"Beli apa aja, Cei? Sampe malem gini." Tanya Rain memecah keheningan dalam mobil itu.
"Eh, enggak beli banyak kok. Tadi sempet main-main dulu di Mall makanya sampe malem."
"Ohh, gue ajak mampir makan dulu mau nggak?"
"Nggak usah, Rain. Gue udah jajan banyak juga tadi sama Adiba. Jadi masing kenyang, hehehe." Ceisya nyengir kuda.
"Suka jajan kamu yaa," Canda Rain.
"Hehehe, dikit."
Rain tertawa ringan. Kemudian mereka saling diam lagi.
Ceisya benar-benar merasa sedang bersama dengan orang asing. Atau karena dia sudah terbiasa dengan Bimo sejak masuk SMP. Ceisya pikir-pikir Bimo dengan Rain terdapat banyak perbedaan yang membuat dirinya saat bersama Rain terasa seperti bersama orang asing. Kalau Bimo yang terbiasa bertindak langsung atas keputusannya, sedangkan Rain bertindak saat mendapat persetujuan. Seperti soal mampir untuk sekedar makan. Bimo biasanya akan mengajak Ceisya makan tanpa bertanya Ceisya setuju atau tidak, bagi Bimo kalau sudah jamnya makan ya mau tidak mau harus makan. Dan yang membuatnya merasa senang saat dengan Bimo adalah, Bimo tidak akan membuat suasana menjadi sepi. Walaupun Bimo menyebalkan, tapi Bimo mampu membuatnya tertawa kembali saat sedang kesal atas ulah tengilnya. Berbeda dengan Rain. Dia malah terlihat betah saat hening seperti sekarang ini. Apa mungkin karena mereka belum lama kenal. Tapi waktu pertama kali kenal dengan Bimo, Bimo tidak sependiam Rain. Dia terus berceloteh tidak jelas hanya untuk mengenal dirinya lebih jauh sewaktu pendaftaran SMP.
Rain mengerem mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah. "Cei,"
Ceisya menoleh ke Rain. "Ya?"
"Kata si Udin lu deket banget ya sama Bimo?"
Udin adalah salah satu anggota geng yang dulunya di ketuai Bimo, dan sekarang di ketuai olehnya sendiri.
"Umm… Mungkin. Nggak tau juga gue. Gue kira Bimo cuma bocah iseng yang minta kenalan sama gue waktu MOS SMP abis itu nama gue di lupain. Ternyata setelah perkenalan itu, hari-hari gue nggak luput dari seorang bocah tengil kayak Bimo itu." Tanpa sadar Ceisya tersenyum senang saat menceritakan hal itu.
"Ohh, gitu ya?"
"Iya. Btw, kok lu bisa kenal sama mantan geng Bimo? Dan waktu di depan gerbang sekolah itu, Rio mengaku kalo lu ketua mereka sekarang."
"Gue juga nggak tau kalau dulunya mereka satu geng dengan Bimo." Rain pikir Ceisya tidak tahu apa-apa soal urusan geng Bimo dulu dengan dirinya sewaktu kelas 10. Jadi dia bisa membodohi Ceisya tentang masalah ini.
"Hah? Serius nggak tau?"
"Iya serius."
"Wah, kurang update lu soal anak-anak nakal kayak Bimo." Ceisya terkekeh.
"Udah tau nakal kok mau deket-deket Bimo terus?"
"Dia nggak pernah nakalin gue kok."
"Masa’? kok---" Mata Rain tidak sengaja menatap kaca yang mengarah ke belakang, membuat dirinya terfokus pada kendaraan yang di belakangnya. Senyum devil kini menghiasi wajahnya saat menyadari bahwa sedari tadi ada orang yang tengah mengikutinya. Bimo dan Adiba.
"Rain?" Panggil Ceisya yang merasa aneh tiba-tiba ucapan Rain terhenti dan digantikan senyum yang tidak dapat di mengerti oleh Ceisya.
Rain mengacuhkan Ceisya. Ia malah sibuk dengan ponselnya sekarang.
"Rain, ada apa?"
"Eh, sorry. Sampe mana tadi?" Jawab Rain setelah kesibukan dengan ponselnya terselesaikan. Bertepatan saat lampu berganti hijau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ceisya-yang
JugendliteraturBimo Arkhan Maulana. Cowok tengil yang suka mengganggu sahabatnya sendiri. Namun Bimo paling tidak suka kalau ada orang lain yang ganggu sahabatnya itu. Namanya Ceisya Alleya. Cewek yang entah kapan akan sadar kalau sahabat cowoknya itu sudah mengkh...
