Hei, kalian. Selamat malam. Selamat Februari. Bagaimana Januarinya? Was it good?
Sherlock belum sembuh btw. Ada spare part yang harus diganti. Sementara saya nggak mau laptop baru. Kenangan bertualang sama Sherlock udah terlalu banyak. Paling besok bisa dibawa pulang. Atau lusa. So, chapter spin off ini saya tulis ulang via hp dengan mengandalkan ingatan saya tentang outline spin off nya. Saya berusaha biar nggak bikin kecewa.
Banyak typo koreksi saja. Jangan sungkan.
Ini melanjutkan kejadian yang di pulau karang itu yah. Selamat menikmati.
Lagu: Break My Heart Again by Finneas.
***
***
Chapter Spin off.
Ombak berdebur dengan bahasa yang sulit diterjemahkan. Membentur pulau karang besar yang bercokol di tengah lautan itu. Gelap. Dua sosok sedang duduk di tepiannya. Memisahkan diri dari perkumpulan yang sebenarnya tak kalah penting untuk diikuti. Namun kali ini ada ego yang harus diadukan dengan ombak dan bagaimana ia dengan kerendahannya harus ditenangkan pula di saat yang sama. Di mana-mana ego selalu berbicara dengan bahasa yang semaunya. Menuntut untuk dimengerti tapi bicara selugas itu pun enggan. Ego lebih cadel dari bahasa bayi. Ego lebih cewek dari cewek.
Rosie duduk menghadap laut lepas. Kedua tangannya melipat pada lutut. Di sebelahnya Bahri membiarkan satu tanduknya menyala dengan perasaan ketar-ketir.
"Is this you, or just your ego?" tanya Bahri. "Bukan di waktu yang tepat lo bersikap kayak gini."
"Ya udah sana lo pergi. Ngapain ke sini," jawabnya dingin. "Gue udah males sama lo."
"Inget nggak terakhir lo ngomong kayak gini, besoknya lo nggak mau ngomong sama gue. Alasannya karena gue beneran pergi pas lo minta gue pergi."
Hidung Rosie bersuara. "Kali ini gue oke." Sekali lagi ego menginisiasi cewek untuk berkata begitu. Dan, bahasa ego kadang terbalik. Tidak perlu kamus untuk memahami. Cukup lihat saja sisi gelap dari yang tak tersentuh terangnya kejujuran.
Bahri bergeser sampai jarak duduknya lebih dekat dengan Rosie. "Jangan bikin gue bingung dong," ujarnya pelan.
"Lo yang bikin gue bingung!" tukas Rosie. "Kenapa sih?" Rosie menoleh. "Inget ya ini udah seratus tahun yang lalu sejak gue jujur suka sama lo. Dan lo nolak gue. Terus setelah itu gue memutuskan untuk membuat jarak dengan cara berbaur sama manusia. Ngasong perasaan yang aneh banget karena di saat yang sama gue harus tetap berdampingan sama lo demi satu misi besar. Dan dari semua rahasia yang nggak pernah lo katakan ke gue, lalu kenapa lo buka satu rahasia lain di depan anak-anak tadi?"
"Rahasia yang mana?"
"Tau," Rosie menoleh lagi ke arah lain.
"Soal gue yang tahu kapan gue mati?"
Rosie tidak menjawab.
"Kalau yang lo maksud emang itu, ya gue memang baru punya waktu untuk bilang."
"Kenapa nggak bilang ke gue dulu."
"Karena-."
"Karena gue bukan siapa-siapa lo, oke fine."
"Karena gue tahu lo bakal kayak gini."
"Enggak, Bahri. Kalau gue tahu lebih awal atau jauh-jauh masa. Gue bisa mempersiapkan. Bukan kayak gini, lo baru ngasih tahu di saat situasi lagi banyak gentingnya. Oke, gue emang bukan siapa-siapa lo. Nggak perlu diingetin gue juga udah sadar diri. Tapi lo ngerti juga kan di antara semua makhluk yang ada di bumi ini, satu-satunya jiwa yang paling peduli sama keberadaan lo, yang membuat lo menemukan alasan untuk tetap bertahan, ya cuma gue," Rosie terus terang. "Dan lo masih mempertimbangkan buat ngomongin ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Girl From Tomorrow [COMPLETE]
Ficção Adolescente#𝕱𝖆𝖓𝖙𝖆𝖘𝖎 #𝐒𝐢𝐜𝐤𝐥𝐢𝐭 Juno tidak punya banyak pengalaman soal cinta. Tapi begitu dia jatuh cinta dunianya ikut jatuh semua. Si Ganteng kalem yang melankolis ini tak pernah menyangka akan terjebak dalam cinta yang begitu fantasi. Cinta mema...
![The Girl From Tomorrow [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/205378197-64-k178428.jpg)