Kembali menghirup udara sejuk bagaikan merefresh kembali tubuh dan pikiran kita. Itu yang kurasakan saat menginjakkan kaki didepan pagar rumah nenek. Ada kegiatan yang tak biasa didalam rumah nenek terlihat dari lalu lalangnya orang keluar masuk rumah nenek. Apa yang kutakutkan terjadi, aku tak akan bisa lagi bercanda gurau dengannya lagi atau hanya sekedar melihat senyuman diwajah nya. Kata bi Sari, nenek meninggal tadi subuh, karena terjatuh di kamar mandi tanpa sepengetahuannya, karena dia sedang shalat subuh. Kebetulan bi Sari adalah keponakan nenek yang menemani dirumah selama nenek sakit. Kulihat wajah ibu yang penuh air mata. Selanjutnya banyak aktifitas yang bagiku tidak asing lagi, karena perasaan dan suasana seperti ini sama persis yang kurasakan saat dulu bapak meninggal.
Sepulang dari makam, aku duduk di teras rumah beristirahat sejenak dari kepenatan dijalan semalaman naik mobil travel menuju ke desa dan aktivitas menguras emosi dari kenyataan nenek meninggal beberapa jam sebelum aku sampai ke desa. Kematian yang memisahkan seseorang dengan semua yang dicintainya didunia. Sekaligus membuka gerbang alam lain yang akan membawa makhluk bertemu sang pemilik cinta yang hakiki, Allah. Yang kehadirannya bagai teka teki yang tak pernah ada seorang pun bisa menerkanya. Layaknya bayang-bayang diri yang selalu mengikuti kemanapun kita berada. Sejatinya kita harus siap kapanpun dia kan menjemput jiwa kita. Bagai rezeki dan jodoh yang telah tertulis dibuku takdir masing-masing makhlukNya. Kita tak bisa mengingkari kehendaknya. Aku menelan kenyataan getir ini sambil memandang halaman sekitar rumah nenek, mencoba mengalihkan perasaan kaget dan sedih hari ini dengan menghitung buah mangga depan rumah nenek yang mulai ranum. Kegiatan ini dulu yang selalu kulakukan sambil membaca atau sekedar santai bercanda dengan nenek atau Sina.
Didalam rumah masih penuh dengan kerabat, tetangga dan keluargaku. Paman dan bibiku juga datang tapi sepupu-sepupuku tak ikut, kebanyakan dari mereka sudah bekerja dan ada juga yang sudah menikah.
Hanya aku cucu nenek yang masih SMA. Ibuku termasuk telat memiliki anak, karena aku hadir dihidupnya saat usianya 35 tahun. Cinta bapak yang selalu menguatkan ibu menanti buah hatinya .Disaat kebimbangan dan keputus asaan karena penantian panjang memiliki seorang anak bagi seorang wanita merupakan salah satu ujian terberat, namun bapak selalu menjadi sosok suami yang sabar dan ikhlas menemani ibu melewati semuanya. Sampai aku lahir membawa kesempurnaan dalam pernikahan mereka.
Sebelas tahun pernikahan mereka menantiku, hanya sebelas tahun pula kebersamaan mereka memetik kebahagiaan dengan kehadiranku, dam setelah itu kebahagiaan kami harus memudar saat bapak meninggal saat usiaku 11 tahun.
Meninggalkan ibuku yang seolah pincang tanpa pijakan. Memberikan kenyataan bahwa aku adalah satu-satunya kenangan yang hidup dari bapak yang tersisa untuk ibu. Mungkin karena wajah dan perawakanku yang mirip sekali dengan bapak, sehingga hanya dengan melihatku, kerinduan ibu pada bapak bisa sedikit terobati.Bunyi pagar dibuka dari luar memberitahuku bahwa ada orang yang akan masuk ke rumah, mungkin ingin takziah. Dari kejauhan terlihat seorang lelaki yang wajahnya tak asing. Aku ingat dia kakak kelas ku waktu SMP. Walaupun kami tak pernah sedikitpun mengobrol atau bahkan hanya untuk saling menyapa. Aku mengenalinya dengan baik. Dia, Rais seorang yang cukup pintar dan aktif di sekolah juga dipengajian. Sifatnya yang cuek, membuatku malas dan sungkan untuk menyapanya duluan setiap kami bertemu. Lagipula dia sudah punya pacar, teman sekelasku, Dian yang terkenal karena kecantikannya.
"Assalamualaikum" dia tersenyum mengangkat tangan mengajak bersalaman dari jauh.
Aku balas salamnya, dan menyuruhnya masuk. Seperti biasa aku dan dia tak pernah berada dalam pembicaraan panjang. Karena tanpa bicara apa- apa lagi, dia langsung masuk bergabung dengan tetangga dan kerabat ku didalam rumah nenek.
Dari teras rumah aku bisa mendengar pembicaraan seseorang tetanggaku dengan Rais. Intinya membicarakan kegiatan Rais sekarang kuliah sambil berdagang. Baguslah patut ditiru, sudah mulai berlatih mandiri tidak terlalu bergantung pada orang tua secara finansial ucapku dalam hati. Tanpa disadari muncul rasa kagumku padanya, disaat mayoritas lelaki seusianya menadahkan tangannya pada orang tua untuk mencukupi semua kebutuhannya, dia tanpa malu berdagang keliling sepulang dari kuliah. Aku seperti mendapat Ilham dari yang dia lakukan, aku juga akan bekerja sambil kuliah nanti. Ternyata dibalik kepribadiannya yang diam dan dingin ada sesuatu yang menarik tersimpan didalam dirinya.
Saat itu juga aku baru menyadari bahwa, dia dan Endra kan juga pernah sekelas saat SMP. Aku lupa saat membalas suratnya kemarin aku lupa tidak menanyakan tentang pengalamannya menjadi seorang mahasiswa. Kami dekat dan sering bertukar kabar selama 4 thn ini tapi aku merasa ada pemisah diantara kami, selain jarak yang ada diantara kami tentunya. Mungkin karena dia jarang menceritakan aktifitasnya selama disana. Seperti ada sesuatu yang dia tutupi dariku.
Saat isi kepalaku berputar- putar mencerna apa yang terjadi dalam hubunganku dengan Endra, suara ibu terdengar memanggilku."Ia bu" aku masuk dan mencari ibu didapur karena suaranya bersumber dari arah itu.
Terlihat ibu dan Mamang sedang duduk berdampingan sambil memakan opak, sejenis kerupuk berbahan ketan beras.
"Ran, udah besar ya kamu, maenlah ke rumah mamang di Bandung, Vina dan Vino pasti akan mengajakmu jalan- jalan kalau mereka libur bekerja.
" Ia mang, aku udah kelas 3 sekarang, kalau banyak izin buat jalan jalan bisa- bisa nggak lulus deh. Sahutku sambil menahan tawa
" Ia lah nanti kalau liburan maksud mamangmu juga, kata uwaku tersenyum dan keluar dari kamar nenek lalu bergabung bersama kami didapur"Aku hanya tersenyum sambil memasuk-masukan kayu bakar dan kertas ke tungku dan duduk didepan hawu. Kegiatan ini lah yang aku selalu rindukan, membakar kertas dan plastik bersamaan dengan ranting atau kayu bakar dihawu. Lalu asap akan membumbung didapur dan membuatku terbatuk karena bau asap menyengat hidungku. Pasti nenek akan bilang " sudah sana kekamar, biar nenek kipas asapnya ," aku pergi dan berlari ke kamar sambil menutup hidung
Terdengar nenek tertawa sambil bergumam, " Rani- Rani sudah SMP masih saja main api bakar-bakaran".
Kenangan bersama nenek hinggap lagi, sampai ibu bangkit dari duduknya dan menghentikan aktifitas ku didepan hawu. Ibu membuka tutup panci air yang ada diatas tungku hawu, air tersembur keluar."Sudah mendidih, kata ibu
Ibu menatapku dan menarik tanganku untuk berdiri
"Jangan dimasukkan lagi kertas dan kayunya, biar apinya mati sendiri"Sana kamu makan dulu lalu bereskan baju, sore ini kita ikut mobil mamang pulang ke Jakarta, timpal ibu
Aku menyahut menyetujuinya tanpa bertanya lagi karena aku sudah mulai lapar dan asap sudah cukup banyak yang masuk ke hidungku.
Aku beranjak ke ruang makan untuk makan lalu masuk ke kamarku merapikan barang-barangku. Sekilas sebelum kumasuk kamar kulihat tak ada lagi Rais diruang tamu. Entah kemana, atau sudah pulang. Beberapa saat kemudian saat aku sedang berkemas ,dari luar kamarku terdengar suara dari orang yang tadi sempat kucari sedang pamit pulang kepada ibu, uwa dan mamangku.Kenapa dia tak pamit padaku, biarlah dia memang dari dulu selalu cuek padaku. Lagipula yang terpenting dia sudah mau datang takziah, sikap dinginnya selama ini sedikit berubah hangat, itu yang kurasakan.
Sepanjang jalan pulang ke jakarta, aku tak bisa tidur padahal tubuh sangat lelah, karena ibu dan mamang ku beserta istrinya tidak berhenti ngobrol. Aku ikut memperhatikan pembicaraan mereka, sesekali melihat dari jendela mobil pemandangan hamparan sawah dan menjulangnya gunung yang sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan, berganti hiruk pikuk kota.
Kedua saudara ibuku uwa dan mamang adalah orang yang cukup mapan, setidaknya mereka semua punya rumah dan mobil pribadi. Seandainya bapak masih hidup mungkin hidupku juga tidak jauh berbeda dengan para sepupuku. Ibuku anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak adik nya semua laki-laki. Mereka sangat perhatian kepada ibuku dan sering membantu perekonomian keluargaku dari dulu. Walaupun begitu kami tak mau jadi parasit bagi mereka. Ibu sepeninggal bapak tetap berusaha menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi penjahit. Aku tahu ibu punya pendirian kuat yaitu tidak mau terlalu banyak menyusahkan atau merepotkan kakak dan adiknya. Itu yang ibu tanpa sengaja, ia ajarkan padaku. Walaupun sulit, sebaiknya kita berdiri dengan kaki sendiri dengan gagah dan rasa percaya diri. Mirip dengan sosok santun dan cuek yang kini diam-diam mendapat tempat dalam pikiranku. Aku cepat- cepat harus mengusirnya pergi, sebelum kekagumanku padanya membuatku jatuh terlalu dalam memikirkannya. Pikiranku mulai beralih saat mamang menyetel lagu cinta yang mengalun merdu mengiringi perjalanan ku kembali ke rutinitas di Jakarta.

KAMU SEDANG MEMBACA
Seindah kasih untuk Rani
RomantizmKisah seorang gadis yatim yang berusaha meraih cita dan cintanya. Hidup akan menghadapkannya pada beberapa pilihan. Mampukah ia menentukan arah yang terbaik baginya. Atau hanya mengikuti keegoisan diri.