Tamu-tamu makin panik dan sebagian besar menyelamatkan diri dengan sembunyi di balik semak-semak atau pohon-pohon di dalam taman, dan ada pula yang begitu saja memasuki kamar-kamar, tidak peduli kamar siapa, ada pula yang menyelinap ke dalam dapur, tidak peduli pakaian dan mukanya penuh hangus. Hanya yang berkepandaian saja membantu para anggota Liong-sim-pang melakukan pengejaran pada rombongan wanita pelayan yang ternyata merupakan gerombolan penculik itu.
Ternyata orang-orang Hek-eng-pang amat cerdik, dan sebelum melakukan penculikan, sebagian di antara mereka telah mengatur 'jalan lari' untuk kawan-kawannya. Sekarang, mereka mengikuti jalan yang mereka buat, dan dipimpin oleh Hek-eng-pangcu sendiri, yaitu Yang-liu Nionio, mereka berserabutan memasuki taman melalui jalan yang sudah direncanakan semula.
"Penculik-penculik hina, hendak lari ke mana kalian?" Hak Im Cu mengejar dan tosu ini paling cepat larinya karena dia memang seorang ahli ginkang yang hebat.
"Liong-li, bawa dia ini!" Yang-liu Nionio berteriak dan melemparkan tubuh Syanti Dewi yang sudah ditotoknya itu ke arah muridnya itu. Liong-li menyambut tubuh itu dan terus melarikan diri, sedangkan Yang-liu Nionio menyambut serangan pedang Hak Im Cu dengan ranting yang-liu yang tadi dipegangnya.
"Singgg... trakkkkk!" Pedang itu tertahan oleh ranting dan keduanya lalu bertempur seru.
Sementara itu, melihat pengantin wanita dilarikan seorang pelayan dan belasan pelayan lain, para pengawal cepat mengejar. Liong-li lari bersama teman-temannya, meloncati jalan di antara semak-semak. Para pengawal atau anak buah Liong-sim-pang mengejar.
"Blarrrrr...!"
Terjadi ledakan keras dan empat orang anak buah Liong-sim-pang terlempar ke sana sini oleh ledakan itu. Kiranya di situ sudah dipasang jebakan semacam ranjau oleh orang-orang Hek-eng-pang yang tadi meloncati tempat itu. Anak buah Liong-sim-pang yang tidak tahu tentu saja berlari biasa dan menginjak ranjau itu.
Bersama bunyi ledakan, Yang-liu Nionio diikuti oleh beberapa orang anak buahnya juga lari karena Ban-kin-kwi Kwan Ok dan Hai-liong-ong Ciok Gu To telah tiba di situ. Melihat adanya tiga orang yang amat lihai ini, Yang-liu Nionio mengajak anak buahnya lari dan mereka menyelinap di semak-semak belukar di luar taman.
"Keparat jangan lari!" Hak Im Cu memaki dan mengejar.
Akan tetapi tiba-tiba semak-semak itu terbakar dan nyalanya demikian besar karena ternyata semak-semak itu telah disiram minyak. Terpaksa tiga orang lihai ini tidak berani menerjang api dan harus mengambil jalan memutar. Mereka melihat wanita tua cantik memegang ranting itu bersama lima orang wanita pelayan lain menyeberangi jembatan di luar taman. Tentu saja dengan cepat mereka mengejar.
Wanita-wanita itu telah tiba di seberang jembatan dan baru saja Hak Im Cu dan kawan kawannya tiba di jembatan dan meloncat ke atasnya, tiba-tiba jembatan itu ambruk! Tentu saja ini pun buatan para anggota Hek-eng-pang. Untung bahwa yang berada di jembatan itu adalah Hak Im Cu bertiga yang tentu saja dapat meloncat kembali ke belakang dan tidak sampai ikut terjatuh bersama jembatan itu.
Hak Im Cu dan teman-temannya, juga para anak buah Liong-sim-pang cepat mengejar para wanita yang telah tiba di tembok yang mengelilingi tempat markas Liong-sim-pang itu. Dengan gerakan-gerakan yang sangat ringan mereka meloncat ke atas tembok, didahului oleh Liong-li yang memondong tubuh Syanti Dewi.
"Ha-ha-ha, kalian hendak lari kemana?" Tiba-tiba terdengar suara ketawa dan kiranya di atas tembok, di menara penjagaan, telah nongkrong seorang tinggi besar bersorban yang bukan lain adalah Gitananda, tokoh aneh dari Nepal tadi!
"Liong-li, lari...!" Yang-liu Nionio berteriak dan dia sendiri menggunakan ranting yang-liu, langsung menubruk dan menyerang kakek Nepal itu.
Si kakek Nepal terkejut karena tahu bahwa serangan nenek cantik ini cepat dan kuat bukan main, maka dia pun menggerakkan tongkatnya menangkis dan mereka segera bertempur di dalam menara penjagaan itu. Kesempatan ini dipergunakan oleh Liong-li untuk berloncatan pergi ke tempat di mana Tek Hoat dan para anak buah Hek-eng-pang yang lain sudah siap dengan kuda mereka.
Hak Im Cu dan kawan-kawannya tidak mempedulikan nenek yang masih bertanding melawan orang Nepal itu, oleh karena bagi mereka yang terpenting adalah merampas kembali pengantin wanita yang terculik. Maka mereka lalu mengerahkan para anak buah Liong-sim-pang untuk mengejar melalui pintu gerbang sedangkan mereka bertiga sendiri melakukan pengejaran dari atas dengan berlompatan.
Melihat bahwa anak muridnya dan para anak buah Hek-eng-pang sudah berhasil keluar dari tembok, Yang-liu Nionio cepat mendesak kakek Nepal dengan gerakan ranting yang-liu dan ketika kakek itu menangkis dengan tongkatnya, tangan kirinya melakukan pukulan atau cengkeraman mautnya, yaitu Hek-eng-jiauw-kang yang hebat bukan main. Dari jari-jari tangannya yang dibentuk seperti kuku garuda itu menyambar hawa dahsyat sekali.
"Ehhhhh...!" Gitananda terkejut dan cepat meloncat ke belakang, akan tetapi dia melihat nenek cantik itu pun meloncat jauh dan melarikan diri di dalam gelap.
Karena malam itu gelap dan penerangan dari atas tembok tidak seberapa besar, maka kakek Nepal yang hanya menjadi tamu ini tak mau membahayakan dirinya. Dia maklum bahwa mengejar seorang lawan pandai di tempat gelap amatlah berbahaya, maka dia pun melakukan pengejaran seenaknya saja, dengan sikap amat berhati-hati.
Kini terjadilah kejar-kejaran di luar tembok dan di tempat terbuka di daerah Pegunungan Lu-liang-san, di malam gelap itu. Akan tetapi sebentar saja, para wanita yang memang sebelumnya sudah mengatur jalan dengan cerdiknya, dapat melarikan diri di tempat gelap dan terus dikejar oleh para anggota Liong-sim-pang yang dipimpin oleh Hak Im Cu dan kedua orang temannya, bahkan kemudian Hwa-i-kongcu, pengantin pria yang gagal itu pun melakukan pengejaran sendiri.....

KAMU SEDANG MEMBACA
JODOH RAJAWALI (seri ke 9 Bu Kek Siansu)
Action(seri ke 7 Bu Kek Siansu) Jilid 1-62 Tamat