Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•••
"bagaimana?"
"namanya Choi Arin, tinggal dengan kembaran yang bernama Choi Yeonjun dan seorang ibu bernama Im Nayeon"
Mark melihat beberapa foto yang di tangkap tanpa sepengetahuan Arin. Tiga foto yang berbeda, di waktu yang berbeda tapi gadis itu tetap menggunakan pakaian yang berwarna merah muda. Seulas senyum menghiasi wajah tampan Mark.
Tidak perlu menebak, sudah kentara sekali. Kalau Arin menyukai merah muda.
"hanya itu?" tanya Mark menatap seorang bawahannya itu.
Si pria menggeleng, lantas ia beritahu lagi semua informasi yang ia ketahui. Di mulai dari sang ayah yang sudah meninggal semenjak Arin duduk di sekolah dasar, mengatakan Arin tak melanjutkan kuliah, memberitahu kalau Arin pernah ikut audisi untuk menjadi seorang penyanyi, dan tentu menyatakan Arin tak pernah berpacaran sama sekali.
"apa dia lewat audisi itu?"
"dia di terima di sebuah agensi, tapi selang dua bulan dia keluar. Rumornya dia melakukan kekerasan pada CEO perusahaan"
"agensi mana?"
"fly entertainment"
Mark mengangguk "dia tak memiliki pacar? Kau yakin?"
"saya yakin Presdir. Menurut informasi dari teman sekolahnya Arin sangat menutup diri pada laki-laki"
"baiklah. Kau boleh pergi. Dan suruh sekretaris Kim menyiapkan mobil aku akan keluar sebentar lagi" titah Mark
"baik presdir. Kalau begitu saya permisi" sang pria jangkung itupun menghilang.
Mark kembali menatap foto yang di berikan tadi "cantik"pujinya tanpa sadar.
+•+
"baik akan kami kirimkan segera, terimakasih sudah datang ke flower home,Semoga hari anda menyenangkan" Arin baru melepas kepergian seorang pelanggan. Ia mendekati bunga daisy yang ada di ujung ruangan, pelanggan tadi meminta Arin mengirimkan bunga indah itu ke sebuah alamat. Arin harus cepat menata nya.
Ia bawa bunga bercorak putih dan merah itu ke meja kasir, mulai menata, namun tiba-tiba ponselnya berdering. Itu dari bunda.
"kakak tokonya di tutup agak awal ya"
"kok gitu, kenapa bun" Arin menekan speaker, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja. Sengaja, agar menghemat waktu.
"Yeonjun ga pulang. Kakak anterin dia makan malam"