya dan nenek tidak mau merepotkan anaknya. Itu yang tersirat dari kata-katanya. Sungguh ironi, saat anak-anaknya masih kecil harus berjuang mendidik dan membesarkannya, tapi setelah anak-anak dewasa orang tua harus hidup sendirian saat ia sudah tua padahal mereka tentunya sangat butuh kasih sayang dan perhatian anak-anaknya, Tapi apapun keputusan nenek untuk tetap tinggal didesa, kami tahu bahwa nenek sangat bahagia menjalani hidupnya didesa. Lagipula kerabat dan tetangga didesa sangat baik dan perhatian kepada nenek. Itu yang membuat kami tidak terlalu khawatir membiarkan nenek tinggal didesa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seindah kasih untuk Rani
عاطفيةKisah seorang gadis yatim yang berusaha meraih cita dan cintanya. Hidup akan menghadapkannya pada beberapa pilihan. Mampukah ia menentukan arah yang terbaik baginya. Atau hanya mengikuti keegoisan diri.