Chapter 4.Devin

5 3 0
                                    

Bulan sekarang sudah mendampakan  dirinya mengantikan matahari.

Fani sedang duduk di kursi belajarnya dengan khusyu membaca buku.

Ting

Suara pesan masuk terdengar dari ponsel Fani.

Fani yang tadinya sedang khusyu dengan sebelah tangannya Fani mengambil ponsel itu.

081*********
"Maaf tadi bukan aku yang memberikannya".

Fani menatap pesan itu dengan dahi berkerut nomornya sama seperti nomor orang yang kemarin malem.

Buru buru vani membalas pesan dari lelaki misterius itu.

"Lo siapa?"

Fani menunggu pesan itu dibalas.

5 menit tidak ada jawaban sama sekali.

"Ih lama banget"batin Fani kesal.

081*********
"Kalau lo pengen tau datang besok ketaman sekolah"

"Taman sekolah"batin Fani.

Fani tidak membalas lagi lelaki itu.Fani menutup buku tulisnya dan melangkah kearah kasur.

Fani merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu sambil melamun.

"Siapa sih orang itu"ucap Fani.

"Ih kenapa gue jadi mikirin lelaki itu sih,bodo ah mening gue bobo cantik aja"ucap Fani memenjamkan matanya.

************

Pagi yang cerah seperti seseorang yang sedang berdiri di cermin sambil membenarkan baju seragamny.

Dia Fani.Fani memoles wajahnya dengan bedak tipis tak lupa juga Fani menambahkan sedikit liptin kepada bibir kecilnya dengan rambut yang digerai dengan bando polos sebagai aksesoriasnya.

"Pagi mamah"teriak Fani.

"Jangan teriak teriak ini bukan hutan"ucap hana menata piring.

"Hehe"Fani menampilkan deretan gigi putihnya.

"Mah,kemana papah"tanya Fani duduk disebelah kursi papahnya.

"Udah pergi kekantor"hana menuangkan nasi goreng dipiring Fani.

"Oh"singkat,padat dan jelas Fani.

Fani dan hana sarapan tanpa ada yang membuka suara hanya ada suara piring dan sendok.

"Mah,Fani sekolah dulunya"pamit vani.

"Iya"

"Assalamu'alaikum"Fani mencium tangan hana.

"Waalaikum salam".

Fani berjalan kearah halte bis Fani malas kalau harus membawa mobil.

Setelah menempuh sekitar 6 menit Fani sampai disekolah praha sekolah tercinta Fani.

Fani melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah yang menjulang tinggi itu.

CINTA TANPA JUDULTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang