Sebelas

191 30 0
                                    


Jimin keluar dari ruangan Ji Ha. Lukanya cukup parah. Dia benar - benar takkan memberi ampun pada Minyoung dan Jihyun.

Dilorong terlihat Taehyung yang berlari menghampirinya. Keningnya dibasahi peluh. Pria ini habis maraton sepertinya. "Bagaimana Ji Ha?"

Jimin menghela "belum sadar. Satu tulang rusuknya patah. Terdapat beberapa memar di tubuhnya. Telapak tangannya juga cedera"

Taehyung menggeram kesal. Sialan! "Brengsek Kang Minyoung! Aku harus memberinya pelajaran" matanya merah, gemuruh napasnya semakin terdengar.

Taehyung sudah hendak beranjak dari sana namun tertahan oleh Jimin

"Tidak Tae. Kau sedang emosi. Bisa - bisa kau membunuhnya" kilatan amarah yang Jimin lihat sama persis saat Taehyung mendapati Jungkook dikeroyok oleh geng sekolah sebelah.

"Aku memang akan membunuhnya!" Teriak Taehyung yang kesal. Bisa - bisanya dia pernah sangat cinta pada wanita iblis seperti Minyoung dan membuat seseorang berhati tulus ia usir begitu saja.

"Biarkan anak - anak bangtan yang lain mengurusnya" Jimin menarik Taehyung untuk duduk.

Mata Jimin menatap Taehyung yang sudah terlihat tenang "Aku tahu kau mencintainya. Jadi bisakah hentikan semuanya? Bisakah kau menjadi dirimu saja?"

Ada gurat kesedihan dari mata Taehyung saat Jimin berkata seperti itu "jika aku seperti dulu. Aku takut Ji Ha akan meninggalkanku juga. Aku tidak ingin terlihat lemah" selama ini yang selalu Taehyung sembunyikan dibalik sikap menyebalkannya pada Ji Ha.

"Ji Ha bukan Minyoung, Tae. Yang salah disini hanya Minyoung karena sudah menyia - nyiakanmu. Bukan sifatmu yang baik atau berlemah lembut padanya. Wajar kau bersikap seperti itu, kau mencintainya saat itu. Tapi Minyoung tidak tahu bagaimana menghargai perasaanmu"

"Jadi, tidak perlu merubah dirimu hanya untuk terlihat kuat. Bagaimanapun dirimu jika orang itu brengsek seperti Minyoung dia tetap akan meninggalkanmu. Tidak dengan Ji Ha, kau tahu sendiri bagaimana dia berjuang untukmu dulu. Meski mungkin cara Ji Ha sedikit salah, tapi jika tidak ditunjukkan langsung, memangnya kau percaya? Kau dulu sangat bebal saat diberi tahu!" Decak Jimin sebal.

"Kak Taehyung!" Panggil Ji Ha.

Yang dipanggil menengok kemudian menghentikan langkahnya "ada apa?"

"Mau menemaniku ke perpustakaan tidak? Aku ada tugas resensi. Tapi tidak tahu tentang buku cerita yang menarik. Mungkin kak Taehyung ada rekomendasi." Ji Ha menatap Taehyung yang belum merespon. "Apa kakak ada janji? Atau--"

Taehyung melirik ponselnya untuk mengecek apa sudah ada pesan balasan dari sang kekasih. Namun ternyata tidak ada sama sekali "Tidak kok. Aku tidak terburu-buru untuk pulang. Ayo!"

Taehyung tak menyangka jika permintaan Ji Ha sebenarnya bermaksud lain. Jelas kedua matanya menangkap objek yang ia sangkal selama ini. Minyoung dan Sungwoon, duduk di pojok perpustakaan sedang bercumbu mesra. Wah bagaimana bisa mereka luput dari petugas perpustakaan?

Sialan! Pantas saja Minyoung tak membalas pesannya. Hati Taehyung panas sekaligus perih melihatnya. Dia sudah tahu, setiap anak bangtan menceritakan tentang Minyoung, dirinya selalu lebih dulu tahu apa yang terjadi.

Dia juga melihat Minyoung dan Sungwoon saat di timezone bersama Ji Ha.

Dia juga tahu, alasan Minyoung selalu membatalkan janjinya untuk bertemu Sungwoon.

Sekuat tenaga ia selalu menyangkal. Mencoba memberi Minyoung kesempatan. Sebab rasanya ia tak mampu untuk kehilangan sang kekasih, ia terlalu cinta. Ia egois menyakiti dirinya tak ingin melepas cinta pertamanya.

Exam SeatmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang