Mataku menelusuri setiap sudut yang ada di rumah. Semua terlihat sepi tak berpenghuni, kemanakah semua pergi?
Aku mengedikan bahu memilih berjalan ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhku. Rasanya kepalaku ingin pecah saat ini. Apalagi masalah yang tak kunjung pergi.
Handpone dalam saku baju ku bergetar, dengan cepat aku membuka pesan yang masuk ke ponselku.
Rosa
Kak aku sama mama ke bandara
Saraca Dea A.
Ha? Ngapain ke sana?
Rosa
Nganterin Ayah.
Ayah mau balik ke Balikpapan
Saraca Dea A.
Kok kakak gak dikasih tau
Rosa
Tadi mendadak
Saraca Dea A.
Oh
Rosa
Kakak gak kesini?
Ayah cari kakak
Saraca Dea A.
Males, capek.
Bilangin ke Ayah, hati hati
Rosa
Siap komandan.
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur saat tiba dikamar, hari yang melelahkan! Padahal hari ini rencanaku ingin sekali bercerita pada Ayah. Bagaimana hari ini berjalan! Masalah yang aku lalui detik ini! Bahkan rasanya aku ingin menangis di dekapan nya, sambil mendengarkan nasihat dari beliau.
Sekarang rasanya aku benar benar seperti hidup sendirian dia dunia sebesar semesta ini. Bagaimana tidak? Ayah pergi saat aku kedatangan masalah dengan orang yang aku cintai! Teman yang aku anggap baik ternyata diam diam menyimpan rasa lebih padaku! Serta adiku sendiri yang seolah menjadi orang lain dalam hidupku! Haha pahit sekali hidup ini.
Jujur saja aku ingin sekali bercerita tentang keluh kesah di setiap detik yang aku lewati setiap harinya, namun pada siapa? Andai saja Bunda masih ada, mungkin rasanya aku tak sendiri hidup di dunia yang penuh keramaian. Tapi sayang itu hanya 'Andai'
Menangis pun rasanya sia sia, tak kan ada yang berubah dengan aku menangis. Mau aku satu minggu menangis di kamar, dan mengurung diri dikamar pun bukan solusi. Malah itu ide buruk yang yang sekarang sedang terlintas di benak pikiranku.
Sekacau ini sebenarnya otakku. Ingin sekali bangun dari mimpi buruk ini, melihat dunia nyata yang bahagia dan damai. Tapi itu mustahil, karena ini adalah kenyataan bukan mimpi yang bisa dilupakan.
Tidur mungkin sekarang adalah jawaban dari peningnya kepalaku. Mata yang tak berkontribusi ini sangat menyebalkan, tadi aku sudah bilang, jika aku tak ingin menangis! Tapi apa sekarang? Dia malah mengeluarkan cairan bening dari wadahnya. Padahal aku ingin sekali terlelap sebentar agar lupa akan masalah hari ini.
*****
"Deaa bangun!! Enak banget ya kamu tidur!! "
Aku membuka kelopak mataku, masih dengan keadaan mata sembab tentunya. Aku melihat sekeliling kamar, mencari sumber suara yang memanggilku, padahal rasa kantuk sedang melanda diriku.
Dan sepertinya pikiranku dengan cepat merespon suara dari luar kamar, ya suara itu dari pintu kamar. Suara itu? Itu adalah suara milik setan gila yang kesasar tempat!
Dengan terpaksa dan malas aku bangun dari tidurku, menghampirinya. "Kenapa si berisik banget! "
Dengan senyum kecut mak lampir melihatku, "menurut kamu ngapain mama kesini? Kamu gak liat rumah berantakan gini? Beresin sana sama adik kamu. Mama mau ke salon dulu, muka mama udah panas kena sinar matahari"
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR
Teen FictionApa aku salah jika harus memilihmu menjadi jodohku? Atau aku salah jika terlalu berharap padamu? Jadi aku harus bagaimana? Entahlah biar takdir yang menjawab semuanya. •••••••••••• Dea yang diam diam menyebut nama Bastian di setiap doanya, juga diam...
