Selamat membaca!
Kemaleman lagi ya updatenya? Maaf :(
Wildan tidak terlihat lagi dalam pandangan indera penglihatnya, mobil yang berada dalam kuasa suaminya itu sudah menghilang di balik pagar yang menjulang tinggi.
Hanum lantas merapikan bentuk kerudungnya yang sedikit berantakan setelah menyandarkan kepala di pundak Wildan, lalu memutar tumit ke belakang, melangkah masuk ke dalam bangunan Rumah Sakit yang sudah terlihat ramai oleh para perawat dan pasien yang sedang berobat.
Kedatangannya disambut hangat oleh beberapa penjaga yang tengah bertugas di depan pintu, namun sayangnya perlakuan baik itu tidak Hanum dapatkan dari Jia, istri dari Alan itu menerima kehadirannya dengan tatapan tajam menelusuk.
Jia sedang berdiri di tempat penukaran obat, menemani Alma yang sedang bekerja di dalam, sibuk dengan setumpuk kertas berisi resep yang gaya tulisannya khas dari Dokter.
Hanum yang suasana hatinya dalam keadaan berduka pasca kepergian Wildan hanya memberikan sapaan kecil, perempuan itu menarik kedua sudut bibirnya sedikit sebelum meneruskan langkah melewati kedua sahabatnya yang masih diam di tempat.
Alma dan Jia saling bertukar pandang dengan kening berkerut, tidak biasanya Hanum bersikap demikian.
Samar-samar Hanum bisa mendengar pembicaraan mereka, "ya sudah, aku duluan ya, Al." izin Jia pamit meninggalkan Alma.
Hanum berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit dengan wajah yang murung, melewati pintu demi pintu tanpa gairah, kepergian Wildan seakan membuat separuh dari bagian hidupnya hilang.
"Wildan mana, Num?" tanpa mengucap salam tahu-tahu Jia sudah berada di sebelahnya, berjalan berdampingan.
Hanum diam tak bersuara, pikirannya masih sibuk mengingat kebersamaan singkat yang ia lalui kemarin dengan Wildan.
"Sikap dia sama kamu baik-baik aja, kan? Awas aja kalo dia jahat! Ak bak—"
"Wa'alaikumussalam." potong Hanum tidak menjawab pertanyaan Jia.
Jia tersenyum tanpa dosa. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Hanum menjawab tanpa berpaling.
"Kamu kenapa, Num? Nggak biasanya begini?"
"Aku nggak papa,"
"Wildan kemana, Num?" Jia masih dilanda perasaan ingin tahu.
"Kerja,"
Jia terperangah, baru kemarin ia mendengar kabar dari Hanum kalau Wildan kembali pulang, dan sekarang laki-laki itu pergi lagi? Jia tak habis pikir.
"Lagi?"
"Iya,"
Dengan gerakan cepat Jia menghalang gerakan Hanum, menghentikan langkah di depan sang sahabat. "Kok bisa? Kata kamu kemarin dia cutinya beberapa hari."
"Mungkin karena dia kesal habis dimarahin kamu." ucap Hanum asal sebelum melanjutkan langkahnya melewati Jia yang belum mencerna perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Madu (TERBIT)
General FictionApa yang akan kau rasakan begitu mengetahui suami yang kau cintai sepenuh hati ternyata memiliki perempuan lain di luar sana? Sakit? Tentu! Itu yang Hanum rasakan begitu mengetahui jika Wildan, suaminya yang sedang bertugas di luar kota didapati mem...
