Saat email pertama darinya

67 1 0
                                    

Hari ini, aku buka komputer di meja kerjaku. Aku terbiasa datang awal, agar aku bisa lebih baik mempersiapkan diri sebelum jam kerja dimulai, dan melakukan beberapa rutinitas wajibku setiap pagi,seperti shalat dhuha dan membuka emailku dulu. Banyak teman-temanku didunia maya yang mengirim berita-berita seru, atau kajian agama melalui email yang sayang kulewatkan.

Pagi ini ada yang istimewa. Ada pesan dari seseorang, yang membuatku memilih pesannya terlebih dulu kubuka dan mengaburkan beberapa pesan lain yang ada di inbox ku. Ada kepentingan apa orang yang selama ini dingin padaku? Ternyata Rais, memberiku kiriman makalah untuk jurusan ekonomi. Tentu saja bukan dia kirimkan khusus untukku, tapi untuk Endra yang sedang butuh untuk tugas kuliahnya. Dia juga mengetahui emailku dari Endra. Itulah isi pesannya.

Aku sms Endra dan ia mengakui dia yang menyuruhnya. Lalu dia menyuruhku agar aku mengirimkan ulang ke alamat email miliknya. Aku tak habis pikir kenapa tidak langsung saja ke alamat email dirinya, kenapa harus mampir dulu ke alamat emailku.

Saat sedang mengirimkan semua pesan dari Rais ke email Endra. Aku lihat hp ku berdering, dari no yang tak kukenal lagi, cepat aku terima, dan ternyata itu dari Bima. Dia tahu nomor hp ku dari Fahmi. Dia mengajakku sore ini bertemu setelah pulang kerja, dan pastinya aku menolak karena sudah ada janji dengan pacarku. Sengaja, biar dia tak punya pikiran mengajakku lagi lain waktu. Terlihat maksudnya ingin berhubungan lebih dekat denganku. Tapi aku tidak akan berpacaran dengan siapa pun lagi, setelah malam ini kuputuskan dia, yang sebentar lagi tanpa kuputuskan juga tetap akan meninggalkan aku disini sendiri, dan selalu sendiri lagi.

Bulan terlihat terang sempurna diantara awan malam hari, apakah ingin menghiburku malam ini yang akan merasakan putus cinta? Saat berjalan menyusuri terminal bis untuk naik angkot ke rumahku, kulihat laki-laki yang kukenal duduk dimotornya sedang mengamatiku dari jauh. Aku sengaja pura-pura melewatinya. Lalu dia menggodaku.

"Ojeg mbak gratis, ajaknya sambil tertawa
"Maaf mas nggak, makasih ya" jawabku.
" Jahat banget deh mbak"
"Sapa yang jahat, dibilang disuruh tunggu dirumah nekad jemput juga."

Lalu kami tertawa bersama, didalam hati aku meminta maaf padanya, ini mungkin adalah canda tawa kita yang terakhir, besok kita akan menjadi orang asing dan memulai hidup kita yang lebih baik, bagi ku tentunya tanpa pacaran lagi denganmu atau yang lainnya yang mungkin akan datang setelah kau pergi.

" Aku nggak bisa menunggumu, maafin aku"

Hanya itu yang keluar dari mulutku, itupun baru bisa kuucapkan saat dia sudah didepan pagar akan pulang yang beberapa saat lalu telah pamit kepada ibuku.

"Kenapa? Dia seperti sudah menduga nya karena tak ada rona kaget diwajah dan nada suaranya

"Aku nggak mau pacaran lagi, sambungku

"Kita jauh Ran, pacaran seperti apa yang kamu pikirkan ada diantara kita yang menjadi dosa

" Memikirkan atau merindukan orang yang bukan istri atau suami kita itu dosa" jawabku

"Aku tahu kamu berubah sejak kerja ditempat itu bersama dia yang punya paham cinta adalah pernikahan"dia setengah tertawa meledek

"Bisakah kita nggak membawa orang lain dalam masalah ini"

"Baiklah jika itu maumu, aku akan selalu mengingat orang yang pernah aku sayang dan sekaligus menyakitiku. Ucapnya setengah emosi, dia seperti sudah lelah berdebat denganku dan memang tak ada gunanya lagi, besok dia pulang lagi kekotanya.

"aku ingin yang terbaik bagi kita, dan jika kita berjodoh kita akan bersama lagi, ucapku saat menutup pagar, membawa letupan-letupan kecil dihatiku yang sulit kubendung lagi.

Aku tak sempat melihatnya pergi, saat kutinggal masuk kerumah dia masih ada disana didepan pagar rumah yang telah kukunci. Tapi dia mungkin tak pernah tahu, aku mendoakannya agar Allah memberinya perlindungan dan kebahagiaan. Walaupun mungkin baginya aku jahat atau apapun itu. Namun aku yakin suatu saat dia akan bisa memahami keputusanku.

Malam ini aku matikan hp, aku tak ingin menerima telepon atau SMS dari siapapun. Aku harus cepat tidur, agar sepertiga malam nanti aku bisa curahkan semua perasaanku padaNya, tempat terindah untuk curhat.

Sarapanku pagi ini penuh pertanyaan dari ibu, saat dia tahu aku memutuskan dia. Maka aku sedikit telat sampai kekantor.Aku hanya sempat shalat Dhuha saja tanpa bisa mengecek emailku. Biarlah aku sedang malas membaca. Aku hanya ingin cepat melalui hari -hari agar segera menemui hari-hariku yang dulu ceria.

Saat istirahat, kunyalakan hp ku yang dari semalam mati. Ada SMS dari Endra yang intinya akan selalu menungguku. Aku tak ingin membalasnya. Itu akan menjadi buntut panjang perbincangan kami yang aku tahu tidak akan ada akhir yang baik dari sebuah pertikaian. Biar kan sejenak kami tenang dulu, lalu waktu akan mengobati luka itu, seandainya ada, perlahan lahan kami juga akan menjadi seorang sahabat seperti yang pertama kali dia minta dariku. Aku pun kembali bekerja saat jam telah menunjukkan pukul 13.00. Sepanjang aku bekerja pikiranku terus saja mengolah kata- kata Endra dalam SMS nya. Yang entah sejak kapan dia menyukai puisi dan semacam karya sastra sepertiku. Tapi ternyata putus cinta bisa merubah seseorang, setidaknya menjadi puitis beberapa hari setelah putus.

Ini puisi yang dia tuliskan padaku melalui SMS dari semalam

Jarak ini telah ada bertahun-tahun yang lalu
Nyata dan tidak, itu hanya ada dalam pikiranmu
Karena bagiku langkah kakimu sangat dekat terdengar
Sedekat rasa cinta dan benci berada
Jejakmu disini masih jelas terlihat
Layaknya langit yang menaungi bumi
Seperti malam dalam gelapnya
Meski kini kau runtuhkan langit dan nyalakan api
Namun bumi dan malam sungguh setia menanti langit gelapnya

Ya Allah ampunilah aku yang telah menyakiti hati seseorang, doaku dalam hati. Aku tak bisa seperti ini terus bersedih jika membaca SMS nya yang kini berganti menjadi puisi puisi menyentuh hati. Aku harus segera bertindak, kalau tidak dia akan membuatku tidak bisa konsentrasi bekerja. Maka aku putuskan mengganti nomor hp ku. Itu satu-satunya cara agar kita bisa saling melupakan

Seindah kasih untuk RaniTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang