Enam

201 28 0
                                    

Infus Ji Ha sudah habis sejak 5 menit yang lalu tapi pening di kepalanya belum juga mereda membuatnya masih berbaring diatas bangkar UKS.

"Ji Ha" seseorang memanggilnya lembut.

"Kak Jimin?"

Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "maaf. Aku baru menyelesaikan ujianku jadi baru kesini"

"Tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah apapun kak"

"Kenapa kau sendirian? Apa kata dokter?" Tanya Jimin.

Ji Ha menghembus napas kasar "Ha Rin ada urusan jadi pulang lebih dulu. Aku baik - baik saja setelah infus habis bisa langsung pulang"

"Infusmu sudah habis dan kau masih disini. Berarti kau tidak baik - baik saja"

Ji Ha terkekeh baru mengetahui betapa cerewetnya seorang Park Jimin ."aku tidak tahu kak Jimin secerewet ini. Mengingatkanku pada seseorang" wajah Ji Ha menyurut. Dia ingat sosok Min Ji yang cerewet dan peka persis Jimin.

Ji Ha rindu temannya yang sudah terhitung meninggalkannya 6 bulan lalu dari dunia ini. "Maaf kak" Ji Ha berucap sembari menghapus lelehan air mata dari kedua pipinya.

"It's okay. Kemari" Jimin beralih memeluk Ji Ha "kau bisa menangis sekarang"

Ji Ha menangis dengan kencang. Bagaimana bisa hal serinci ini bisa sama persis dengan yang selalu Min Ji lakukan saat dia sedang bersedih.

"Woy! Kenapa mukamu seperti baju yang terjemur berbulan - bulan. Mengkerut - kerut dan kusut tahu!" Racau Min Ji ikut membaringkan diri di atas rerumputan disamping Ji Ha.

"Kenapa sih cerita dong. Aku sudah menunggu sejak kemarin loh, tapi kau belum juga cerita"

"Sini. Sini duduk. Sekarang ceritakan padaku pelan - pelan. Aku siap membolos untuk mendengar ceritamu" Ji Ha terkekeh mendengar penuturan Min Ji. Ia akhirnya menurut untuk duduk menghadap si gadis berambut bob itu.

"Ayah dan ibu. Mereka memilih untuk berpisah" lirih Ji Ha menundukkan dirinya dalam - dalam.

Min Ji amat tahu bagaimana rasanya melihat perpisahan orang tua, karena ia sendiri sudah mengalaminya 3 tahun yang lalu "kemari" Min Ji menarik Ji Ha kedalam pelukannya "seseorang mengajariku dengan cara seperti ini kau bisa lebih puas untuk menangis. Setelahnya kau bisa mendapatkam ketenangan. Jadi sekarang menangislah" Min Ji menepuk halus punggung Ji Ha berbagi kekuatan yang ia miliki untuk temannya yang tengah begitu rapuh.

"Aw aduh sial. Mataku yang suci" Taehyung yang menyibak tirai salah satu bilik UKS menutup wajahnya dengan jari - jari yang merenggang-- jadi katakan percuma saja menutup. "Kalian! Jangan mesum di sekolah" tandasnya.

Membuat sepasang pemuda pemudi itu melepas pelukan mereka satu sama lain.

Ji Ha disana sudah mendecih sebal sembari menghapus sisa air matanya. Membuat si pengacau yang melihatnya tertegun untuk beberapa saat.

"Jika mau mengganggu pergi sana Tae!" geram Jimin.

Taehyung tersenyum sarkatik "woah malaikat Jimin ceritanya mau jadi pahlawan kesorean" tapi kemudian pria Kim itu menarik pergelangan Ji Ha yang bebas dari infus "tapi aku tidak ada urusan apapun denganmu sobat. Ayo pulang"

"Siapa juga yang mau pulang denganmu" tolak Ji Ha mentah - mentah.

Taehyung menjilat bibir bawahnya "aku sedang tidak dalam tawar menawar. Kau pulang denganku" tekannya.

"Dia bilang tidak mau. Berhenti jadi pria brengsek untuk Ji Ha!" Jimin menghempas tangan milik Taehyung dari pergelangan Ji Ha.

Taehyung sudah siap melayangkan tinjunya tapi gagal saat tirai disamping bilik Ji Ha terbuka "kalau mau baku hantam cari tempat yang lebih luas. Kalian mengganggu tidurku!" Yoongi berucap dengan penuh kecaman. Kemudian memilih beranjak dari kasur yang ia tiduri.

"Kak Yoongi!" Panggil Ji Ha membuat si pemuda berkulit pucat berbalik.

Ji Ha mencabut jarum infus dari pergelangan tangannya "antarkan aku pulang" dia berjalan tertatih memecah jarak antara Taehyung dan Jimin.

"Hell! Kau pikir aku supirmu?!"

"Aku tahu kau bukan supir. Aku hanya minta tolong"

Yoongi menghela kasar melihat keadaan Ji Ha yang sepertinya belum sehat sepenuhnya "cepat!" Kemudian melenggang pergi diikuti Ji Ha dibelakangnya.

Jimin menatap Taehyung penuh arti. Sejak kebenaran perselingkuhan Minyoung terungkap pria ini benar - benar berubah dalam memperlakukan wanita. Dia cukup sedih untuk itu. "Taehyung, kau bisa memperlakukannya lebih baik dari ini. Aku memang tidak akan merebutnya darimu. Tapi jika kau sampai menyakitinya aku akan membawanya jauh dari jangkauanmu" tutup Jimin sebelum pergi meninggalkan UKS menyisakan Taehyung dengan berbagai macam pikiran yang menghantam.

Exam SeatmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang