13🐷

1.3K 145 38
                                        

"Bunda Jimin, Hueningkai ada? " tanya Soobin yang menatap Bunda Jimin dengan tatapan kosong.

Bunda jimin sangat tau jika mereka pasti punya masalah dan karena itu lah Bunda jimin memberitahu Soobin dimana letak tempat Kai berada. Terah lu dah, letak, tempat, lokasi, terah :)

"Kayinya di kamar lagi ngurung diri, biasa anak perawan mau pms ya gitu" ujar Bunda Jimin yang entah sengaja atau memang lupa dengan jenis kelamin anaknya sendiri.

Soobin hanya senyum dan mengangguk, lalu meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar Kai dan tentu saja di berikan ijin oleh pemilik rumah.

Tok tok tok

"Bunda, udah Kayi bilang kan, kalau Kayi gak mau makan" ujar Hueningkai dari dalam kamar.

Soobin hanya menatap lurus pada pintu yang bercat putih itu.

"Bunda, Kayi mau tidur, ntar kalo kayi udah laper, kayi pasti makan kok" ujar Kai lagi.

Ceklek

Suara pintu terkunci terdengar dari samping telinga Kai.

Kamar Hueningkai memang tidak dikunci, karena dia sangat jarang mengunci pintu, toh hanya dia dan kedua orang tua nya yang berada di rumah ini.

"maaf kalau gue bukan emak lo" ujar Soobin yang menatap Hueningkai dengan tatapan dinginnya.

Kai langsung beranjak dari tidurnya dan menatap ke arah sumber suara. Ia menatap dari atas sampai bawah dan... "tangan lo kenapa? " tanya Hueningkai yang menatap perban di telapak tangan Soobin.

Kai tidak mendapatkan respon dari orang yang ia tanya. Sehingga ia hendak bangkit dan melihat luka itu, namun Soobin terlebih dahulu menghempaskan tubuh yang lebih kecil darinya itu ke atas ranjang dengan sedikit kasar.

Kai memekik sakit karena pergelangan tangannya yang sekarang di pegang erat oleh Soobin. "Bin, lo gila ya?! " tanya Hueningkai yang memberontak agar dilepaskan oleh Soobin.

Kenapa bunda ngasih nih orgil masuk sih??! -Hueningkai

Kai lagi menatap ke arah kanan dan pas sekali itu adalah tempat dimana luka di tangan Soobin berada.

"pasti sakit" ujar Hueningkai, "lo jangan kekencengan megang tangan gue, ntar luka lo tambah parah" ujar Kai yang masih saja bicara.

"lo bahkan bisa-bisa nya ngomong gitu, didalam situasi kayak gini? "

"maksud lo? Emang salah gue khawatir? Cukup lo buat gue khawatir selama ini, " ujar Kai, "argh, sia-sia gue bilang gini sama orang kayak lo! "

"Kaii! " nada Soobin mulai meninggi.

"apa? Sekarang mau lo apa sih?! " tanya Kai yang sejak tadi bingung dengan apa yang dilakukan Soobin.

"kalau lo khawatir sama gue, sepatutnya lo ga usah peluk orang lain dan nangis di pelukan orang lain! " ujar Soobin. Ia terpancing dengan emosinya sendiri, sampai lupa dengan tujuan utamanya.

"huh? Maksud lo? " tanya Kai dan beberapa detik berikutnya Hueningkai tertawa miris, "oooh lo liat waktu gue peluk Taehyun? Dan sekarang lo marah? Huh, hak lo apa? Choi Soobin! "

Deg! Selesai sudah. Benar apa yang dikatakan Kai saat ini, apa hak Soobin marah? Ia bahkan tidak tau masa lalunya sendiri, ia bahkan tidak mengenal Kai lebih dalam yang kenyataannya adalah teman masa kecilnya. "haha, gue lupa" ujar Soobin yang tiba-tiba melepaskan genggaman nya.

"gue bukan siapa-siapa lo, apa hak gue larang lo peluk orang yang lo suka, sorry" ujarnya, "anggap ini gak pernah terjadi, "

Lalu menit berikutnya Soobin tidak ada lagi dikamar Hueningkai. Dia meninggalkan Hueningkai yang masih tergeletak diam dan berpikir dengan perkataannya barusan.

Tetangga | SOOKAITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang