8. Perubahan mendadak

50.5K 3.3K 55
                                        

Selamat membaca!

   "Sarapannya sudah siap, ayo makan." dengan sebuah celemek bermotif polkadot yang merekat di bagian depan tubuh tegapnya, Wildan bersandar di tepi pintu, menunggu respon dari Hanum—istrinya.

"Iya, mas."

   Setelah menyingkap selimut berbahan katun yang membungkus setengah tubuhnya, Hanum bergeser ke tepi kasur.

   Hanum tidak ada niat untuk menutup panggilan dari Jia, ia ingin membiarkan mereka tetap terhubung, agar sahabatnya itu tahu apa yang menjadi alasan utamanya tidak dapat pergi bertugas hari ini.

"Dari siapa?" sambil melangkah masuk, Wildan melirik sekilas ke arah sebuah ponsel yang ada di dalam genggaman tangan kanan istrinya.

"Jia, mas."

"Jianya Alan?" tanya Wildan membenarkan.

"Iya,"

   Wildan tampak antusias, "Alannya ada?" Hanum mengedikkan kedua sisi pundaknya tanda tak tahu, ia dan Jia baru bertukar kata via telepon dalam rentang waktu kurang dari semenit, belum ada topik yang mereka bicarakan, bahkan pertanyaan Jia tadi belum Hanum beri sahutan.

Wildan tersenyum jenaka, laki-laki itu ingin melayangkan sedikit gurauan pada teman dekatnya itu, sudah cukup lama Wildan dan Alan tidak bergaul.

   Setelah Alan meminang Jia beberapa bulan silam, mereka jadi jarang bertemu, apalagi saat Wildan memiliki urusan di luar kota, tali silaturahmi yang mereka jalin sejak di bangku SMA seakan putus tanpa jejak.

Perlahan Wildan mendaratkan bokongnya di samping Hanum, "coba kamu besarkan suaranya, aku mau ikut dengar." bisiknya.

   Hanum mengangguk patuh, perempuan itu lantas mengikuti perintah suaminya untuk menyentuh gambar speaker yang ada di layar.

Wildan berdeham, "kamu bisa jalan kan, sayang? Mau aku angkat?" Wildan menawarinya bantuan dengan tuturan yang halus betul di telinga, seolah-olah sedang merelakan apa saja hanya untuk istrinya.

   Hanum tidak memberi jawaban, perempuan itu hanya diam sambil memperhatikan tingkah laku Wildan yang membuatnya ingin melahirkan rasa gembira dengan tertawa.

"Biar aku yang pegang," Wildan mengambil alih kuasa ponsel Hanum ke dalam kepalan tangannya.

   "Sayang," Wildan kembali bersuara.

"Oh jadi karena Wildan kamu nggak bisa kerja?" Jia langsung melemparkan pertanyaan dengan nada tinggi yang sontak membuat tawa mereka pecah, bahkan Wildan sampai memegang perutnya yang terasa sakit.

   "Kenapa Wildan ketawa? Jangan bilang suamimu itu ikut dengar?" tuding Jia, Hanum tidak bisa membantah.

   "Iya, dia dengar. Maaf ya, Jia?" Hanum terpaksa mengaku.

"Nyebelin banget sih kamu, Num! Ya sudah aku mau kerja dulu! Ass—"

"Tunggu!" tahan Wildan, laki-laki itu lantas mengirimkan permintaan pada Jia untuk mengubah panggilan suara menjadi panggilan video, sesaat kemudian wajah kesal Jia memenuhi layar ponselnya, lengkap setelan pakaian kerja berwarna putih yang ia kenakan.

"Apa?!"

"Jangan marah, kami minta maaf."

"Iya dimaafin! terus kenapa mau video call? Aku nggak mau ya kalau jadi nyamuk aja di sini! Mending aku nugas! Kalian kayak orang baru kenal cinta aja, aku geli banget liatnya." Jia menampakkan wajah jijik pada Hanum dan Wildan, bukan Jia namanya kalau tidak banyak banyak.

"Kan kamu punya Alan," kini giliran Hanum yang bersuara.

"Jangan bahas dia dulu! Aku lagi ngambek!" sambil memajukan bawah bibirnya Jia mengalih pandangan ke samping.

"Memangnya Alan di mana? Jangan-jangan dia sudah bosan sama kamu."

"Jangan tanya Alan! Tanya diri kamu sendiri! Kemana aja?! Nggak ada tanggung jawab banget jadi suami! Kalo kerja itu juga ingat istri di rumah! Asal kamu tahu dari kemarin Hanum uring-uringan karena kamu nggak ada kabar, kamu itu hilang seolah nggak ada siapa-siapa yang cari kamu, kamu sadar nggak sih?!" entah keberanian dari mana Jia mampu membentak Wildan panjang lebar, perempuan itu tidak bisa membendung kekesalannya lebih lama lagi, suduh cukup Hanum dibuat murung oleh Wildan.

Mendadak Wildan mematikan kameranya dari Jia, rahang laki-laki tampak mengeras, Hanum bahkan sampai terperangah melihat reaksi dari suaminya yang sangat menyeramkan, Wildan tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.

"Di-sms nggak dibalas! Ditelpon juga nggak diangkat! Sesibuk apasih kamu, Dan?! Kalo kamu nggak bisa rawat Hanum, biar aku yang bawa dia kesini! Kamu itu nggak bec—"

Hanum kembali tertarik ke realitas begitu Wildan menutup panggilan secara sepihak, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, Jia pun belum selesai mengeluarkan suara.

Dengan wajah dingin Wildan menyimpan ponsel Hanum ke dalam kantong celananya.

Suasana berubah canggung, tidak ada diantara mereka yang membuka mulut, Hanum masih tidak menyangka akan perubahan Wildan yang begitu cepat.

Dalam hati Hanum berpikir keras, seorang laki-laki yang kedua bola matanya lihat sekarang seakan bukanlah Wildan—suaminya.

   Wildan yang Hanum kenal tidak seperti ini, Wildan yang ia kenal adalah seorang laki-laki yang seperti tidak mengenal kata amarah dalam hidupnya, selama ini Wildan selalu menerapkan kata sabar dan ikhlas dalam hidupnya.

   Tapi kenapa Wildan bisa seperti ini? Apa yang mampu membuat suaminya berubah?

   "Ya sudah, ayo kita makan sekarang." tanpa menoleh ke belakang Wildan bangkit berdiri, lalu berjalan meninggalkan Hanum yang masih mematung di atas kasur.

   Namun saat tersadar Hanum segera mengikuti punggung lebar suaminya ke meja makan.

   "Maaf ya seadanya?" mendadak Wildan kembali berubah normal, pandai bersandiwara seperti tidak ada yang salah pada mereka, "aku hanya goreng ikan tadi." kening Hanum berkerut, laki-laki itu memperlakukannya bagai seorang putri, dari membantunya duduk dengan menarik kursi ke
belakang, sampai mengambilkan sesendok nasi ke atas piring.

   "Ayam yang kamu buat kemarin juga masih ada mentahnya di dalam kulkas, jadi aku goreng juga." sambung Wildan terlihat begitu tenang, laki-laki itu lalu duduk di samping Hanum.

   Hanum hanya diam tidak memberi respons, bingung dengan situasi yang tengah ia hadapi sekarang.

   "Kamu mau lauk apa? Ikan atau ayam?" tanya Wildan mengangkat sebelah alisnya.

   "Ikan aja, mas." jawab Hanum seperlunya.

   Setelah piringnya terisi penuh oleh panganan, Hanum mencoba menarik piringnya dari genggaman Wildan, namun laki-laki itu seakan tidak ingin melepaskannya begitu saja.

   "Kenapa, mas?" entah sejak kapan Hanum merasa risi begitu mendapat tatapan Wildan yang disertai sebuah senyuman tipis.

"Mau disuapin?"

Hanum tersenyum kikuk. "aku bisa sendiri, Mas makan juga kan?"

   "Iya, sayang." jawab Wildan sebelum mengambil sedikit nasi dan lauk untuk dirinya sendiri, setelah menyantap makanan olahan istrinya beberapa jam lalu, rasa kenyang masih terasa di perutnya.

   Hanum dan Wildan menikmati makanannya masing-masing dalam sunyi, hanya kicauan burung dan suara ayam berkokok yang terdengar di telinga.

   Raga Hanum memang ada di meja makan, duduk berdampingan dengan Wildan, namun rohnya seakan bergerak liar, kejadian di kamar tadi menyisakan rasa tidak tenang di dalam hatinya.

Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa di bagian berikutnya! Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote atau comment, ya!

Wildan emang baik, ya? Lemah mebut orangnya🤭

Madu (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang