Empatbelas

170 29 0
                                    

Sayup - sayup rungu Ji Ha mendengar percakapan beberapa orang. Yang ia yakini salah satunya adalah ayahnya.

Matanya mengerjap untuk beberapa saat menyesuaikan cahaya yang masuk.

"Kalau begitu kami permisi" Dokter dan satu perawat itu pamit dari ruangan Ji Ha.

Tuan Shin mengangguk kemudian mengucap terimakasih.

"Kau sudah bangun, sayang?" Tuan Shin menghampiri bangkar putrinya.

Ji Ha mengangguk kemudian tersenyum sebab kehadiran sang ayah yang sudah 1 minggu tak ia temui.

"Maafkan Ayah, tidak berada disampingmu kemarin" gurat penyesalan tercetak diwajah Tuan Shin. Tangannya terulur mengusap sayang puncak kepala sang putri.

"Tidak apa Ayah" Ji Ha menggeleng "ada kak Jimin dan Kak Yoongi yang menemaniku kemarin. Oh iya kemana mereka?"

"Mereka pulang setengah jam yang lalu karena masih harus menghadiri ujian. Seingat ayah tadi ada 3 orang yang tidur disini menemanimu" tuan Shin menarik kursi disamping bangkar "siapa Te, Ta.. Taehyung. Ya, dia yang masih terjaga saat ayah tiba" Taehyung yang setia duduk disamping Ji Ha semalaman.

"Oh iya, Ji Ha lupa" Ji Ha terkekeh.

Sang ayah tersenyum "ini sudah keterlaluan sayang. Ayah ingin mereka mendapatkan hukuman yang setimpal"

"Mereka sudah mendapatkannya. Kak Namjoon teman kak Yoongi sudah membantu mengurusi mereka. Sekarang kelimanya dikeluarkan dari sekolah"

Tuan Shin menarik napasnya panjang. Kemudian mengangguk dan memeluk putrinya.

"Berjanji pada ayah. Ini terakhir kalinya kau terluka"

"Aku janji"

***

Hampir pukul 1 siang, Ji Ha merasa sangat bosan di kamar inap sendirian. Pasalnya sang ayah harus membawakan sebuah acara pameran robotik di ibu kota yang sudah dijadwalkan sejak tiga bulan yang lalu.

Ji Ha tak ingin ayahnya dicap tidak profesional. Pun ia merasa sudah merasa baikan. Jadi ia memaksa ayahnya untuk tetap menghadiri pameran tersebut.

Ketukan pintu ruangan mengalihkan atensi Ji Ha yang sempat memperhatikan gumpalan awan di langit yang cerah siang ini.

Satu geseran membuat pintu terbuka dan menampilkan Taehyung bersama Bu Hani-- guru seni di sekolah mereka.

"Bu Hani!" Seru Ji Ha.

Bu Hani tersenyum mendekati bangkar diikuti Taehyung dibelakangnya.

"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Bu Hani menarik kursi disamping bangkar. Sementara Taehyung meletakkan bingkisan buah diatas nakas.

"Sudah lebih baik bu" tak lupa menyematkan senyum pada gurunya.

"Astaga. Ibu sangat menyayangkan perbuatan mereka. Ini sungguh kelewatan" raut Bu Hani seketika berubah khawatir saat melihat dengan jelas balutan perban dikepala dan tangan Ji Ha serta beberapa lebam diwajah manis itu.

Bu Hani melirik Taehyung "sekarang mau bagaimana? Keadaaan Ji Ha sangat tidak memungkinkan untuk ujian. Masih mau memaksa?"

Taehyung meringis mendengar ucapan galak dari Bu Hani. Sebab memang ia yang memaksa guru seni yang kebetulan menjadi pengawas ujian hari ini agar Ji Ha juga bisa mengerjakan ujian hari ini.

"Tapi kan ujian tengah semester itu tidak ada susulannya, Bu. Karena tangan Ji Ha belum bisa menulis, aku bisa membantunya"

Ji Ha ikut melirik Taehyung. Gila saja, jadi pria ini sudah memaksa Bu Hani kemari hanya agar dirinya tidak ketinggalan ujian?

Bu Hani menghela napasnya kasar "ibu mengerti. Tapi melihat keadaan Ji Ha kita tidak bisa memaksanya untuk berpikir mengerjakan soal ujian"

"Ji Ha bisa bu. Izinkan Ji Ha mengerjakannya. Ji Ha tidak ingin nilai ujian Ji Ha harus kosong" tak bisa mengabaikan fakta jika hatinya sedikit enggan meninggalkan ujian meski dalam keadaan seperti ini.

"Astaga kalian. Baiklah. Kim Taehyung bantu Ji Ha semaksimal mungkin. Ini kertas ujiannya. Ibu tinggal sebentar" pamit Bu Hani yang sempat mengedip pada keduanya.

Senyum Taehyung mengembang sangat lebar. Ibu jari dan telunjuk memberi tanda 'ok' melepas kepergian bu Hani dari ruangan.

"Kim Taehyung. Apa yang ada dipikiranmu? Memaksa bu Hani kemari?" Ji Ha menatap Taehyung tajam.

"Bu Hani menanyakan keadaanmu selepas ujian. Jadi aku sekalian memintanya untuk membawakan kertas ujian untukmu" Taehyung merapihkan meja diatas bangkar Ji Ha dan meletakkan kertas ujian beserta lembar jawabannya diatas sana.

"Sudahlah. Kemari dan kerjakan bersamaku. Aku tahu kau itu gadis penuh ambisi yang menyayangkan kalau harus ketinggalan ujian meski hanya tengah semester"

"Kenapa?" Taehyung menangkap jelas nada bicara Ji Ha yang berubah lirih.

"Kenapa kau tiba - tiba seperti ini?"

Taehyung menghentikan aktivitasnya. Menghadapkan diri pada Ji Ha sepenuhnya "kau tanya kenapa?" Pria itu menjilat bibirnya yang tiba - tiba terasa kering.

"Karena sebuah tujuan yang hendak aku capai" entahlah dadanya begitu berdebar sekarang.

Ji Ha tertawa sarkas "Tujuan ya. Kau tidak takut hidupmu akan kacau menetapkan tujuan padaku?" Matanya menatap ke manik milik Taehyung "Oh tidak. Aku mengerti sekarang. Tujuanmu menghancurkanku. Seperti kau bilang aku yang pernah menghancurkanmu, benar?"

Taehyung selalu merasa lemas tiap Ji Ha merasa sudah menghancurkan hidupnya. Ia merasa begitu bersalah. Sebab gadis ini tidak pernah menghancurkan hidupnya, dan justru membuatnya menyadari betapa pengecutnya dirinya di masa itu "Bukan. Tujuanku adalah membuatmu jatuh cinta lagi padaku"

Ji Ha menggeleng dengan kekehan singkatnya "Leluconmu sangat tidak lucu Kim Taehyung. Untuk apa aku harus jatuh cinta padamu?"

"Karena aku mencintaimu" sambar Taehyung penuh keyakinan.

Dalam beberapa detik Ji Ha terdiam. Memastikan jika rungunya tidak salah dengar. Tapi lagi - lagi logikanya menempas isi hatinya "Kau benar - benar kehilangan akalmu. Aku manusia waras yang tidak akan jatuh kedalam lubang yang sama. Jatuh cinta padamu? Tidak terimakasih"

"Terserah kau mau mengatakan aku gila atau apa. Yang jelas aku mencintaimu dan akan membuat rasa itu juga tumbuh lagi dalam dirimu" Taehyung tak ingin menyerah.

"Egois. Kim Taehyung selalu egois dan hanya memikirkan perasaannya saja"

"Tetaplah menjadi Taehyung yang brengsek untuk Ji Ha. Karena semuanya tidak akan merubah fakta kau telah membuang diriku"

Saat itu Taehyung merasa dunianya runtuh bersama tatapan kecewa dan terluka milik Ji Ha.

.
.
.
.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Maaf atas keterlambatan publishnya. Somethin' happened to me, jadi ga memungkinkan buka hp.

Selamat membaca, dan selamat hari senin semuanya. Semoga hari kalian menyenangkan~

Regards - G U L L

Exam SeatmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang