Aku sebenarnya lelah
Tapi aku tidak bisa
Aku tidak punya alasan
Untuk berhenti mencintaimu
Hatiku berkata stop
Tapi pikiranku berkata lanjut
Aku diambang kebingungan
Antara berhenti atau maju
*****
Di ruangan bernuansa putih dan pink ini, aku sedang menuliskan rasa sakit yang aku rasakan hari ini, di dalam buku diary doraemon yang selalu aku bawa kemana mana. Tak henti hentinya air mata ku terus turun.
Aku berjalan mendekati lemari ungu yang biasa digunakan untuk menyimpan barang barang Bunda. Aku mengambil secarik kertas yang sudah usang. Karna hanya ini semangatku sekarang untuk melanjutkan hidup.
•Untuk Dea dan Rosa
Sayang, Bunda minta maaf kalau bunda
ada salah sama kalian.
Bunda tidak tahu sampai kapan umur bunda. Jadi tolong tetaplah menjadi anak yang dibanggakan ayah dan bunda.
Kalau bunda masih diberi umur panjang, bunda ingin mendidik Dea dan Rosa menjadi anak yang percaya diri,membela yang benar dan menjatuhkan yang salah.
Tapi jika tuhan lebih menyayangi bunda. Tolong minta ayah untuk mendidik kalian menjadi anak yang berguna sayang.
Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Hidup memang seperti ini, terlalu keras untuk Dea dan Rosa.
Tapi yakinlah bahwa setiap masalah ada solusinya. Dan yang terpenting adalah ambil hikmahnya.
Bunda yakin, Dea sama Rosa bisa melewati setiap cobaan yang ada, dan yakinlah sayang, bahwa bunda ada disamping kamu sampai kapanpun.
Jangan buang sia sia air mata Dea sama Rosa untuk suatu hal yang tidak penting. Ingat akan ada pelangi setelah hujan datang, namun juga jangan lupa akan ada badai yang datang setelah hujan.
Selalu siap dan siaga di setiap saat lah. Dan minta lah pertolongan pada yang maha kuasa.
Yakinlah pada diri kalian masing masing. Ingatkan Ayah jika ada bunda yang selalu mendukung kalian, tidak hanya ayah.
Salam sayang untuk putri bunda
Marlina A.
*****
"Rosa, kamu mau makan apa? Biar kakak beliin sekalian?" tanyaku saat melihat Rosa hanya duduk diam di kursi makan.
"kakak emang punya uang? "
"punya lah, enak aja kamu. Ngeledek kakak ya" tangan ku menyubit pipi tembemnya.
"ihh sakit tahu. Yaudah Rosa pengen spageti, hehe"
"yaudah kakak berangkat dulu. Eh Ros mama mana? " jujur sejak tadi pagi setelah aku bertempur dengannya aku tidak melihatnya sampi petang ini.
"gak tahu, tumben kakak cari mama" cibir rosa
"Ish gak, apaan sih."
*****
Aku berjalan menyusuri taman dekat rumah. Aku memilih berjalan kaki, sekaligus olahraga. Selagi nafas masih diteggorokan aku akan gunakan untuk menikmati pemandangan senja di sore menjelang malamku ini. Kakiku terus melangakah hingga akhirnya berhenti di depan lestoran Jugre.
Aku mendorong gagang pintu dan menuju ke tempat pemesanan. Setelah itu aku duduk di kursi yang berada di dekat jendela.
Mataku tak sengaja melihat Bastian yang sedang makan bersama kelurganya. Mereka terlihat sangat akrab dan bahagia. Aku bisa merasakan kehangatan antara mereka yang ada di sana, jujur ada rasa iri saat melihatnya.
Mataku tak sengaja bertemu dengannya. Aku langsung menoleh ke segala arah, aku salah tingkah sekarang.
"DEAAA... " teriaknnya.
Aku menoleh dan mencoba tersenyum padanya walaupun aku tahu senyumku sangat kaku "Eh Hai bas"
"sini De" ajaknya dengan menghampiriku. Dia menarik tanganku untuk mendekat ke meja makan keluarganya. Apakah dia tidak tahu bahwa jantungku ingin lepas dari tempatnya sekarang?
"Ma, kenalin ini Dea, temen sekolah bastian" bastian menoleh padaku.
"hai tante", balasku sambil tersenyum.
Mama Bastian tersenyum padaku, senyum yang manis. Aku jadi ingat bunda jika seperti ini.
"Hai Dea. Kenalin nama tante Mira" mama Bastian menjulurkan tangannya. "Eh tunggu..." wajah mama bastian entah kenapa menjadi bingung.
"Kamu yang kemarin nolongin tante waktu di taman itu kan" tanyanya.
*flasback on
Pukul 06.00, waktu yang cukup pagi untuk seseorang memulai beraktivitas. Dan Dea memilih untuk berjalan pagi disekitar taman. Saat sedang beristirahat di kursi kayu dekat kolam ikan, Dea mendengar suara sesorang yang meminta pertolongan. Ahirnya Dea melangkahkan kaki untuk mencari sumber suara itu.
Saat itu terlihat seorang ibu ibu yang masih muda dengan berbalut baju merah muda yang membuat ibu itu menjadi sangat cantik dan manis.
Ibu itu meringis kesakitan karena kakinya berdarah dan sepertinya kesleo. Dengan senyum yang mengembang, Dea mengahampirinya dan membantu ibu itu untuk membersihkan darah yang masih mengalir dan membantu memijit kaki ibu itu.
*flasback off
"Emm.. Dea lupa tante"
"Ihhh yaudah. Duduk sini sayang" Mama bastian mengeser kursi untuk aku tempati.
Saat aku hendak duduk tiba tiba tanganku dipegang oleh sesuatu yang kekar.
Aku melihat Bastian, tapi bukan Bastian. Aku juga melirik tante Mira, tapi juga bukan. Aku mematung seketika, jantungku berdetak dua kali lipat. Dan iya benar, yang memegang tanganku adalah papanya Bastian, mister Adi.
"Bisa ikut saya sebentar? " dia melihatku dengan tatapan elangnya. Badanku jadi bergetar saat melihatnya. Mengerikan!
"Pa, ada apa si? " tante Mira terlihat meredam emosi papa bastian.
Aku jadi takut, apa yang akan dilakukan papa bastian padaku? Aku was was sekarang.
"Apasi ma, gak papa kok. Orang cuma sebentar doang. Ayok Dea ikut om sebentar"
Aku hanya pasrah dan mengikuti langakah papanya Bastian. Saat aku melirik tante Mira dan Bastian, mereka tersenyum manis padaku, seolah sedang menguatkan aku.
Kami berhenti di dekat kolam renang. Kami duduk di kursi dekat deretan tanaman bunga mawar.
"Oke, om gak mau bertele tele" papa bastian menghembuskan nafasnya. "Apa kamu suka pada anak saya? Bastian?"
Keningku berkerut, bingung dengan perkataan miaster Adi. Apa maksudnya bertanya seperti itu.
"Kenapa om tanya Dea gitu? " Aku memberanikan diri untuk menatap mata mister Adi.
"Gak papa. Om cuma gak suka Bastian pacaran sama Tasya, kamu tahu Tasya kan? "
¥¥¥¥¥¥¥¥¥¥
KAMU SEDANG MEMBACA
TAKDIR
Fiksi RemajaApa aku salah jika harus memilihmu menjadi jodohku? Atau aku salah jika terlalu berharap padamu? Jadi aku harus bagaimana? Entahlah biar takdir yang menjawab semuanya. •••••••••••• Dea yang diam diam menyebut nama Bastian di setiap doanya, juga diam...
