6. Pelampiasan 🐣

66 22 9
                                        

Aku kira aku berhasil melupakanmu
Tapi ternyata perkiraanku salah
Segala tentangmu
Masih tersimpan indah di pikiranku

Bahkan untuk menceritakan ulang
Aku bisa dengan detail
Tak ada yang aku lupa
Aku masih mengingat semua tentang kita

*****
Setibanya di Rumah sakit aku langsung turun dari motor bastian dan berjalan lebih dulu meninggalkan Bastian yang masih diparkiran.

Masa bodoh sama Bastian

Aku berjalan ke arah kamar Dahlia no 7. Tadi aku sempat bertanya pada administrasi rumah sakit sebelum beranjak ke kamar Karina.

Tanganku memegang gagang pintu dan membukanya pelan pelan, dan  benar saja didalam sudah ada banyak teman sekelasku.

"Dea kok lama sih?" tanya Siska saat aku memasuki ruangan.

Aku hanya tersenyum dan langsung menghampiri tempat tidur karina, diatas sana ada sahabat terbaiku yang tertidur pulas.

Kepalaku menoleh melihat Riki yang masih memainkan ponselnya.

"Rik, dari tadi karina tidur gini? "

Lalu Riki mendongak menghadap ku, "Tadi udah bangun, sempet ngobrol juga sma kita. Tadi kita udah bilang lo mau dateng ,dia juga seneng tapi tadi dokter bilang karina harus tidur saat pukul segini. Takutnya nanti sih sakitnya kambuh"

Aku mengangguk mendapat jawaban panjang lebar dari Riki. Aku merasa bersalah pada karina, tidak bisa ada disaat dia membutuhkan ku.

Ini semua karna bastian yang menaiki motor terlalu pelan. Akibatnya aku datang telat ke kamar karina.

Tak berselang lama, pintu kamar karina terbuka, menapilkan sosok Bastian dengan wajah datarnya. Dia masuk dan langsung duduk di samping Riki, sebab hanya Riki satu satunya laki laki didalam ruangan.

"Mabar yok" Ajak riki.

"Ayok, tapi bentar gue telfon Tasya dulu. Gue dari pagi belum ngasih kabar soalnya"

"Dasar bucin" cibir Riki.

Aku yang semula tersenyum melihat bastian mendadak bungkam, ada sedikit rasa sakit saat mendengar kata kata Bastian. Baru beberapa menit lalu bastian mengajakku naik ke atas udara, dan sekarang dengan mudahnya dia menjatuhkan aku ke bumi.

Semudah itu dia mempermainkan persaaanku.

Memang semua kebersamaan belum tentu saling memiliki. Seperti hal nya dirimu yang memberi aku kenyaman tanpa adanya kepastian.

Aku kembali fokus pada wajah sahabatku, tanganku tak berhenti mengusap wajah cantiknya.

"Dea, gue pulang dulu ya sama temen yang lain"

Aku menoleh dan mendapati Rara yang sedang mengemasi barangnya.

"Iya, hati hati. Thank ya" Angguk ku.

"Rik, lo pulang gak? "

"Pulang, yaudah gue pulang dulu Bas" pamit Riki pada Bastian.

Aku sendiri bingung, kenapa bastian tidak ikut pulang bersama teman yang lain. Biasanya dia selalu sibuk dengan segala urusannya.

"Bastian gak pulang? " tanya ku padanya, saat teman yang lain sudah pergi.

"Enggak, kan lo kesini bareng gue, ya pulang bareng gue lah. Ya kali lo gue tinggal"

"Kalau emang mau pulang, pulang aja Bas"

"Lo? "

"Gue bisa naik gojek nanti"

"Yaudah kalo gitu, gue juga ada janji sama Tasya buat nonton. Gue duluan De" pamit Bastian padaku.

Saat Bastian sudah keluar kamar, mataku mulai memanas, hati ku hancur seketika. Aku harus mencoba mengendalikan perasaanku ini agar tidak terlalu berlebihan padanya.

Tasya emang punya lo Bas, tapi gue punya yang punya lo,  dia adalah Allah :")

Handpone di tasku bunyi, aku segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelfonku. Mataku terbuka lebar melihat siapa yang menelfon, tumben mak lampir nelfon, gak takut pulsa habis?

"Dea, sekarang kmu dimana"

Aku menjauhakan ponsel dari telingaku, apa aku tidak salah dengar? Kenapa suara mama lembut sekali padaku.

" Di rumah sakit cendekia"

"loh Dea kenapa? " terdengar suara cemas dari sebrang handpone.

"Dea gak papa. Lagi nengokin Karina yang sakit"

"Syukur kamu gak papa. Cepet pulang ya sayang"

Sayang? Jijiq banget sih mak lampir!

"Iya"

Tanganku memasukan lagi ponsel kedalam tas, dan mataku kembali mengawati wajah Karina.

"Karina kapan buka mata lagi? Dea ada disini"

"Dea gak pulang? " Tiba tiba terdengar suara wanita paruh baya, Dea yakin itu adalah ibunya Karina, ibu Sri.

"Assalamualikum tante. Dea bentar lagi pulang kok" Aku tersenyum manis padanya.

"Waalaikumsalam. Nanti di cariin mama kamu lho"

Oh iya aku lupa tadi mak lampir baru saja menelfonku.

"Ya udah Dea pamit dulu tante. Bilang ke Karina ya tente, Dea nunggu Karina lama, makanya Dea pulang"

"Iya hati hati sayang" tangan ibu Sri mengelus rambutku. Ah selalu saja aku ingat bunda.

¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥

TAKDIRCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang